Lee Felix, anak yang bahagia dengan kedua orang tuanya, tiba-tiba orang tuanya tertembak mati di depan matanya. Ia sangat terpukul atas kepergian orang tuanya, suatu hari terlihat dirinya sedang membeli makanan untuk dimakannya. Namun tiba-tiba mul...
Busan yang cerah, terlihat satu anak kecil yang sedang bermain dengan ayah dan ibunya yang sedang menggendong bayi.
Lee Felix, 5 tahun, Busan.
Felix menghampiri ibunya dan adik bayinya, "dia sangat lucu, aku akan sangat menantikannya tumbuh dewasa."-Felix tersenyum kepada ibunya.
"dia akan sangat menggemaskan sepertimu, Felix."-Ayahnya mencubit hidungnya.
waktu sangat cepat berlalu, Felix tumbuh dengan sangat baik. Usianya sudah menginjak 12 tahun hari ini. Benar, Felix sedang berulang tahun hari ini.
ia sangat bersemangat. "selamat ulang tahun, Felix."-Ibunya memberikannya kue dengan lilin diatasnya.
"tiup lilinnya kakak."-adik Felix tersenyum bersemangat ke arah kakaknya.
"buatlah harapan dulu Felix."-ibunya tersenyum.
Felix mengangguk, "harapanku, aku bisa selalu seperti ini. Dengan ayah, ibu dan Suno selamanya."-Felix meniup lilin yang menyala di atas kue itu.
Ruangan menjadi gelap, semuanya bertepuk tangan. Namun tiba-tiba suara tembakan terdengar, sangat sunyi sekarang. Felix segera berlari dan menyalakan lampu.
Betapa terkejutnya, melihat ayah dan ibunya tergeletak tak bernyawa dengan darah yang berlumuran. Suno yang masih berusia 7 tahun itu langsung berteriak. "IBU!!"-Suno berlari ke arah ibunya dan memeluk jasad ibunya sambil menangis.
Felix yang masih membeku melihat keadaan ini, melihat tangan ayahnya masih bergerak ia langsung menghampirinya. "F-Felix terima ini.. hadiah ulang tahunmu."-Ayahnya menahan sakit sambil memberikan satu buah kalung dan satu buah boneka berukuran sedang.
"ayah.."-Felix menggenggam tangan ayahnya dan menangis.
"jangan m-menangis Felix, ini hari ulang tahunmu."-ayahnya mengusap air mata Felix.
Felix terus saja menangis sampai ayahnya menghembuskan nafas terakhirnya. "AYAH!!"-Felix berteriak dan menangis sejadi-jadinya.
begitu juga dengan Suno yang menangis dengan keras. Tiba-tiba sekumpulan polisi masuk kerumahnya. Felix segera menyusul adiknya dan memeluknya.
salah satu polisi itu menghampiri mereka dan hendak menyentuh mereka. "jangan sentuh adikku!"-Felix menepis tangan polisi itu
"kami akan menyelamatkanmu."-polisi itu menggendong Felix dan Suno.
Felix sedikit was-was dengan polisi itu, namun polisi itu berhasil menenangkannya.
waktu telah berlalu dengan sangat cepat, Felix hidup dengan Suno di salah satu rumah yang ukurannya terbilang kecil namun cukup untuk mereka berdua.
semua biaya hidup mereka di tanggung oleh polisi, termasuk juga sekolah. Felix dan Suno terlihat sedang makan bersama, Felix sedikit teringat dengan orang tuanya yang membuat Felix merasa sedih.
ia mengambil kalung yang dipakainya dan melihat bandul kalungnya yang berbentuk rangkaian huruf cina yang bertuliskan namanya. Ia tersenyum, "ada apa kak?"-Suno melihat kakaknya dengan keheranan.
Felix memasukkan kembali kalungnya ke dalam bajunya. "lanjutkan makanmu."-Felix memasukkan sepotong roti ke dalam mulutnya.
Suno yang melihat itu semakin bingung, namun ia menghiraukannya dan melanjutkan makannya.
malam harinya, Felix tak bisa tidur. Melihat adiknya yang sudah tidur ia mengambil boneka beruang pemberian ayahnya dan menatap ke luar jendela.
ia melihat dua bintang yang sangat terang, Felix berpikir bintang itu adalah ayah dan ibunya. Suno juga ikut terbangun, ia menghampiri kakaknya dan ikut melihat pemandangan malam. Ia melihat jam sudah 00.30 dini hari.
"selamat ulang tahun kakak."-Suno tersenyum ke arah kakaknya.
Felix membalas senyum adiknya, "terima kasih."-Felix.
"aku memberikan ini untukmu."-Suno memberikan jam tangan untuk Felix.
Felix menerimanya, "tunggu.. kau tidak mencuri kan?"-Felix memandang curiga Suno.
"tentu tidak, aku menabung dari uang sakuku kak."-Suno cemberut.
Suno mengangguk dan kembali tidur. Felix melihat jam tangan pemberian adiknya, ia meneteskan air mata. "dia sudah dewasa ibu.."-Felix memandang adiknya.
keesokan harinya, mereka bersiap seperti biasa. Mereka berangkat sekolah bersama, di tengah jalan. Mereka bertemu dengan teman Suno. Suno memandang kakaknya, Felix hanya mengangguk dan Suno pergi bersama dengan temannya.
Felix berjalan melewati gang, ia tak sengaja mendengar dua orang polisi sedang berbincang.
hei kau tau tentang dua anak kecil itu?"-polisi 1
"tentu saja, aku sangat ingin tertawa karena melihat kepolosan anak kecil itu."-polisi 2
"padahal kita yang membunuh mereka, dan anaknya malah menurut ke kita? sangat lucu."-polisi 1
Felix yang mendengar itu terkejut, sangat terkejut. Ia ingin pergi dari tempat itu, namun tak sengaja ia menendang botol kaleng yang membuatnya ketahuan.
"hei hei, ada yang menguping."-polisi 1
Felix hendak berlari, namun ia ditahan oleh salah satu polisi itu.
"hei dia sangat manis, bagaimana kalau kita bersenang-senang dulu."-polisi 2
Felix memberontak, "Lepaskan aku dasar sialan."-Felix berusaha melepaskan dirinya.
"benar juga, ayo kita bersenang-senang."-polisi 1 menatap Felix dengan nafsu.
kedua polisi itu saling bergantian melepas pakaian, mereka mulai meciumi Felix. Felix sangat tak berdaya melawan kedua polisi itu. Polisi itu bergiliran melecehkan Felix yang tak bertenaga. Felix hanya bisa pasrah saat polisi-polisi bejad itu melecehkannya.
Felix pulang dengan keaadan yang tak karuan, bajunya lusuh dan muka Felix sangat dipenuhi rasa benci yang amat sangat mendalam. "kak.. ada apa denganmu?"-Suno menghampiri Felix.
Felix hanya menggeleng dan berjalan ke kamarnya. Lagi-lagi Felix mengalami peristiwa menyayat hati di hari ulang tahunnya. Malam harinya Felix keluar untuk membeli makanan, dengan badan yang lemas ia kuatkan untuk berjalan ke kedai kecil dekat sana.
Tiba-tiba ada yang membungkam mulut Felix, membuatnya tak bisa bernapas dan akhirnya pingsan.
*
*
*
hai haii
book baru hehe
padahal book satunya lagi belum selesai
hehe
timakasi
Oops! Bu görüntü içerik kurallarımıza uymuyor. Yayımlamaya devam etmek için görüntüyü kaldırmayı ya da başka bir görüntü yüklemeyi deneyin.