"Ayolah, Fa. Ini tuh bisa jadi salah satu cara agar karya lo dikenal banyak orang." Gadis tomboy yang sekarang duduk bersila di atas kursi lagi-lagi membujuk sahabatnya.
"Nggak, gue nggak minat," jawab gadis lain dengan rambut dicepol asal.
"Buat apa sih emang tiap hari lo ngelukis ber jam-jam cuma buat menuhin kamar lo doang? Karya lo juga butuh diapresiasi kali."
"Gue nggak butuh apresiasi dari siapapun."
Gadis tomboi tadi menggeram kesal. Lalu beranjak menuju salah satu lukisan—potret seorang lelaki yang mengarahkan kameranya pada kereta yang melintas—yang disandarkan pada dinding.
"Nih, lukisan yang ini pasti banyak banget maknanya. Ikutin ya, yang ini aja deh satu nggak papa." Sekarang ia berubah memohon.
"Apapun lukisan yang gue buat dan berkaitan dengan Hara, nggak akan boleh ada yang memilikinya." Kecuali gue. Walau pada kenyataannya, gue nggak pernah benar-benar bisa memiliki Hara. Lanjutnya dalam hati.
"Hara lagi, Hara lagi! Udah hampir tiga tahun Fa! Dan lagi-lagi, lo menyiksa diri lo sendiri! Hafa yang gue kenal dulu nggak begini," lanjutnya lirih diakhir kalimat.
"Lo nggak tahu apa-apa! Jadi stop bicara soal itu!"
Meiza—gadis tomboi dengan potongan rambut cepak itu menyugar rambutnya ke belakang. Sentakan napas kasar jelas terdengar di telinga Hafa.
Sekarang Hafa sadar, ucapannnya tidak serta merta benar.
Kekehan ringan terdengar dari mulut Meiza. "Lo salah Fa. Kalo yang lo maksud itu soal kehilangan, lo ngomong sama orang yang salah." Meiza kembali melangkah ke arah Hafa. Tepat di hadapan Hafa, Meiza melanjutkan kalimatnya. "Dari kecil, gue udah hidup sebatang kara. Di saat terakhir, gue bahkan nggak bisa meluk jasad mereka yang sampai sekarang nggak pernah ditemukan di laut. Gue nggak bisa kunjungi makam mereka kalo gue kangen, bahkan satupun foto mereka gue nggak punya.
"Yang bisa gue lakukan apa? Gue cuma bisa datang ke laut, mengenang ingatan yang tak pernah utuh bersama mereka. Dan gue selalu berharap mereka bahagia di sana."
Meiza menghapus kasar air matanya yang mengalir tanpa bisa ia cegah. "Kalo lo ada di posisi gue, lo belum tentu sekuat gue, Fa." Tanpa pamit, Meiza menerjang bahu Hafa lalu keluar begitu saja.
Hafa yang menyadari itu kembali dilanda sesak. Benar, jika ada di posisinya mungkin ia tak akan sekuat Meiza. Gadis itu terduduk, memeluk kedua lututnya dengan punggung bersandar pada ujung ranjang. Ia terlalu fokus pada sakitnya. Ia terlalu fokus pada lukanya. Hafa lupa, Hafa bahkan menutup mata pada orang-orang terdekatnya yang mencoba membantunya untuk bangkit.
YOU ARE READING
Sisi Seberang
Teen FictionSketchbook bercorak bunga aster yang Ravan temukan di bangku kereta membawanya bertemu dengan gadis aneh bernama Hafaza Sazia. Ravan pikir sketchbook itu berharga untuk gadis itu. Dirinya rela hampir telat demi mengembalikan benda itu pada pemilikny...
