"Nic, kamu selalu kabur seperti ini apa tidak bosan? Setiap kali kita berkumpul, kamu pasti menyelinap dari istana. Belum lagi penyamaran kamu. Niat mau senang-senang, tetapi kamu muncul dengan kostum serba hitam dan tertutup."
"Apa boleh buat, Sak ... mau keluar ya wajib lewat belakang. Dari depan tidak bakal dapat izin."
"Parah juga ya. Seketat itu peraturannya?"
"Pangeran Nicholas, ya jelaslah Ino! Dia 'kan pewaris kerajaan. Dari zaman masih kuno juga, yang disebut istana dan seisinya pasti punya peraturan keras. Kadang juga berlebihan. Mending si Nic cuma perkara tidak dibebaskan keluar istana, parahnya lagi ada yang dinikahkan sejak lahir."
"Jadi ... yang perlu kalian tahu, si Gaara sebenarnya berasal dari kerajaan di masa lampau, makanya dia paham semuanya. Ya 'kan Gaa?"
"Bukan begitu maksudku." Gaara berdecak kesal. Aku hanya membagi informasi yang kutemukan pada kalian. Fakta sekecil itu sering muncul di media atau buku-buku pendidikan."
"Tunggu dulu, tolong kalian diam sebentar." Sakura menyela obrolan di antara Gaara dan Toneri, lalu dia berkata, "Nic, kuperhatikan kamu kurang bersemangat. Ada masalah ya?" Raganya di sini, pikirannya melayang ke tempat lain. Berujung Nicholas tak menyimak perkataan Sakura.
"Hei, Nic! Kamu tidak dengar?"
"Haa?!"
"Astaga, gagal fokus kayaknya dia. Barusan Sakura bertanya, kamu ada masalah apa? Kenapa manyun begitu? Biasanya dirimu yang paling ribut."
Usai mendesah berat, Nicholas menyeruput soda buahnya. "Aku sedang berpikir, bagaimana caranya kabur dari istana."
"Tapi kamu sudah berulang kali melakukannya, untuk apa dipikirkan lagi?"
"Yang kumaksud bukan kabur seperti ini, Darui. Rencananya aku mau meninggalkan kota. Entah kenapa, aku ragu bisa berhasil." sekali lagi dia mengembuskan napasnya. "Penjaga tidak akan membiarkanku."
"Loh, kenapa tiba-tiba mau minggat segala? Bukannya keadaan di istana baik-baik saja, Nic?"
"Sekarang sih iya, sebelum segalanya makin sulit. Ayah dan ibu sedang mempersiapkan pertemuan besar dengan kerajaan tetangga. Mereka ingin menjodohkanku dengan salah satu putri dari sana."
Padahal teman-temannya baru ingin mencoba hidangan yang tersaji di meja, sampai pernyataan Nicholas seketika mengunci atensi mereka.
"Kerajaan tetangga?!" seru Ino setelah meletakkan lagi irisan daging yang hendak dia makan.
"Dari Asia?!"
"Dijodohkan?!"
"Kapan, Nic?!"
Secara bergantian, Sakura, Toneri serta Gaara mengucapkan rasa penasaran mereka.
"Pasti kamu tidak bisa menolak rencana orang tuamu 'kan?" Selanjutnya Darui pun menyambung, sedangkan Naru betah terdiam. Yang dia lakukan hanya menatap ke bawah, sambil terus menghela napas, membuang kegundahannya.
-----
"Si putri manja pasti sedang bersembunyi. Kita tidak tahu dia ke mana, selalu bikin repot. Terus terang saja, aku muak jadi dayang-dayang dia. Semua maunya dilayani, dia benar-benar benalu. Hanya karena cantik, dia bisa mendapatkan segalanya. Dunia memang tidak adil."
"Apa yang kamu katakan? Kita hanya budak. Sudah menjadi tugas kita untuk melayani Tuan Putri. Harusnya kamu tidak berkata demikian, Morie. Tuan Putri orang yang sangat baik. Dia tidak pernah bersikap kasar sama kita."
"Aku tahu dia tidak menyukaiku. Perlakuannya pada kita berdua berbeda. Dia memang selalu tersenyum padamu, tapi aku?!"
"Morie, itu karena kamu juga sering menunjukkan mukamu yang murung. Masih baik dia tidak menegurmu, atau bisa-bisa memarahimu. Apa hak kita untuk mendikte perilakunya? Tentu bukan. Justru kita duluan yang patut memperbaiki tata krama kita, agar Tuan Putri suka dan nyaman dengan pelayanan kita." Panjang lebar Keiko bercerita, menyangkal kekeliruan temannya. Di tengah-tengah pencarian Putri kerajaan yang tak tahu ke mana perginya.
