"Gizka, tungguin gue dong!" seru Fito.
Hari itu, kami sedang ada rapat osis untuk mempersiapkan pensi tahunan di sekolah. Kami hampir telat karena kebiasaan Fito yang mandinya super lama. Untungnya, bis sekolah masih sabar nungguin aku dan Fito. Kami sampai di sekolah satu menit sebelum rapat dimulai, bayangin detak jantungku seperti apa. Pembagian tugas sudah selesai. Tugas aku dan Fito tidak sama, kami berpisah untuk kali ini. Aku bertugas mencari sponsor untuk pensi, sedangkan Fito bertugas untuk menjaga keamanan "garage sale" yang akan dilaksanakan setiap hari Sabtu dan Minggu di sekitar Bundaran Hotel Indonesia.
Oh iya, aku belum memperkenalkan diri ya? Baik, saatnya memberi tahu kalian tentang diriku. Aku Gizka Ainayya. Panggil saja Gizka. Aku berada di kelas 2 SMA, sudah bisa memperkirakan umurku, kan? Kata teman – temanku, aku itu orangnya pendiam tapi mudah bergaul, sulit ya membayangkannya? Apalagi aku. Menurutku sih, aku biasa – biasa saja. Pendiam tidak, mudah bergaul juga tidak. Aku punya sahabat yang nyebelinnya tingkat dewa. Namanya Fito. Fito Hamizan. Dia adalah sahabatku sejak kecil. Orangtua kami sudah bersahabat sejak kuliah. Oleh karena itu, kami sudah seperti keluarga. Dekat sekali. Rumah aku berada di samping rumah Fito, jendela kamar kami juga berhadapan. Kami merupakan anak tunggal. Pasti menurut kalian kami cocok, padahal tidak. Sifat kami sangat bertolakbelakang. Fito yang hobinya main PS tapi pintar biologi, kimia dan sejarah Indonesia, sedangkan aku mantan anak basket dan hobiku sekarang membaca novel tapi hanya suka matematika dan fisika saja. Tidak nyambung, ya? Ya sudah, aku harap kalian mengerti dengan jalan ceritaku ini.
Setelah rapat dan pembagian tugas selesai, semuanya pulang kecuali ketua osis beserta asisten – asistennya. Aku dan Fito mampir ke toko buku dulu untuk membeli novel keluaran terbaru. Sebenarnya aku saja sih yang beli, Fito hanya menemani saja. Setelah membeli novel, kami pulang naik bis sekolah. Seperti biasa, aku main dulu ke rumah Fito karena di rumahku juga hanya ada bibi saja, orangtuaku sedang menghadiri acara kantor. Di rumah Fito juga begitu, tidak ada siapa – siapa kecuali Bi Imah karena orangtua Fito sedang ada pekerjaan di luar kota. Keseharian kami memang seperti ini, sering ditinggal orangtua, tapi kami tidak pernah kesepian.
"Fito, kamar lo kotor banget sih! Dasar jorok!" teriakku kepada Fito.
"Ya, gimana ya Giz, namanya juga anak – anak," kata Fito sambil tertawa.
Kebiasaan, kalau dibilangin selalu dijawab dengan candaan. Aku membantu Fito untuk membersihkan kamarnya. Sesudah itu, aku langsung merebahkan badanku di kasur Fito, sedangkan Fito lebih memilih untuk main PS sambil teriak – teriak tidak jelas. Di sela – sela dia main PS, aku bertanya :
"Rasanya jatuh cinta itu gimana ya?" tanyaku spontan. Aku juga bingung mengapa aku bertanya seperti itu, tapi tiba – tiba Fito memasang muka terkejut dan langsung memegang jidatku sambil balik bertanya, "Lo sakit ya Giz? Ada angin apaan tiba – tiba lo nanya kaya gitu?"
"Gatau gue juga, kepikiran aja gitu tiba – tiba. Lo pernah gak To jatuh cinta?" tanyaku sambil memasang muka penasaran.
"Kalo gue pernah, pasti gue udah cerita sama lo, Giz," jawab Fito santai.
"Iya juga sih, ya kali aja lo diem – diem jatuh cinta sama cewek tapi malu cerita sama gue, hahaha," kataku meledek Fito.
"Apaan dah lo, sok tau abis. Lagian kenapa sih? Lo pengen ngerasain atau emang udah jatuh cinta?"
"Ya enggak, gue cuma nanya aja. Emang gak boleh?"
