BAB I

17 1 0
                                        

"Luna, bagaimana harimu?" Suara itu muncul dari sebuah perangkat lunak yang berbentuk robot kelinci kecil seukuran 30 cm x 20 cm yang berada di atas sebauh meja kecil, tepat di dekat sebuah jendela kaca besar di ruangan itu.

"Kau selalu saja menanyakan hal seperti itu di pagi hari begini, tentu saja aku tidak mengetahuinya Oboy. Asal kau tahu, aku baru saja ingin memulai hariku," keluh Luna pada robot berbentuk kelinci tersebut, bagaimana mungkin sistem yang dipasang di sana tidak realistis? Luna cukup kecewa dengan kinerja dari robot tersebut.

"Bantu aku hidupkan televisi Oboy," pinta Luna. "Baik, Luna." Tidak lama sebuah televisi besar yang menyatu dengan dinding di apartemen Luna pun hidup, "Televisi sudah dinyalakan, Luna!" ucap Oboy memberi laporan balik ke Luna.

"Terima kasih, Oboy!" ucap Luna. Meskipun Oboy memiliki beberapa sistem yang tidak sesuai, tetap saja ia dapat membantu keseharian Luna melaksanakan berbagai kegiatan di apartemennya.

Luna sekarang sedang menyiapkan peralatannya untuk berangkat kerja, ia memakan roti bakar seraya berjalan kesana-kesini mencari berbagai perlengkapan. Ya, Luna sebenarnya sekarang sedang terburu-buru, ia terlalu teledor tadi malam ketiduran lebih cepat tanpa mempersiapkan hal yang perlu ia bawa hari ini.

"Seorang mantan anggota organisasi 'Black Seals' tertangkap karena mengoleksi barang ilegal di rumahnya. Ia memberikan petunjuk kepada pihak kepolisian bagaimana sistem dan cara organisasi 'Black Seals' bekerja, tetapi ia menolak untuk menyebutkan nama dari ketua organisasi gelap tersebut.."

"Black Seals? Nama yang tidak asing, sepertinya aku pernah mendengarnya." Luna memalingkan wajahnya melihat ke arah Televisi yang berada di dekat sudut ruang utamanya. "Black Seals.. Black Seals.. Dimana ya aku pernah mendengar namanya." Luna berulang kali memutar nama organisasi itu di kepalanya dan mencoba untuk mengingat berbagi hal, tetapi hasilnya nihil. Luna tidak dapat mengingat apapun.

"Luna, 15 menit lagi jam kau masuk kerja." Ucapan dari Oboy membuat Luna tersadar kembali ke dunia nyata dan ia kaget bukan main.

"Sial! Sepertinya aku akan terlambat." Luna dengan cepat memasukkan laptopnya ke dalam tas dan beberapa berkas yang sudah ia kumpulkan, lalu berlari ke arah pintu.

"OBOY!!! Matikan semuanya dan jaga rumah saat aku pergi!!" teriak Luna dari ujung pintu.

"Baik Luna."

***

"Bagaimana bisa kau dapat menemukanku?"

"Kau terlalu bodoh Luna, aku dapat dengan mudah menemukan jejakmu."

"Berhenti mengikutiku Drian, apa kau tidak puas setelah mempermalukanku setahun yang lalu?" Luna mendecak, ia bersandar pada dinding yang ada pada tangga darurat kantornya, tidak lupa menatap benci orang yang ada di hadapannya.

"Kau terlalu berlebihan," kata Drian dengan mengepulkan asap rokoknya yang sangat pekat dari mulutnya tersebut.

"Uhuk.. Kau menjijikan, disini tidak boleh merokok Drian, dasar bajingan kau! Selalu merusak suasana hatiku saja." Luna dengan cepat menendang kaki kering Drian ketika pria tinggi tersebut sedang tidak fokus.

"Arrghhh.. Kenapa kau melakukan itu?" Drian mengerang berat, suara beratnya sangat menyakitkan telinga Luna.

"Karena aku membencimu, sebaiknya kau pergi dari sini cepatnya. Jangan lagi membuatku terlibat masalah yang mengerikan denganmu," ketus Luna.

"Aku baru saja berencana ingin membuat kekacauan," balas Drian. "Aku cukup kecewa," sambungnya dengan nada pelan.

"Mati saja kau, aku muak melihatmu. Aku pergi dulu." Luna melangkahkan kakinya lebar menjauhi Drian yang sedang fokus dengan ponselnya.

Worst SoulmateWhere stories live. Discover now