Rayya berjalan mengelilingi koridor dengan lesu. Dia sendirian, tidak bersama Ryden yang katanya akan selalu berada di sampingnya. Yah.. memang semua perkataan lelaki itu tidaklah pantas untuk dipercayai, itu semua hanyalah omong kosong belaka.
Kembali lagi kepada keadaan dimana Rayya sedang berjalan sembari memegangi perutnya. Ah malang sekali. Sudah lapar, dahinya berdarah akibat terbentur, belum lagi ia sekarang sendirian tanpa ada teman temannya.
"Kok tumben ga ada sinyal...batre gue abis pula." Keluh Rayya
Di tengah tengah kegundahan hatinya, Rayya mendengar samar samar suara seseorang.
"Temen temen yang lainnya kemana sih?"
"Jangan tanya gue, gue juga gatau."
"Jangan judes gitu dong jawabnya!"
"Ini jadinya kita kumpul di kelas XI IPS 4?"
"Iya."
"Halah kalian ini jalannya cepetan dikit ngapa, buru anying buru. Ada jombi nanti."
Suaranya saling menyahut satu sama lain. Rayya tau siapa mereka, walau suaranya terdengar jauh, tetapi dia masih bisa mengetahui siapa pemilik ketiga suara tersebut. Mereka adalah Alea, Ardy dan juga Jaegar.
Rayya buru buru berlari guna mencari keberadaan mereka, setelahnya gadis itu memeluk Alea erat seraya menumpahkan seluruh kesedihannya. Atau keterharuannya karena berhasil menemukan temannya? Setidaknya dia tidak sendirian.
Alea terdiam, masih mencoba untuk memahami suasana. Ini benar benar Rayya ya yang memeluknya? Astaga... walau baru beberapa jam mereka terpisah tapi sepertinya Alea sudah benar benar menaruh rasa khawatir berlebihan kepada Rayya.
Setelah acara peluk memeluk, Alea melepaskan dekapannya. Diajaknya Rayya untuk berjalan menuju kelas XI IPS 4.
Tadi, sewaktu Alea membuka ponselnya, ia mendapatkan pesan dari Rafael agar mereka semua berkumpul di kelas XI IPS 4. Alasannya adalah kelas itulah kelas terdekat dari tangga, kamar mandi, dan juga ruang musik yang sangat aman untuk digunakan sebagai tempat perlindungan. Entah apa yang akan mereka bahas disana nanti.
"Tadi bukannya Rayya sama Ryden ya?" Celetuk Ardy ketika mendapati Rayya hanya pasrah tangannya ditarik oleh Alea.
Rayya mengangguk, membalas pertanyaan Ardy
"Trus sekarang Ryden dimana?"
"Gatau."
"Kok bisa kepisah sama rombongan?" Kini giliran Jaegar pula yang bertanya. Aneh saja melihat gadis kesayangan Ryden ini bisa lolos dari pantauan Ryden.
Sambil tetap melanjutkan langkahnya, Rayya memilih untuk bercerita
"Tadi tuh ada zombie yang ngejar kita. Nah gue disuruh Ryden buat sembunyi di kamar mandi, katanya disana aman. Gue pikir Ryden bakal ikut masuk kamar mandi, tapi kata dia gamau, nanti takut khilaf gitu. Jadinya yaudah gue sendirian. Udah nyari rombongan gue dimana mana ga ketemu, lagian gue juga ga bawa senjata apa apa." Terus terang Rayya, yang dibalas anggukan oleh Jaegar dan Ardy yang juga ikut mendengarkan.
Tak terasa mereka sudah sampai di depan kelas XI IPS 4, memang jaraknya tidak begitu jauh dari tempat mereka bertemu tadi. Hanya lurus sekitar 150 meter kemudian belok ke kiri. Tidak salah juga Rafael memilih kelas ips 4 sebagai tempat berkumpul. Karena mereka tau, mereka berpencar pada lantai 1, dan ips 4 berada di tengah tengah gedung.
Pintu dan jendelanya tertutup rapat. Alea mulanya ragu ragu mengetuk, sebelum pada akhirnya di dahului oleh Ardy.
"WOY, BUKAIN ADA BAGINDA ARDY!" Seru Ardy seraya menggedor gedor pintu itu
Sejenak kemudian pintu itu terbuka, menampilkan wajah malas dari Athlantas. Namun Ardy mana peduli, dia malah menerobos begitu saja tanpa memperdulikan Athlantas, hingga lelaki itu terjatuh. Malahan lebih parahnya lagi Ardy mengatakan seperti ini.
