Berawal dari seorang babysitter untuk bocah berusia tiga tahun, berakhir menjadi asisten pribadi seorang model yang sedang naik daun. Iya terdengar naik pangkat memang bagi sebagian orang. Tetapi bagi Niska yang menjalaninya, itu sama saja! Bahkan terkadang lebih parah. Pekerjaannya sekarang lebih pantas disebut sebagai babu! Ya tetapi apapun itu harus Niska jalani dengan sepenuh hati. Hidup di perantauan tidak mudah. Dan salah satunya seperti ini....
"Niska, ambilin kacamata aku. Ketinggalan tadi di apartemen!"
Niska menghela napas lelah. Mereka baru saja turun sampai lobi sembari menunggu Khayru mengambil mobil di bassement. Itu artinya, Niska harus kembali naik ke atas lantai 30 untuk mengambil kacamata majikannya di unit apartemen milik model itu.
"Iya Mbak," sahut Niska pendek. Bergegas menjalankan perintah majikan, Niska sedikit berlari dengan tubuh kecilnya.
Tak sampai beberapa menit, gadis itu kembali ke lobi dan menemukan Rani juga Khayru yang sudah berada di dalam mobil menunggunya. Tanpa diperintah, Niska lekas masuk dan duduk di kursi depan samping pengemudi.
"Turunin dong Mas, suhu AC-nya."
Niska menyandarkan kepala ke sandaran kursi setelah menyerahkan sebuah kacamata hitam kepada Rani yang duduk di kursi belakang. Napasnya tidak teratur, juga keningnya yang tampak sedikit berkeringat.
"Udah," jawab Khayru. Sebelah tangannya mengangsurkan tisu pada Niska, sedangkan yang satunya sibuk memegang kemudi.
"Makasih."
Rani yang sedang merapikan make up tampak tidak peduli dengan percakapan dua orang di depannya. Sebelum akhirnya kalimat panjang ia lontarkan. "Kamu kok nggak bangunin aku sih Nis, tadi? Udah tau juga kan aku ada pemotretan pagi."
Salah lagi. Batin Niska.
"Udah Mbak. Subuh tadi kan udah aku bangunin. Terus aku tinggal bikin sarapan juga. Pas aku balik ke kamar, eh Mbak Rani tidur lagi ternyata. Ya bukan salah aku dong," sungut Niska tidak terima.
"Lain kali, kamu seret aja kakinya sampe depan pintu kamar biar dia bangun, Nis. Mas ikhlas kok nggak papa." Khayru terbahak dengan kalimatnya sendiri, sedangkan Rani yang masih memegang kuas make up bersungut kesal.
"Sembarangan lo, Mas!"
Niska hanya geleng-geleng kepala mendengar perdebatan keduanya. Kalo Khayru jadi Niska, mungkin pria itu akan merealisasikan kalimatnya.
Setelahnya, suasana kembali hening sampai di tempat tujuan. Niska turun dan membawa beberapa barang bawaan majikannya. Sedangkan Rani lebih dulu berjalan di depan bersama Khayru sebagai manager. Gadis itu memilih menepi di spot yang memang disediakan untuk para model saat istirahat. Langit tampak cerah, tetapi angin sejuk tetap terasa karena posisi mereka saat ini berada di perkebunan teh dataran tinggi.
Pekerjaannya menuntut Niska menemani Rani kemanapun dia pergi untuk keperluan pemotretan. Entah itu hanya catwalk di dalam gedung, pemotretan di studio foto untuk sampul majalah, ataupun pemotretan outdoor seperti ini. Dari yang Niska dengar dari cerita Rani, pemotretan kali ini dilakukan untuk keperluan iklan sebuah jenis produk kecantikan yang bahan dasarnya terbuat dari daun teh asli. Entahlah, Niska juga tidak tahu pasti produknya apa.
Rani di depan sana tampak mulai mendapat arahan dari fotografer untuk bergaya. Sinar matahari yang mulai meninggi tampak menerpa kulitnya yang putih. Bisa Niska bayangkan setelah pemotretan selesai, Rani pasti akan menggerutu kesal karena kulitnya yang terbakar sinar matahari langsung. Ya meskipun ini masih terhitung pagi, tapi memang panasnya terasa menyengat.
