01 • Stupid Daddy

17.2K 177 6
                                    

***Bondan POV

Hari ini aku bermaksud mengajak sahabatku untuk jalan-jalan. Aku pun menghampiri ia di rumahnya. Saat ku ketuk pintu, ternyata yang membukakan adalah ayahnya, yang selama ini aku kagumi. Ayahnya terlihat masih muda, dengan perawakan yang dihiasi oleh otot-otot kekarnya itu.

"Angganya ada, Pak?" tanyaku pada ayah Angga.

"Dik Bondan. Masuk dulu! Silakan duduk!" katanya ramah mempersilakan aku untuk masuk dan duduk.

"Angganya sedang liburan ke rumah Ibunya. Katanya ada urusan keluarga. Saya juga seharusnya ke sana, tapi berhubung saya lelah, jadi saya urungkan niat saya."

"Oh gitu ya, Pak!" kataku sedikit kecewa, "Tadinya saya mau ngajak Angga jalan-jalan. Maklum, habis ujian."

"Memangnya harus sama Angga? Nggak ada teman yang lain?" tanya Pak Sigit, ayah Angga.

"Ya mau sama siapa lagi, Pak! temen yang paling deket dengan saya juga cuma Angga. Yang lain paling udah punya acara sendiri-sendiri, Pak!" kataku.

"Wah, kebetulan. Gimana kalau sama saya saja. Saya juga lagi males di rumah sendirian," kata Pak Sigit menawarkan.

"Kalau Pak Sigit tidak keberatan ayo kita jalan, Pak!" jawabku.

"Tunggu ya, Bapak ganti baju dulu!" katanya seraya beranjak pergi.

Mimpi apa aku bisa berjalan-jalan dengan ayahnya Angga yang sexy ini.

Terus terang, aku memang sangat suka pada ayah sahabatku itu sejak pertama kali aku dikenalkan Angga padanya. Walau Pak Sigit lebih pendek dariku, tapi perawakannya begitu jantan. Tangan dan kakinya tampak berotot, sementara bekas cukuran selalu membuatnya tampak lebih macho.

Aku belum pernah melihat Pak Sigit bertelanjang dada, apalagi tanpa pakaian sepenuhnya. Tapi, bukankah kesempatan itu pasti akan selalu ada walau hanya sekali.

"Ayo, Dik Bondan" kata Pak Sigit sekeluar dari kamarnya.

Suaranya yang khas membuatku tersadar dari khayalanku tentang dirinya. Akhirnya, dengan Pak Sigit sebagai pengendara, kami berdua mulai meninggalkan kompleks rumah Pak Sigit.

"Kita mau jalan-jalan kemana nih?" Tanyanya.

"Keliling di alun-alun kota juga boleh, asal bisa melepaskan penatku aja, Pak!" kataku pada Pak Sigit ketika ia bertanya padaku tentang tujuan kami.

Selama perjalanan, aku tak henti-hentinya memandang tubuh kekar Pak Sigit dari belakang. Sudah lama aku impikan berdua sedekat ini dengannya.

Kini, ia memakai celana training tipis, kaos hijau ketat, dan jaket yang membuatnya tampak lebih berwibawa.

Setelah beberapa waktu, aku mulai memberanikan diri meletakkan kedua tanganku pada masing-masing paha Pak Sigit. Tak tampak penolakan sedikitpun darinya.

Menyadari hal demikian, aku pindahkan tanganku, sehingga kedua tanganku kini melingkar di perut Pak Sigit. Hal ini pun juga tidak mengurangi konsentrasi Pak Sigit dalam berkendara. Mungkin hal ini menjadi hal biasa baginya, tapi bagiku ini adalah sebuah kesempatan yang sangat sayang jika dilewatkan.

Lalu aku gesek-gesekkan tanganku secara perlahan pada perutnya, dan ternyata dapat kurasakan kerasnya perut Pak Sigit. Aksiku hanya sebatas menyentuh perutnya, tidak lain.

Aku tidak melakukan hal yang lebih jauh, karena aku masih belum cukup bernyali untuknya. Akhirnya, dengan tanganku yang melingkar di perut Pak Sigit, perjalanan keliling kami habiskan dengan mengobrol kesana-kemari, termasuk obrolan tentang seks.

Be My Slave, Dad!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang