Lend Me Your Jacket, Please!!

4 1 0
                                        

Aku termenung. Menatap inci demi inci beton trotoar yang membisu dilewati semilir asap bis yang sedang Aku tumpangi. Ia yang terbujur kaku mengingatkanku pada sikapku tadi tatkala berpapasan dengannya di Kantor. seperti beberapa Hari sebelumnya, Hari ini aku gagal lagi. Aku ingin sekali mengajaknya bertemu Hari minggu besok untuk Menyampaikan rasa yang satu tahun ini menggebu-gebu di dalam Hati. Aku bisa saja mengajaknya via chat, tapi Aku bukan orang seperti itu, Dan menurutku, itu terlalu mencurigakan bagi seorang teman.

Bagiku, menyatakan rasa kepada seorang teman perlu pemikiran yang matang. Keputusan tersebut menempatkanku diantara surga dan neraka. Aku bisa berada di surga bila tiba-tiba dengan keajaiban Tuhan, si misterius Raka itu menyukaiku dan aku bisa berada di neraka jika dia tidak menyukaiku lalu dia menjauh, dan aku pun kehilangan seorang teman baik.

Gawaiku bergetar, memunculkan notifikasi pesan Masuk. Seperti yang aku duga, pesan itu berasal dari operator, bukan pesan khusus dari orang spesial. di usia seperempat Abad ini, ponsel ku masih sama sepinya dengan kuburan, Miris bukan?. Kenyataan ini kemudian menamparku, dan aku semakin bertekad untuk jujur pada Raka. Apapun yang terjadi setelah itu, Aku tidak peduli. setidaknya aku bisa merasa tenang sebelum aku menikah dengan siapapun nanti.

Masih Ada sekitar 30 menit lagi sebelum Aku sampai di tempat pemberhentian bus dekat dengan apartmentku. Aku memanfaatkan kesempatan ini untuk menyampaikan maksudku pada Raka via chat. Aku tidak peduli apakah dia akan curiga atau tidak, toh pada akhirnya dia akan tahu.

Saat Aku mengotak-atik kata, tiba-tiba bis berhenti. Ia menampung penumpang baru yang ingin pergi ke arah yang sama. Aku tidak menghiraukan apa yg terjadi hingga seseorang menyapa dan duduk menempati kursi kosong di sampingku.

"Hei Nin.."

Suara Raka menyebabkan Dadaku berdebar, Dengan frekuensi lebih cepat daripaada biasanya

Refleks, aku memasukkan gawai ke dalam tas.

"Eh, hei Ka" aku menyembunyikan rasa gugup.

"Kamu baru pulang?" Raka memulai percakapan sembari menoleh pada jam yang nelingkar di pergelangan tangan kirinya

"Iya nih. Tadi aku Ada lembur dikit" Aku menghembuskan nafas, berakting layaknya orang yang lelah setelah pulang kerja. "Kalo kamu? Kirain aku department kamu udah bubar dari siang tadi"

"Hmm, iya Kita bubar dari Kantor buat pindah meeting jadi di luar, di cafe daerah sini"

"Wih, asik dong. Ditraktir atasan" aku menggoda.

"Nindy, Nindy. Di otak kamu gratisan mulu" Raka memutar mata.

Aku tertawa.

"Tumben kamu Naik bis?"

"Mobil Aku di bengkel Nin".

"Oh" aku mengangguk.

Suasana menjadi sunyi. Namun tidak dengan isi kepalaku 'ayo nin, ini kesempatan kamu' ujar nya.

"Ka, besok Ada promo ticket bioskop beli satu gratis satu loh. Nonton yu?"

"Nonton apa?"

"Hm, avenger" Aku nyengir.

"Berdua?" Raka mengernyitkan dahi.

"Emm enggak, enggak. A... aku udah ajak Dion sama Tika" ujarku terbata-bata. Jelas, aku berbohong di sini. Tapi, bodo amat. Bagaimanapun caranya, besok Aku harus bisa berbicara dengannya.

"Wow, boleh-boleh. Yu!"

Kebahagiaan seketika menyeruak di dalam Sanubari.

Namun tiba-tiba ..

"A...aduh"

Ya ampun, Perut Aku kram. Gawat!! sepertinya ini Hari pertamaku pms. Ia datang dua Hari lebih cepat.

