___|01|___

711 60 6
                                        

Hai, bagaimana kabarmu? Ini cerita kedua, semoga suka.

Selamat membaca

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Matahari mulai beranjak naik. Jarum pendek jam dinding sudah menunjuk ke angka sembilan. Di pagi hari ini, sudah berada di tempat yang biasa dijadikan tempat pertemuan, berkumpul dengan teman-teman atau hanya sekedar menikmati secangkir kopi panas sendirian. Duduk sendirian disalah satu kursi cafe menunggu seseorang datang dengan ditemani teh panas yang aromanya menenangkan di tengah hirup pikuk suasana kota.

----------

"Jangan cemberut, nanti manisnya jadi pahit," suara seseorang yang baru saja datang tanpa permisi menduduki kursi yang kosong.

"Kau lama sekali," kesal seorang perempuan berpipi cubby.

"Aku hanya telat lima menit bukan setahun," elak seorang perempuan juga dengan pipi yang sama cubby-nya.

"Itu sama saja, sudah membuatku menunggu."

Dengan usil mengacak rambut perempuan yang ada di hadapannya. "Arraseo, mianhe membuat my princess ini menunggu lama."

"Jangan diacak-acak... aku baru mencatoknya sebelum ke sini."

Tawanya melihat pipi cubby mengembung seperti balon, "princess lucu saat cemberut."

"Pacarmu sedang marah seharusnya dibujuk bukan malah tertawa," geramnya menghadapi tingkah kekasihnya.

"Mian," menghentikan tawa dan melirik gelas yang sudah kosong. "Aku pesan lagi ya, sekalian coba cake di cafe baru ini," tanpa bertanya langsung bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah kasir.

Tak butuh waktu lama, pesanan sudah siap dan membawa ke mejanya. "Special for my princesses," meletakkan segelas vanilla cream frappuccino ukuran medium dan sepotong cake red velvet.

"Thanks, honey."

"No problem, just for my princess."

Mereka menikmati sepotong kue masing-masing tanpa obrolan. Tanpa ragu menyeka cream yang menempel disudut bibir. "Sudah besar makan masih saja belepotan."

"Aku baru tahu whipped cream rasanya sangat manis," ujarnya setelah memasukkan noda cream tadi ke dalam mulut.

Perempuan yang ada di hadapannya kebingungan. "Benarkah? aku memakannya rasanya gurih, manisnya tidak terlalu terasa."

Dengan seringai di wajah lalu bertanya dengan jahil. "Mau tahu kenapa sangat manis?" dibalas anggukkan kepala. "Kemarikan telingamu, princess." dengan memberi isyarat untuk mendekat.

Saling mencondongkan bagian tubuh atas dan salah satu dari mereka berbisik. "Karna bibirmu manis, bolehkah aku merasakannya?" yang mendengar bisikkan tersebut wajahnya merah merona dan tersipu malu.

Namun tak lama mencubit keras lengan salah satu dari mereka dan terdengar ringis kesakitan.

"Agar kau sadar, kita sedang dimana."

"Berarti jika sedang berduaan saja, tak masalah?" Balasnya dengan tengil.

"Park Chaeyoung!" tegurnya dengan tatapan tajam yang mengintimidasi.

Without MeStories to obsess over. Discover now