Begitulah, menjadi model memang tidak semudah yang dibayangkan. Mereka dituntut banyak hal. Harus ini, harus itu. Niska bahkan sangat heran ketika pertama kali bekerja untuk Rani. Majikannya itu hanya mengonsumsi nasi di jam makan siang saja. Itupun nasi merah dengan porsi yang sedikit. Untuk sarapan dan makan malam, Rani menggantinya dengan makan sayur atau buah. Niska masih ingat ketika dirinya membeli nasi padang, Rani mengomeli habis-habisan karena dia berpikir Niska mengejeknya yang tidak bisa sembarangan mengonsumsi makanan. Dan sejak itu Niska berpikir, mungkin memiliki tubuh ideal untuk seorang model itu suatu keharusan.
Getaran ponsel di dalam tas membuyarkan pemikiran Niska. Dirogohnya tas dan setelah mendapat sesuatu yang ia cari, Niska segera membukanya. Sebuah pesan dari Rama—kekasihnya.
Mas Rama
Minggu ini g bisa ketemu La
Mas ada acara soalnya
Sorry:)
Me
Iya Mas, g papa
Jaga kesehatan ya:)
Niska memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas setelah pesannya terkirim dan tercentang dua abu. Gadis itu menoleh saat dirasa seseorang menepuk pundaknya dari samping.
"Ciee chat dari Mas Pacar ya?" Anya menarik turunkan alis menggoda.
"Iya Mbak, dari Mas Pacar." Niska justru menekan kata 'Mas Pacar' hingga membuat Anya terkekeh geli.
"Gimana Nis rasanya LDR?"
"Kami nggak LDR. Kami masih satu kota, cuma ya emang jarang ketemu aja. Dia sibuk dengan pekerjaannya, aku juga sibuk sama kerjaanku. Jadi ya harus saling mengerti aja, Mbak."
Anya mangut-mangut mendengar jawaban Niska. "Cuma mau bilang, cinta nggak selamanya indah dek," ucapnya dengan menahan senyum.
"Percaya deh, yang udah janda dua kali."
Alih-alih tersinggung atau marah, Anya justru tertawa mendengar jawaban Niska. Ibu satu anak itu tak masalah dengan statusnya yang pernah menikah dua kali. Toh sekarang dirinya sudah menikah lagi, dan Anya berharap ini pernikahannya yang terakhir. Tawa Anya baru berhenti ketika Niska memberitahu jika salah satu model yang merupakan majikan Anya, memanggilnya.
"Ngobrolin apa tadi sama Mbak Anya? Kok mukanya sepet gitu?"
Kemunculan Khayru membuat raut wajah Niska semakin masam. "Kepo."
"Dih sensi amat. Lagi dapet Mbak?"
Niska melirik Khayru kesal. "Iya, dapet kalimat motivasi dari Mbak Anya. Yang sempet viral dijadiin sound di sosmed itu loh, Mas."
"Apaan?" tanya Khayru dengan kernyitan di dahi.
"Cinta nggak selamanya indah deek," jawabnya dengan penuh penekanan. Menirukan gaya bicara sound yang sempat hits itu.
Khayru terkekeh, lesung pipi bagian kanannya jelas terlihat. Kalimat motivasi cinta katanya? Khayru menggelengkan kepala tidak habis pikir.
"Ya bagus loh itu. Cinta emang nggak bakal selamanya indah, Nis. Mbak Anya loh itu, yang udah berpengalaman, yang ingetin ke kamu," jelas Khayru dengan senyum tipis.
"Iya Mas, iya. Udah aku iyain tadi. Masnya nggak usah ikut-ikutan kaya Mbak Anya ya. Awas loh." Niska menatap Khayru dengan mata memicing.
"Ikutan apa?"
"Julid sama hubungan orang!" seru Niska kesal.
Kali ini Khayru kembali tertawa. Tidak tahan dengan tingkah Niska, pria yang sudah berumur seperempat abad lebih itu mengacak ujung hijab yang dikenakan Niska. Hingga sang empunya menampik tangan Khayru kesal, lalu menghindar. Niska lalu melenggang, menghampiri Rani yang menyuruhnya mendekat. Meninggalkan Khayru yang menarik kedua sudut bibirnya dan menciptakan sepasang lesung pipi yang sempurna.
***
Start: 14 Mei 2023
YOU ARE READING
Bait-bait Rasa
RomanceProject with Luna Literacy "Kamu masih ingat saat itu? Aku menawarkan hubungan, yang jelas aku tahu jawabannya apa. Lalu dengan egoisnya, aku tetap memaksa." Pria itu menjeda kalimatnya. Menegakkan punggung, dengan kedua siku bertumpu pada meja. "Ta...
