Wujud kehidupan seperti Antonim Yang terasa dan dapat dirasakan Terkadang putih bersih tanpa cacat Dan terkadang hitam gelap penuh kebencian
✧ ✧ ✧
Pagi yang cerah di kelas 11 IPS 4. Suasana kelas pagi itu sangat ricuh, seperti di pasar. Karena guru mapel jam pertama berhalangan hadir. Ada yang bermain game, membaca buku, keluar masuk kelas, gibahin orang, bucin dengan ayang, bahkan ada juga yang sedang melamun memikirkan masa depan dan melupakan masa lalu.
"Bhima, tolong dong ambilin pesawat kertas yang ada di bawah meja mu," ucap Ziva.
Ziva Gabiella, siswa pindahan dari Jakarta. Memiliki paras yang cantik, sifat yang ceria dan suka membatu orang di sekitarnya. Tidak heran jika banyak laki-laki di kelasnya menyukai dirinya.
Meskipun hubungan Ziva dengan kedua orang tuanya tidak baik dan hubungan pernikahan Papa dan Mamanya sedang di ambang jurang perpisahan. Namun hal itu tidak menjadikan Ziva sebagai anak yang broken home. Ziva menjalani hidupnya seperti remaja pada umumnya.
Laki-laki yang bernama Bhima itu hanya melirik sekilas pesawat kertas yang tergeletak di atas lantai samping mejanya. "Ambil aja sendiri. Lo kan udah punya kaki sama tangan," jawab Bhima dingin.
Bhima Arkatama, cowok dingin, gak punya empati, gak peka, anak emas DHS (Dharmawangsa High school). Bhima terkenal di kalangan siswa/siswi DHS bukan hanya karena ketampanannya tapi prestasinya juga. Plus Bhima adalah seorang anak band, jadi tidak heran jika Bhima terkenal di kalangan para kaum hawa.
Kedua orang tua Bhima, terutama Ayah Bhima adalah orang yang namanya terkenal di seluruh pelosok sekolah DHS. Karena ayah Bhima seorang donatur di DHS. Bunda Bhima memiliki bisnis toko kue, yang tidak jauh beberapa blok dari sekolah Bhima.
Seseorang menghampiri bangku Ziva. "Lo berharap apasih sama si kulkas, ziv? Nih gw ambilin pesawat kertas lo," ucap mitca mengambil pesawat kertas yang ada di bawah meja Bhima. Kemudian menaruhnya di atas meja Ziva.
Mitca Akelaliana, sahabat sekaligus sepupu Ziva yang ada di Bandung. Orangnya to the poin, bar-bar. Hobinya cuma satu yakni berkelahi dengan laki-laki. Bisa dibilang mitca itu cewek tomboy, ditambah lagi potongan rambut mitca seperti potongan rambut laki-laki. Kedua orang tua Mitca seorang pengusaha sukses yang namanya sudah dikenal di seluruh penjuru Bandung.
"CACA!!" ucap Ziva memanyunkan bibirnya, dia menatap mitca dengan mata yang sendu. Mitca yang tau Ziva ingin menangis dengan sigap memeluk sepupunya itu, seraya mengelus-elus puncak kepala Ziva.
"Duh duh, Ziva jangan nangis lagi ya sayang. Maafin aku ya Ziva cantik?" ucap Mitca. Sekarang Mitca terlihat seperti sedang menenangkan seorang anak yang berumur 4 tahun, yang baru saja jatuh dari atas sepeda.
Ziva memeluk pinggang Mitca, dan menyenderkan kepalanya di perut sepupu perempuannya itu. "Aku maafin. Tapi dengan satu syarat. Nanti pas pulang sekolah, Caca harus beliin aku kue rasa matcha di toko kue yang waktu itu."
Mitca hanya bisa menghela nafas melihat perilaku Ziva yang masih kekanak-kanakan. "Iya, nanti pas pulang sekolah Caca beliin 2 kue rasa matcha," ucap Mitca menunjukkan angka dua menggunakan jarinya.
Mendengar hal itu Ziva sangat senang dan tidak jadi menangis. Gawat kalau sampai Ziva menangis, bisa-bisa satu kelas banjir karena air matanya.
"Ck, gitu aja nangis. Cengeng banget sih jadi cewek," ucap Bhima terang-terangan.
"Diem lo kulkas," ucap Mitca yang masih mengelus-elus puncak kepala Ziva.
✧ ✧ ✧
Saat pulang sekolah. Ziva yang dibonceng oleh Mitca tidak langsung pulang. Melainkan mampir terlebih dahulu ke toko kue untuk membeli kue matcha kesukaan Ziva.
"Ziv lo tungguin gw di sini. Gw mau parkir motor dulu," ucap Mitca.
Ziva hanya mengangguk. Mitca kemudian pergi ke parkiran untuk memarkirkan motornya. Saat sedang menunggu Mitca. Ziva tidak sengaja berpapasan dengan laki-laki yang sering ia temui di kelas.
"Ternyata kita jodoh ya..."
To be continued..
✧ ✧ ✧ ✧ ✧ ✧ ✧ ✧ ✧ ✧ ✧ ✧
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.