BAB 1
MIMPI ATAU TAKDIR
Sepertinya menjadi mimpi semua wanita untuk memiliki hubungan yang indah layaknya negeri dongeng. Menikah dengan pangeran berkuda putih, tampan, mampan dan bahagia seperti layaknya pemeran di film film Disney. Dunia nyata ini yang lengkap dengan tuntutan tuntutan partriarki untuk wanita. Rasanya sulit mendapatkan satu paket itu. Yah, mungkin saja ada pangeran yang sedang bersembunyi disebuah kastil penuh dengan berlian sedang menunggu sang putri bergaun biru. Dan nyatanya itu hanya sebuah dongeng. Yang hanya bisa terwujud dalam khayalan.
Wanita sekarang selalu tenggelam dalam pertanyaan pertanyaan mengecilkan hati. Membuat ketidakmampuan mereka menjadi nampak semakin nyata.
Sudah punya pacar?
Kapan lulus kuliah?
Kapan menikah?
Kapan punya anak?
Tidak sekalian saja tanya "kapan kita mati?" ingin sekali kalimat itu terlontar di mulut, tetapi tetap saja tercekat di tenggorokan. Tuntutan wanita berkata manis, berperingai halus, berpenampilan sempura itu terus yang dikumandangkan. Seperti saat ini, wanita itu hanya bisa duduk melipat kaki dengan tangan menyatu dan bertumpu diatas paha nya. Sambil menatap sekeliling dan melempar senyum. Rambut hitam panjangnya terurai, hanya dia beri hiasan bandana kecil diatas kepalanya.
"Win, suami kamu jadi kesini tidak?"
Wanita paruh baya dengan baju setelah motif bunga bunga itu sedikit berkeringat karena melayani tamu arisan keluarga besar dirumah megahnya ini. Belum dijawab pertanyaannya, pertanyaan kembali keluar.
"Danang beneran perjalanan kesini kan?" dengan nada suara sedikit meninggi.
"Iya ma, mas Danang perjalanan kesini dari kantor. Mungkin masih kena macet ma. Jadi agak terlambat" Wina tersenyum lembut.
"kamu telpon deh suami kamu itu, sudah jam 7. Perjalanan darimana lama sekali. Keluar kantor kan jam 5 sore win!" nada suara mama mertuanya sudah mulai ketus.
"Iya ma, coba Wina hubungi lagi mas Danang" Dengan sedikit ragu Wina mengambil handphonenya menyalakan, membalik layarnya, menyalakan lagi, membalik layarnya lagi. Diketuknya layar handphonenya itu dengan jari jari nya. Sedikit kebingungan apakah harus menelfonnya atau menunggu saja ?. Tetapi mama mertua nya sudah muali erlihat tanduk di kepala.
Suaminya akan marah kalau ditelfon ketika sedang menyetir. Wina masih ragu melakukannya. Dia terus menatap layar handphone nya. Sampai akhirnya laki laki itu muncul dengan santai. Memasuki rumah menuju ruang tengah dan mulai menjabat tangan para tamu yang mayoritas paman dan tantenya. Laki laki itu hanya menatap sekilas ke arah Wina yang duduk di ruang tamu lalu berpaling menuju orang tuanya dan mencium tangan keduanya. Wina menatap kearah jemarinya sambil memutar mutar cincin dijari manisnya.
****
Semua tamu sudah pulang satu persatu dari jam 9 tadi. Tersisa eyang dan papa mertua diruang tengah, Wina dan mama mertua nya sedang di meja makan membersihkan beberapa sisa makanan yang masih bisa disisihkan. Suaminya duduk diujung meja makan sambil memainkan handphone dan sesekali menyerap kopi buatan Wina 5 menit yang lalu.
"suami kamu ga kamu ambilin makanan? Masak Cuma kamu buatin kopi aja. Kembung itu perutnya" tanya ibu mertunya sambil menepuk pelan bahu Wina.
"katanya kenyang ma mas Danang. Tadi di kantor sudah makan katanya" jawab Wina. Ibu mertuanya mengagguk sambil menyerahkan piring piring kotor ke ART dirumahnya.
Mama mertuanya mendekat disamping kanan Wina membuat nya secara otomatis menoleh. "Kalau sudah beres ini ke ruang tengah ya sama suamimu" sedikit berbisik ke arah Wina sambil melirik kearah anaknya yang duduk di ujung meja.
Wina mengangguk sambil melirik ke arah suaminya.
Wina berjalan keujung meja menghampiri suaminya. Ia diam tak mengucapkan kalimat, yang akhirnya membuat sang suami mendongak tepat kearah Wina.
YOU ARE READING
Untitled Wedding
RomanceMenikah diusia yang tepat adalah impian yang beberapa wanita. Termasuk Wina, diusia 25 tahun sudah menikah dengan laki laki yang dijodohkan oleh almarhum kakeknya. Harapannya menikah dan memiliki anak dengan suaminya kelak nyatanya tak seperti ia kh...
