Hari itu semuanya berjalan normal sebagai mestinya, aku yang selalu terburu untuk datang tepat waktu hal ini mungkin mejadi penyebab akan kecerobohan dan ketidak beraturan yang secara tersurat menempel pada keberadaanku. Tak ada harapan apapun, juga tak ada pertanda apapun, kita bertemu hari itu di tangga depan perpustakaan tua. Tak ada sapaan, hanya tatapan dan saling lemparkan senyuman sebelum akhirnya moment tadi menguap karena kesibukan.
Kemudian beberapa tahun terlewat begitu saja, pertemuan pertama sudah menjadi kenangan berdebu yang mungkin sebentar lagi dienyahkan oleh waktu, tapi entah bagaimana cara alam bekerja. Tidak ada lagi pertanda juga tidak ada lagi tangga perpustakaan tua, aku berdiri didepan kelas yang berada di tangga pojokan sambil mengucapkan sepersekian bualan tentang perekonomian. aku tak tau kau melihatku disana sambil berbangga atau fokus pada kegiatanmu lainnya. dengan cepat pertemuan kedua kita diakhiri lagi tanpa meninggalkan memori yang berarti, kita masih beranggapan sebagai orang yang berlalu lalang, berpapasan kemudian menghilang.
Memikirkan kembali, cara kita membangun cerita tidaklah biasa, tidak ada pertemuan, tidak ada senyuman mengembang bahkan tidak ada suara yang terucapkan. Tangan kita yang bekerja saling mengirimkan kabar satu atau dua diselingi candaan-candaan kecil yang entah kenapa sekarang bagiku begitu bermakna. Kita bertahan tanpa melakukan pertemuan hingga berjaln 24 bulan, waktu yang cukup untuk anak bayi berbicara bukan?.
Setidaknya begitulah realita, kita mulai bertatap muka. mesikupun belum ada bahasan mengenai perpustakaan tua atau ruang kelas dipojokan tangga. setidaknya kini hubungan kita tidak terbatas pada maya. aku kini bisa menceritakan soal dosa hingga palung mariana dan nyamanku kau selalu mendengarkan dengan seksama. sekalipun pertemuan kita tidak pernah masuk pada agenda tapi kadang itulah yang aku suka, kita tak pernah bisa dikira-kira.
Setidaknya itulah kisah yang ingin kusampaikan hari ini, kisah bagus harus disampaikan dengan serius bukan? biarkan aku merangkai kata terlebih dahulu agar nyaman untuk dicerna, yang jelas pada akhir cerita ini aku hanya ingin mengingatkan, untuk orang baik sepertimu kumohon jangan pergi terlalu dini, karena dirimu itu berarti.
YOU ARE READING
The Prison Boy (Lelaki Yang Terpenjara)
Non-FictionKumpulan dari diari seorang laki-laki yang terjebak, terjebak pada perasaannya, pada keyakinannya, dan bahkan pada hidupnya sendiri.
