12. Dating in The Rain

Start from the beginning
                                    

___

"Menantuku, kau temanilah Wei Xian! Kebetulan aku ingin bertemu dengan seseorang." Bisik Xiao Ling Yu pelan. Mereka kini sudah sampai di persimpangan jalan besar, menuju pusat kota.

"Apa ini berhubungan dengan batu kabut, ayah?" Tabib Xiao mengangguk, karena Xiao Wei Xian sudah ditemani suaminya, Xiao Ling Yu memutuskan memisahkan diri untuk melanjutkan penyelidikan. Dia ingin bertemu dengan seorang teman lama, demi melacak asal benda sihir itu.

"Bagaimanapun batu kabut yang telah dimantrai keberadaannya sangat langka, aku berharap bisa menemukan asalnya. Kau tahu, jaringan antara penyihir bisa dihitung dengan jari, seharusnya tidak akan sulit."

"Baiklah, ayah! Tolong berhati-hati."

"Hm, jaga dia baik-baik, jangan pulang terlalu malam!"

Kali ini Han Wang Ji yang mengangguk. Xiao Wei Xian santai saja, ayahnya tak tahu dia ini mantan anak jalanan di kehidupannya yang lampau. Meski sudah berganti tubuh tentu saja kemampuan beladiri dan intuisinya tetap sama.

"Jadi kau ingin ke tempat seperti apa, Xiao Wei?" Tanya Han Wang Ji setelah tabib Xiao menjauh pergi.

"Entahlah, bisa kau rekomendasikan tempat paling menarik di pusat kota kerajaan Han?"

"Tentu saja, kita akan ke dermaga bulan kalau begitu. Kau pasti menyukainya!" Han Wang Ji terdengar yakin. Xiao Wei Xian mengangguk dengan semangat, dari namanya saja terdengar seperti tempat yang menakjubkan.

Dermaga bulan adalah anak sungai besar dengan air yang berwarna bening keperakan. Bukan perak karena tertimpa cahaya lain, air sungai bulan memang bersinar secara alami, meski tak begitu terang. Di ruas jalan berjejer tiang lampu dari lampion yang indah. Cahaya api lampion yang berwarna kuning lembut, meliuk bersama serpihan cahaya perak air sungai. Memang sebuah pemandangan yang memanjakan mata.

Penduduk sekitar memanfaatkan tempat ini untuk berjualan. Di sepanjang dermaga terdapat kios dan restoran, kecil sampai besar. Mulai dari mainan anak-anak, pakaian, aksesoris, makanan bahkan senjata semuanya ada. Benar jika dikatakan dermaga bulan adalah tempat terpopuler di kerajaan Han.

"Wah, indah sekali! Di duniaku tidak ada tempat seperti ini! Bagaimana air di sungai bulan bisa bercahaya?"

Xiao Wei Xian berlari kesana kemari, tak henti memandangi air sungai bulan yang berpendar lembut. Semakin lama dilihat dia semakin kagum.

"Menurut cerita sungai ini dibuat langsung oleh Dewi bulan sebagai bentuk rasa rindunya pada bumi. Airnya jernih ketika pagi dan bercahaya saat malam, agar sang Dewi selalu bisa melihatnya dari atas sana. Bagaimana suasana malam di duniamu? Apa sangat gelap?" Tanya Han Wang Ji, sembari menyerahkan sepotong permen buah.

Xiao Wei Xian menerima makanan itu, langsung memakannya begitu saja.

"Tidak juga, disana cahaya disimpan dalam sebuah bola kaca. Dengan dialiri listrik bola itu bisa bersinar terang, kami menyebutnya lampu." Jawab Xiao Wei Xian dengan mulut penuh, sambil mengunyah. Pipinya menggembung bergerak ke atas ke bawah seperti kelinci yang sedang mengerat makanan.

"Benarkah? Apa itu listrik? Apa sejenis sihir?"

Xiao Wei Xian terkekeh.

"Ahahaha, cukup sulit untuk dijelaskan. Kau tahu, ini rahasia, sebenarnya aku tidak termasuk manusia pintar. Hidupku miskin dan tidak bisa bersekolah."

"Baiklah, akan kujaga rahasiamu!" Han Wang Ji tersenyum tipis, "seperti aku menjaga rahasia kelakuanmu saat mabuk." Lanjutnya, berbisik tepat di telinga Xiao Wei Xian.

"Kau..?"

Mata Xiao Wei Xian membulat, ternyata Han Wang Ji sudah mengingat kecelakaan yang mereka lakukan saat mabuk kemarin. Dia memalingkan wajah karena salah tingkah. Kini Han Wang Ji tersenyum lebar, merasa menang telah mempermainkan Xiao Wei Xian.

"Apa Wang Yibo adalah kekasihmu? Kau memanggilku dengan nama itu."

"Hentikan, Wang Ji! Kau benar, tapi itu masa lalu. Kami sudah lama berakhir, tapi seperti orang bodoh aku belum juga melupakannya bahkan setelah kembali terlahir!"

"Aku minta maaf, ternyata nasib percintaan kita tak jauh berbeda." Han Wang Ji menyentuh bahu Xiao Wei Xian, menyalurkan rasa simpati setulus hati.

"Ahahaha, sepertinya kau benar!" Jawab Xiao Wei Xian, lagi-lagi tersenyum kikuk karena sikap Han Wang Ji yang lembut.

Tiba-tiba malam yang cerah terasa gigil karena hujan deras turun. Mereka berdua terkejut, dan seperti para pengunjung lain berdesakan lari ke teras-teras toko untuk berteduh. Suara gemericik air yang turun mendominasi di segala sudut. Udara memberat, dan hanfu yang basah membuat mereka berdua berdiri erat bersisihan, tak ingin kedinginan.

"Apa kau mau makanan hangat, mie daging?"

Xiao Wei Xian mengangkat tangan kanannya, lalu menggeleng.

"Aku sudah makan bersama ayah tadi, bagaimana jika kita pulang saja? Apa itu mungkin? Dayang Lin pasti sangat khawatir jika tahu kita menghilang."

Han Wang Ji berfikir sebentar, sebelum menyetujui.

"Baiklah." Laki-laki itu beranjak pergi ke sebuah toko. Xiao Wei Xian memperhatikannya menghilang dan tak lama kembali dengan sebuah payung besar berwarna cokelat tanah. Ketika dibuka, payung itu dipenuhi ukiran bunga kecil berwarna merah muda yang sangat indah.

"Hanya ini payung yang tersisa, kau tak keberatan berbagi denganku?" Tawar Han Wang Ji.

"Tentu saja, sudah sepantasnya saling berbagi antar teman." Beberapa anak air menetes di ujung dahi dan hidung Xiao Wei Xian ketika bicara, membuatnya terlihat mempesona, di mata Han Wang Ji tentu saja.

Mereka berdua berjalan pelan, membelah deras hujan. Air yang tumpah dari langit tak ubahnya sebuah lagu, menemani langkah sepanjang jalan. Aliran air sungai bulan masih bersinar, percikannya bahkan seperti bunga api yang memantul lalu tenggelam lagi. Xiao Wei Xian bersumpah, malam ini adalah pengalaman terindah, selama dua kali masa hidupnya.

___

*Makasih voment-nya, wo ai ni.... 🥰

Don't Marry Her [S1 End - S2 Ongoing]Where stories live. Discover now