"Kenapa Nin?"

"Ti ...tidak. ini perut Aku cuma kram dikit"

Sakitnya memang tidak seberapa, namun Hari pertamaku selalu banjir. Bagaimana ini?

"Oh oke kalo gitu" laki-laki berjas di sampingku itu kembali mengarahkan pandangannya ke depan.

Sementara itu, aku memperbaiki duduk. Mencari posisi yang pas bagaimanapun caranya agar tidak Ada yang Tahu apa yang sedang terjadi. Tapi, semakin lama, rasanya malah semakin banjir. Aku pun menyerah.

"Raka, Help me please.." Aku sedikit berbisik

"Oh, oke. Sebentar"

Tiba-tiba ia melepas jas dan memberikannya padaku. Fix. Dia tahu apa yang sedang aku alami.

"Duh, Aku ga enak. Maafin Aku ya Raka"

"Gapapa, Nin. Santai" Mata kirinya berkedip, bibirnya menyunggingkan senyuman.

Aku semakin paham. Kenapa Aku bisa menyukai Raka. Nampaknya, Ia pura-pura tidak menyadarinya agar aku tidak merasa malu. Tanpa berpikir panjang, Aku mengikatkan jas itu di pinggang, dan menjadikannya alas duduk.

Setelah Beberapa saat, Hal yang paling Aku tunggu saat ini akhirnya tiba. Bis berhenti di tempat yang Aku tuju.

" Raka, Jas nya Aku pinjam dulu ya?"

"Oh iya, oke Nin"

"Aku duluan ya Ka"

"Oke Nin"

Aku melangkah menuruni bis, berjalan sembari mencerna apa yang baru saja terjadi. Peristiwa yang sedikit memalukan, tapi Aku yakin bahwa Raka paham bahwa semua ini memang di luar kendaliku.

Suara Getar dari ponsel mematahkan pikiranku yang tengah melandai setelah berkecamuk Tak karuan. Aku meraih ponsel di dalam tas. Tidak ada pesan maupun telepon yang masuk, namun getaran ponsel masih terdengar. Jangan-jangan ..

Aku segera meraba-raba saku jas. Ternyata benar. Sebuah telepon masuk ke ponsel milik Raka. Aku berbalik mencoba mengejar bis, Namun sia-sia.

Dering teleponnya yang kembali senyap. memunculkan wallpaper dengan foto yang membuat aku terpaku di tempat.

Terlihat Raka duduk di depan pintu ruangan HRD disamping seorang perempuan. Keduanya tersenyum saat difoto secara tiba-tiba oleh rekan kerja yang lain ketika menunggu panggilan wawancara. Aku tahu, Karena Aku adalah perempuan di foto itu!!!

Aku masih terdiam, hingga tanpa ku sadari Raka berjalan mendekat.

"Kayanya, Aku ketahuan ya Nin"

Aku mendongak, melihat Raka menghampiri dengan senyuman canggung sembari menggaruk tengkuk yang tidak gatal. A

"Loh, Nin kenapa nangis?" Raka semakin salah tingkah.

"Aku seneng, aku bisa minta foto itu ke kamu. Kirain aku bakalan bener-bener kehilangan foto itu. Kamu Kan tahu, hp Aku sempet rusak". Aku nyengir sembari mengusap kasar air mata yang mengalir tanpa permisi. Tentu, alasan aku menangis tidak sesederhana itu. Yang jelas, perasaan khawatir dan takut itu sirna sudah, berganti dengan kebahagiaan tak terkira.

Raka menarik napas. Ia pasti sudah hafal pada temannya yang sedikit absurd ini. Ia kemudian meraih kedua ponsel yang Aku genggam.

"Nih.."

Raka mengembalikan ponselku dengan wallpaper yang sama.

"Dih? Kok wallpaper baekhyunnya jadi foto ini?" Protesku sembari tertawa.

Raka memutar bola mata. Ia berjalan acuh, meninggalkanku.

"Udah malam, Ayo aku anterin kamu pulang".

Dengan senyum dan Rona di pipi, yang enggan lepas, Aku segera berbalik, menyusul langkah Raka.

Lend Me Your Jacket, Please!Donde viven las historias. Descúbrelo ahora