"Kamu terus-terusan membela dia. Padahal saat ini pun dia sudah membuat satu istana gelagapan dan lagi-lagi kita kena imbasnya. Permaisuri pasti mengamuk kalau kita tidak berhasil menemukan dia."
"Tidak usah takut. Para pengawal juga ikut mencari Tuan Putri. Mereka tidak mungkin memarahi kita, jika pengawal saja gagal menemukannya."
Di tempat lain, yang tidak diketahui kedua dayang-dayang tadi, Hinata sedang bersembunyi di dalam ruangan yang dia yakini lolos dari kecurigaan orang-orang di istana. Dia bersembunyi di balik pintu ganda, bahkan mendengar bisik-bisik kedua dayangnya. Namun, rencana dia sekarang adalah guna melarikan diri dari konspirasi yang segera disahkan oleh kedua orang tuanya dengan kerajaan lain.
"Apa mereka sering melakukannya di belakangku? Bergunjing?! Oh, ya ampun ... ini tidak benar."
Sebagai keturunan kerajaan, apa yang dapat dilakukan oleh seorang putri seperti dirinya selain menuruti kebijakan Raja dan Permaisuri. Saudara laki-lakinya akan menjadi penerus tahta, lalu dia ... harus siap menikah dengan pangeran dari kerajaan tetangga demi mempertahankan kemasyhuran istana dan seisinya. Tentu merupakan taktik cerdik yang pantas dilaksanakan, berkorban diri demi kejayaan dan keharuman istana.
Begitu suara dayang-dayangnya tiada lagi terdengar, Hinata mengunci rapat-rapat pintunya. Sengaja dia bersembunyi di kamar nenek buyutnya, ratu generasi ke III, sebab tak seorangpun yang mungkin mencurigai tempat ini. Faktanya, kamar sang ratu generasi ke III dilarang untuk dimasuki. Siapapun yang melanggarnya akan menerima sanksi.
"Aku tidak keberatan Raja menghukumku karena masuk ke kamar ini, lebih baik daripada menikah dengan pria yang tidak kukenal. Zaman sudah modern, tetapi kenapa ayah ibuku masih tunduk pada tradisi."
Berjalan menyisiri ruangan, Hinata menggerutu seraya meneliti seisinya. Di dalam sangatlah gelap. Berbekal senter dari ponselnya, dia mengamati satu persatu perabotan yang ada. Tampak rapi, bersih nan indah meski puluhan tahun lamanya tidak dihuni. Baru saja tangan Hinata menyusuri pahatan yang terukir di sisi sebuah ranjang berukuran besar.
Setapak demi setapak langkahnya terangkat, akhirnya dia berdiri di depan lemari kayu yang cukup tinggi. Serta merta pula muncul rasa penasaran di benaknya, mengiringi jemarinya untuk membuka pintu lemari. Kotak yang diperkirakan panjangnya setengah meter, berwarna biru tua, terdapat relief emas di setiap pinggirnya, seketika Hinata mengangkat dan menaruhnya di permukaan lantai.
"Siapapun yang melihatnya jelas bakal tertarik. Aku ingin tahu apa isinya." lalu Hinata menarik penutupnya, mengeluarkan satu-persatu benda di dalamnya. Ada batu giok, sisir yang terbuat dari mutiara, sepatu kain, selendang lusuh dan diary usang ialah barang yang kontan menguasai penuh atensinya.
Waktu berputar sekian cepat, Hinata mengedarkan pandangan ke sekitarnya di mana muncul asap putih mengelilingi. Detik itu juga dia ketakutan, bergantian menatap ke buku, ke spiral asap, ke buku, ke spiral asap, kemudian tertuju lagi ke buku. Di sanalah dia menyaksikan potret bergerak wujud perkampungan asing. Hitungan menit, sejak keanehan terjadi. Rentetan peristiwa yang berlangsung sungguh sulit dipaparkan lewat logika.
Seakan ada yang mengendalikan dirinya, bahkan berat menelan saliva seperti ada yang menahan di tenggorokannya. Kendati jemarinya malah ingin menyentuh ke bidang buku diary. Sejurus, secepat kedipan mata, sesuatu yang kuat menarik Hinata ke dalam buku, hingga tahu-tahu tubuhnya lenyap entah ke mana. Sementara permukaan diary kembali sedia kala.
Bersambung ...
By Cleorain & Laceena
YOU ARE READING
Pass on Role
FanfictionNiat kabur Pangeran Nicholas menggeret dia ke tempat antah berantah di masa silam. Terjebak dalam dunia asing, tubuh asing, hingga dia perlu berjuang di antara hidup dan mati demi dapat kembali ke dunia asalnya. Tidak ada yang mencurigakan dengan b...