"Minggir lo bibir dower."
Waduhhh, memang parah banget banget si Ardy.
Alea yang melihat pedebatan kecil itu hanya meringis, kemudian mengajak Rayya serta Jaegar untuk masuk kedalam kelas. Dan pintu itu akhirnya di tutup lagi oleh Athla.
"Maaf telat, tadi ada beberapa zombie yang nyerang kita. Akhirnya kita sembunyi dulu." Jelas Jaegar tanpa diminta. Rafael hanya mengangguk sebagai jawaban singkat.
Tapi kalaupun dilihat lihat, jumlah orang yang berkumpul di ruangan ini masih sangat sedikit. Hanya ada Stevy, Aldo, Azura, Risa, Salsa, Amanda, Fabio, Dea, Jovan, dan beberapa teman lainnya.
"Yang lain pada kemana?" Tanya Alea mulai membuka topik pembicaraan.
Rafael mengeleng lesu, beberapa pikiran negatif telah menghantui otaknya. Ah tapi semoga saja hal itu tidak terjadi. Semoga hanya terjadi di dalam otaknya saja. Sungguh, dia merasa tidak rela apabila hal itu terjadi kepada teman temannya.
"Kenapa nyuruh kita kumpul kalo pada akhir saling diem dieman?" Pertanyaan dari Isabel itu membuat seluruh penghuni ruangan mengangguk. Itulah yang ingin mereka tanyakan sedari tadi, namun enggan karena melihat sorot mata keputus asaan dari seorang Rafael.
"Gue pikir kalian juga butuh istirahat. Gue, lebih tepatnya Amanda dan Salsa udah bawain kalian beberapa makanan, minuman serta cemilan dari kantin. Azura dan Risa udah bawain karpet dari tu buat kita tidur. Kalian ga harus 24 jam nonstop buat ngelawan zombie. Alangkah lebih baik kalo isi tenaga dulu. Gue juga tau kok kalian capek, kalo mau tidur, tidur aja dulu. Tapi maaf ga ada bantal sama selimut," Jelas Rafael. Dirinya membungkuk, meraih sesuatu di dalam kardus, kemudian membagikan satu persatu makanan bungkus kepada teman temannya.
"Makasih udah ngertiin kita, Rafael." Celetuk Yohan yang dibalas senyuman manis oleh Rafael, kemudian memakan nasi bungkusnya dengan lahap.
Melihat teman temannya yang makan dengan lahap, membuat hati Rafael sedikit tenang. Walaupun dia bukan ketua kelas, tapi tadi dia sudah berkata bahwa mereka semua adalah tanggung jawab dirinya.
"Raf, yuk makan dulu." Ucap Alea, seraya menyodorkan satu bungkus nasi dan satu botol air mineral.
"Duluan aja, gue ga laper."
"Ga laper, apa masih kepikiran?"
Benar, tebakan Alea memang benar. Rafael sedari tadi masih memikirkan teman temannya. Lebih tepatnya Izza, Althea, Ertha, dan Willy yang digigit zombie tepat di depan matanya. Dia tidak bisa menolong apapun, tubuhnya terlalu kaku untuk sekedar menerima kenyataan bahwa teman temannya telah menjadi zombie.
Rafael menunduk, merasa bersalah karena tidak bisa memegang janjinya dengan baik. Lelaki itu menangis di tengah tengah keterdiamannya.
"Gapapa Raf, memang kadang apa yang kita inginkan ga pernah sesuai sama kenyataan. Makasih ya karena udah berusaha untuk nyelametin kita semua. Selain itu, udah bukan kewajiban lo lagi. Lo keren banget. Jangan ngerasa bersalah kayak gini ya? Ayo makan dulu, istirahat juga. Gue tau lo cape banget dari tadi lari kesana kemari berusaha buat nyelametin temen temen lo." Hibur Alea, seraya mengusap punggung Rafael lembut. Alea dapat merasakan rasa bersalah yang menjalar pada tubuh Rafael. Mana lagi di dalam ruangan ini hanya terdapat 18 orang. Dan sepengetahuan Alea hanya ada 3 orang yang gugur, kemudian dimana 15 orang lainnya? Apakah mereka baik baik saja?
YOU ARE READING
Death Day
Mystery / ThrillerKalian percaya dengan keberadaan zombie? Gimana bayangan kalian kalo tiba tiba ada zombie datang ke sekolah kalian berbondong bondong? Inilah yang harus dihadapi Alea bersama teman temannya, mengahadapi segerombolan zombie yang ternyata merupakan t...
