Kisah Cahaya dan Kegelapan

17 2 0
                                        

Dahulu kala sebelum dunia terlihat seperti sekarang seluruh semesta hanya berisi kegelapan sejauh mata memandang. Dari pekatnya kegelapan itu terbentuk setitik sinar terang yang berpendar perlahan dan seiring waktu semakin membesar membentuk sosok putih nan menerangi yang dikenal sebagai sang Cahaya. Sang Cahaya yang masih muda mulai berkelana ke penjuru semesta menebarkan aura kehidupan dan harapan di setiap sudut semesta. Langkah demi langkah sang Cahaya menciptakan kehidupan di semesta yang kosong hingga penuh akan hal-hal indah, tetapi sudah menjadi hukum alam dimana ada cahaya pasti ada kegelapan menyertainya.

Sang Kegelapan akhirnya muncul karena ada Cahaya. Keduanya bagaikan rival dengan kemampuan yang bertolak belakang. Sang Cahaya dengan kehidupannya mengisi semesta dengan berbagai hal sedangkan sang Kegelapan seperti kematian yang merenggut segalanya dan mengembalikan semesta pada kekosongan. Keduanya terus bersaing hingga bertahun tahun lamanya tanpa menunjukkan tanda siapa yang menang hingga pada suatu titik keduanya sama-sama terdiam dan sama sama melihat sesosok makhluk di depannya. Persaingan mereka berdua yang saling meniadakan itu tanpa sengaja menciptakan entitas baru yaitu sang Bayangan.

Adanya sang Bayangan seperti pagar pembatas diantara keduanya. Sang Cahaya yang mengisi semesta tidak bisa lagi terus menerus membuat hal baru begitu pula sang Bayangan dia tidak lagi bisa menghapus hasil ciptaan Cahaya sesuka hati karena ada Bayangan yang mencegahnya. Ternyata terbemtuknya Bayangan bertugas sebagai penengah diantara keduanya agar semesta selalu dalam keadaan seimbang tanpa ada sisi yang saling memberatkan. Begitulah kisah yang sering dicitakan Bibiku dari buku kisah phantasmagoria. Baginya cerita itu sudah seperti hal wajib untuk diceritakan kepada para penyihir muda sepertiku.

Perkenalkan namaku Rei Evans aku seorang penyihir tetapi menurutku kemampuanku masih di bawah rata-rata penyihir seumuranku, sebut saja sepupuku Aven dia bahkan bisa menumbuhkan tanaman di kebun gersang sendirian ya.. meskipun tidak selalu berhasil. Disini aku tinggal bersama paman dan bibiku dan tentu saja mereka berdua juga bisa sihir lebih tepatnya seorang herbologis. Di sini mereka biasa membuat obat untuk para tetangga sekitar bisa dibilang mereka sudah seperti dokter di sini. Aku merasa sangat beruntung bisa diterima menjadi keluarga oleh mereka bahkan mereka tidak membeda-bedakan antara aku dan Aven, kami berdua diperlakukan sama bahkan Aven sudah seperti adikku sendiri karena kami berdua tumbuh bersama sejak masih berusia 8 tahun. Aku tidak terlalu ingat tentang kedua orang tuaku, setiap kali aku bertanya pada paman atau bibi mereka berdua selalu diam seolah ada sesuatu yang ditutupi kalaupun memberi jawaban mereka hanya menjawab bahwa terjadi insiden yang tak bisa diceritakan saat aku masih kecil. Pada akhirnya aku tak terlalu memikirkan itu lagi dan lebih memilih untuk melupakannya karena sekarang aku sudah memiliki keluarga baru yang sayang padaku.

Sebagai penyihir aku tidak hanya menghabiskan waktu mengurung diri di menara dan belajar mantra serta meracik ramuan, aku juga punya kehidupan normal seperti orang pada umumnya seperti bermain, bekerja, bahkan bersekolah karena kami juga tidak ingin dianggap aneh oleh orang sekitar. Beruntung di kota tempat tinggalku semua itu bisa dilakukan paman bekerja sebagai dokter dan bibi sebagai petani bunga sedangkan aku dan Aven masih bersekolah di SMA dekat tempatku tinggal. Saat awal masuk SMA aku merasa takut mengingat aku dan Aven adalah penyihir di kota dan mungkin mereka akan kaget akan hal ini, untungnya tidak ada sihir yang terapal selama kami bersekolah dan semuanya aman kecuali beberapa insiden kecil karena temanku yang ceroboh akan eksperimen "kimia"nya.

PhantasmStories to obsess over. Discover now