1ˢᵗ, Parking Lot.

10 0 0
                                        

  

   malam itu dingin

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.


   malam itu dingin. yohana menghembuskan asap tipis dari mulutnya, yang kemudian ditutup guna turtleneck dari jaket hitamnya. ia memeluk lututnya, meringkuk sendirian di sudut tempat parkir sekolahnya yang sama sekali sepi. malam itu, jam menunjukkan pukul delapan, yohana meninggalkan ponselnya berdentang dengan ribuan notifikasi dari aplikasi chat.

   dadanya sesak. air mata di pelupuk sudah berontak ingin keluar, tapi yohana menahan. entah mengapa. padahal, jika ia menangis sekarang juga, tidak akan ada yang melihatnya. lagipula, orang gila mana yang mengunjungi tempat parkir sekolah malam-malam begini? cuma yohana.

   kue putu dengan sedikit kepala parut kesukaannya dibiarkan begitu saja, mendingin disapu angin malam didalam plastik putih bersama garpu yang selalu ia bawa untuk keadaan darurat—seperti kepingin memakan kue putu tiba-tiba, misalnya.

   "bangsat."

   yohana melirik ponselnya yang menyala, menunjukkan nama karai disana. menarik ingus kemudian melap hidung dengan lengan jaket, yohana lantas mengangkat telepon itu. ada sesuatu didalam dirinya yang mendorong yohana untuk mengangkat telepon dari karai, padahal pesan dan telepon lain ia abaikan.

   "hal—"

   "yayanohana, lo dimana?"

   tangis pecah tanpa aba-aba. yohana melap air matanya cepat-cepat, kemudian membalas karai dengan suara bergetar. "karaiii, ah bangsat, suara gue."

   "lo nangis?"

    yohana tidak menyahut, sibuk meredakan tangisannya yang justru makin menjadi setelah mendengar suara karai.

    "dimana? gue mau nyusul. enak aja lo ninggalin laporan segepok belom jadi di gue."

   "..."

   "i think i see you."

   lagi-lagi, suara karai hanya disahuti semilir angin dengan latar isakan yohana. perempuan itu menunduk setelah menjauhkan ponselnya dari telinga, menelungkupkan kepala di lututnya. ia masih terisak dalam diam ketika mendengar suara kasar sol sepatu yang beradu dengan debu dan kerikil tempat parkir.

   "yohana."

   tanpa mendongak pun, yohana tahu itu karai. ia merasakan pemuda itu berjongkok di depannya, meletakkan tangan di kepalanya sebelum merambat ke bawah, mengangkat dagu yohana. "yayanohana, jawab gue dong."

   "lo bangsat," karai tersenyum kecil melihat yohana masih terisak, yang sekarang malah merengek seperti bayi. jarinya lembut menepuk-nepuk dagu yohana.

   "semuanya bangsat. hari ini hancur banget, gue rasanya pengen nangis sampe besok." suara yohana terseok-seok, bersahutan dengan suara isakannya.

   "kenapa nangis? is it supposed to be me crying? yes?"

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Nov 21, 2022 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

invisible rendezvous.Where stories live. Discover now