#1 The Flying Falcon

83 2 1
                                        

Rumah kecil itu selalu sepi, tapi hari ini... lebih diam dari biasanya.

Piring kosong masih ada di meja makan. Dua gelas, tapi cuma satu yang dipakai.

Sendoknya penyok di bagian ujung, dan piringnya sudah retak halus membentuk garis seperti sarang laba-laba.
Meja makan dari kayu kusen lama, satu kakinya diganjal batu bata.
Di atasnya cuma ada sebungkus nasi sisa semalam, dibungkus koran buram bertuliskan iklan rokok.

Dains duduk diam di kursi plastik yang sudah miring sebelah. Sandarannya patah, tapi dia tetap duduk di situ tiap hari, tempat terakhir ia lihat ibunya sebelum semua berubah.

Dinding dapur terbuka sedikit, menggantung tirai lusuh warna hijau muda yang berkibar lemas terkena angin sore.
Tidak ada suara TV, tidak ada aroma masakan. Hanya suara detak jam tua yang telat dua menit dan bunyi cicak di langit-langit yang berderit.

Dains kecil duduk di bawah jendela, memeluk lutut. Di tangannya, sehelai syal kusut yang masih bau parfum bunga.

Ibunya baru pulang dari pasar. Dains, yang saat itu baru pulang sekolah, mendengar suara langkah dan suara yang hangat memanggil dari depan.

"Dains... Ibu pulang. Tolong bantu bawain belanjaan, ya."

Ia langsung ke pintu depan, meraih kantong plastik dan koper sayur dari tangan ibunya. Senyum ibunya tipis, tapi hangat. Di tangannya ada benda kecil yang dibungkus plastik bening.

"Ini Ibu beliin mainan. Pas lewat bandara tadi ada parade militer. Ibu lihat ini dan langsung kepikiran kamu."

Dains melihat isinya, mainan pesawat tempur kecil. Warna abu-abu metalik, sayapnya lebar.

"Wah... pesawat, Bu?" Dains terkekeh kecil. "Kayak anak kecil aja, yaudah kukasih ke kamar aja dulu."

Ia berjalan ke kamar, meletakkannya di atas rak buku kayu kecil. Di dinding, ada coretan tangan Dains yang menggambar langit dan burung-burung.

Dia hidup di salah satu negara Asia Tenggara, Albertia, negara berdaulat yang pulaunya lumayan dekat di antara Indonesia dan Australia. Dains hidup sangat sederhana dan kondisi finansial keluarganya memang sedang ambruk. Bapaknya hanya menjadi kuli bangunan, dan Ibunya bekerja sebagai karyawan gudang garam. Orangtuanya hanya sanggup membelikan dia handphone touchscreen lawas beresolusi rendah, tapi itu sudah cukup baginya untuk mengakses berbagai media dan informasi.

.

Malam datang cepat, menelan langit dengan kabut tipis dan warna hitam kebiruan.

Lampu ruang makan rumah Dains meredup bola lampunya sudah tua, kedip-kedip setiap beberapa menit.Di atas meja: sepiring nasi, sepotong tempe goreng, dan semangkuk sayur bening yang lebih banyak air daripada isinya.Mereka makan bertiga. Tak banyak bicara. Hanya suara sendok bertemu piring.

Di latar belakang, televisi tua menyala. Gambarnya bergaris, warnanya terlalu kontras. Tapi suara berita masih terdengar jelas:"...hingga malam ini, ketegangan di wilayah perbatasan utara Albertia dan Ehrlich belum mereda. Laporan terbaru dari Menteri Pertahanan menyebutkan bahwa-"

"Sstt," Ayahnya menoleh, menatap layar dengan kening berkerut.Dains ikut menoleh, tangan masih memegang sendok yang belum sempat menyentuh nasi.

Di layar, video drone memperlihatkan konvoi militer bergerak di gurun berbatu.Tank. Truk logistik. Pesawat pengintai."Kata para analis, kalau diplomasi gagal minggu ini, kemungkinan besar akan pecah perang terbuka dalam waktu dekat."

Ibunya menghela napas pelan, "Kalau perang lagi... harga garam bisa naik, ya?"

Ayahnya mendengus pelan. "Yang naik bukan cuma garam. Semua ikut-ikutan. Uang nggak bakal cukup."

THE ALTWhere stories live. Discover now