Hari Ke-192

27 2 0
                                        

Langit merah, lautan biru.

Berada di tepi pantai, mungkin bukan pilihan yang menarik untukku. Tetapi demi mengenang semua yang sudah terlewati dan emosi tidak berguna manusia, Aku ada disini. Siapa lagi kalau bukan Arkananta? Orang hebat yang berhasil menghadapi kehancuran umat manusia? Yah, kalaupun begitu, jika dibandingkan dengan setengah populasi manusia yang masih bertahan Aku tidak ada apa-apanya, cuman sedikit lebih beruntung. 

Keberuntungan ngga menjamin, bahkan sekarangpun jika ada monster sebesar rumah keluar dari pinggiran air - yang biasa terjadi Aku pasti mati, jadi mungkin jangan berharap tinggi, siapa tau sebelum ceritanya habis, riwayatku duluan yang habis. Mungkin aku terlalu pesimis, namun biarlah, optimis dan pesimis tidak terlalu berbeda di dunia setengah orak-arik ini.

Ah, Aku sampai lupa menjelaskan pemandangan sekitar, dasar idiot.

Pemandangan di sini tidaklah buruk menurut standarku sendiri. Bau amis lautan menusuk hidung, pasir-pasir pantai yang bercampur dengan kerikil menembus sepatuku yang berlubang. Udara terasa hangat meskipun ini malam hari, dan sejauh mata memandang berbagai monster berkeliaran di tengah lautan, mencari mangsa. jangan mengharapkan bintang-bintang di angkasa, di langit semerah darah yang bisa kamu harapkan hanyalah sekumpulan burung yang berkeliaran dan akan memakan dagingmu ramai-ramai.

Mungkin aku sudah menulis terlalu banyak? Sial, buku ini terus terjatuh dari tanganku. Ide gila siapa yang hinggap di kepalaku sampai-sampai ingin menulis diari tidak berguna seperti ini? Orang hanya akan menganggapku aneh karena membuang-buang kertas, apalagi Aurel, dia akan memarahiku karena lagi-lagi memakai kertasnya. Sebagai catatan, Aurel bukanlah temanku, dia hanya kebetulan suka mencariku dan memberi beberapa perlengkapan untuk bertahan hidup.

Tindakannya itu baik, namun seperti yang sudah pernah kubilang, jangan pernah percayai siapapun. Apalagi kalau kamu berada di dunia yang lengah sedikit saja bisa membuat nyawamu melayang-layang di langit merah. Aku juga sedang tidak lengah, memang daritadi tanganku  menulis seperti orang kesetanan, di saat yang sama aku juga sedang berlarian menghindari orang-orang yang menembakiku.

Tidak usah dihiraukan, gangguan seperti ini sering terjadi. Mereka itu sudah seperti fans-ku, mungkin mereka penasaran dengan isi diariku, kepo. Tetapi tentu saja diriku yang hebat ini tidak akan pernah tertangkap, Aku pelari yang cepat. Hari ini mereka belum tau dimana rumahku, untung saja. Mencari rumah ideal itu sulit, apalagi yang tersembunyi. Jadi aku terima saja mempunyai rumah yang bersih terawat dan rapi.

Memang susah menjaga kebersihan di dunia yang isinya mungkin kotoran berjalan semua, tetapi aku berusaha! Apalagi baru-baru ini aku mendapat ketahanan racun karena kebanyakan mengonsumsi makanan beracun lalu minum obat penawar. Iya, sekarang Aku sedang duduk di salah satu pojokan rumah, dengan cahaya dari kunang-kunang yang kukumpulkan di dalam bola kaca untuk menyinati seisi rumah.

Aneh bukan? Dari sekian banyak spesies serangga yang bermutasi menjadi monster, hanya kunang-kunang saja temanku yang tetap baik hati sampai sekarang. Ngga menusuk dari belakang apalagi teman makan teman. Mungkin ada lagi serangga yang tetap baik hati? Cukup ragu mengingat kemarin badanku disetrum oleh kepik hingga hampir pingsan. Padahal kepik dulu lucu, sekarang seperti pistol listrik yang terbang.

Waktuku tidak banyak sebelum makan malam, jadi mungkin sebentar lagi aku akan selesai menulis.  Setelah kubaca lagi, lembaran diari yang ini cukup menyenangkan, jadi tidak akan kubakar seperti yang sebelumnya. Aku harus menyimpan ini di tempat yang aman.

Euphor-PhobiaHikayelerin yaşadığı yer. Şimdi keşfedin