Jangan lupa untuk terus memberikan dukungan berupa vote ya guys...
Selamat Membaca:)
"Selamat pagi semuanya... Jennira Rubyana Kusuma datang!!!" sapa Jennira dengan ceria. Ia mencium pipi seluruh anggota keluarganya dengan wajah cerianya seperti biasa.
"Pagi juga kakak cantik yang mirip Pitri." Balas Jevan tertawa meledek kearah kakak perempuan yang seringkali ia jaili itu.
Pitri itu nama kucing Jevan, berjenis perempuan dan berbadan gembul. Jevan suka sekali menyamakan kakak perempuan keduanya itu dengan kucing miliknya- karena menurutnya mereka itu mirip. Sama-sama kucing betina yang galak dan pipinya gembul.
"Pagi juga adik kakak yang paling cantik." Jisya sang kakak perempuan membalas dengan senyum berbentuk love miliknya.
"Pagi juga, Jeje." Vean ikut membalas, lalu tersenyum singkat. Dan melanjutkan sarapannya dengan tenang.
"Pagi sayang," balas Papa Alden, dan Mama Marsha berbarengan.
"Kayanya anak cantik Mamalagi semangat banget, nih. Lebih ceria gitu, ada apa, nih?" Tanya Marsha seraya menatap putrinya dengan senyuman hangat.
Jennira menduduki dirinya tepat di tengah-tengah Vean dan Jevan. Gadis itu membalas senyuman sang mama tidak kalah hangat.
"Hehe, Mama notice aja. Ohya, hari ini sekolah Jeje ngadain classmeeting Ma. So, Jeje gak belajar full tiga hari ini. Jadi rencananya Jeje mau hangout bareng temen-temen sekolah. Boleh kan, Ma?"Gadis itu kembali tersenyum lebar setelah menyudahi ucapannya.
Sebelum Marsha menjawab dengan suara lantang Vean bersuara. "Gak ada hangout-hangout. Kamu anak gadis, nggak baik keluyuran." Suara dingin Vean berhasil membuat senyum ceria di bibir Jennira menghilang seketika, ia menatap sang kakak tidak terima.
"Sekali-kali gapapa kali, Kak. Adiknya juga butuh refreshing." Sahut Marsha mewakili Jennira.
Jennira mengangguk menyetujui ucapan Mama nya.
Kini Vean menatap ibunya. " Mama mau kejadian yang dulu terulang? Mama tau kan, gimana Jennira? Dia itu ceroboh, Ma. Vean cuma gak mau kejadian dulu terulang. Lagipula gak ada gunanya ngumpul-ngumpul begitu, gak jelas juga arahnya. Lebih baik istirahat di rumah, habisin waktu sama keluarga itu lebih jelas. "
Alden menatap putranya, " Apa yang Vean katakan ada benarnya, Ma. Jennira masih terlalu kecil untuk pergi-pergian bareng teman-temannya. Papa juga jadi khawatir. "
Jevan dan Jisya hanya menyimak obrolan mereka tanpa berani ikut campur. Jika sudah menyangkut Vean dan Papa Alden rasa nya mereka ragu untuk menyuarakan pendapat nya sendiri. Meski rasanya tidak tega juga melihat Jennira tampak menunjukkan wajah kecewanya.
Gadis dengan mata kucing itu mengerucutkan bibirnya, wajahnya bak akan turun hujan, mendung sekali. Semangat yang tadi sempat menggebu-gebu lenyap begitu saja.
"Kenapa Papa dan Kak Vean selalu anggap Jeje itu masih kecil? Aku udah kelas sebelas. Udah remaja, bukan anak kecil lagi. Lagipula aku bisa jaga diri. Aku sama temen-temen cuma mau kumpul-kumpul, gak sampe malem. Tapi kalian berlebihan banget. "
Jennira melirik kakak perempuannya, "kenapa aku gak bisa kaya kak Jisya? Dia bebas kemanapun kakak mau. Padahal kakak juga perempuan, sama seperti aku." Gadis itu mengeluarkan segala unek-unek yang selama ini gadis itu pendam.
Tiba-tiba saja Jennira mengangkat tubuh nya. " Jennie jadi gak nafsu sarapan. Jev, kakak gak bareng kamu. Kakak berangkat duluan."
Kebetulan memang Jevan dan Jennira itu satu sekolah, dan setiap hari pasti selalu berangkat bareng karena memang Jennira tidak boleh membawa kendaraan sendiri. Sedangkan Jisya sudah kuliah dan sering di antar jemput kekasihnya.
Jennira sudah berada di ambang pintu. Namun saat hendak membuka knop pintunya suara lantang Vean menggema menghentikan kegiatannya. Ia menoleh dan mendapati wajah datar sang Kakak.
"Berhenti! atau kakak gak akan segan-segan marah ke kamu! Berangkat sama kakak!" Vean berdiri dari duduknya setelah menghabiskan sarapannya.
"Kak Jen berangkat bareng Jev aja, kak. "
"Diem! Anak satu ini memang harus di kerasin sekali-kali. Kamu berangkat bareng Jisya aja, kakak yang antar Jennira." Kakak pertama itu memang diktator. Aura gak bisa di bantahnya kuat banget.
Jevan hanya bisa mengangguk pasrah. Ia sebenernya tidak tega melihat kakak perempuan nya yang akan terkena omelan kakak sulungnya itu. Tetapi mau bagaimana lagi? Jevan saja tidak berani membantah Ravean.
Setelah menyalami kedua orang tuanya Vean segera menyusul Jennira yang masih berada diambang pintu. Vean segera menarik tangan Jennira lalu membawa Jennira berjalan menuju garasi mobil, lelaki itu langsung membuka pintu dan memerintahkan adiknya agar cepat masuk lewat tatapan tajamnya.
Setelah ia juga sudah masuk kedalam mobil dan duduk di kursi pengemudi Vean segera melajukan mobilnya membelah jalanan kota menuju sekolah Jennira yang cukup jauh dari area perumahannya.
Masih dalam perjalanan, Jennira tampaknya tidak mengeluarkan suara sama sekali, begitupun Vean yang tampak serius mengemudi. Keduanya sama-sama diam dengan pikiran masing-masing.
Hingga beberapa detik selanjutnya Vean menolehkan kepalanya kearah sang adik, pria itu menghela nafas sebelum memulai percakapan pada adiknya yang sedang dalam mode ngambek.
"Maafin kakak. "
Jennira noleh singkat, lalu kembali menatap jalanan.
"Jeje.. kakak punya maksud tertentu kenapa bisa ngelarang kamu terus. Jadi kakak minta buat Jeje ngerti maksud kakak. "
"Maksud kakak yang apa? Aku gak berbuat hal-hal buruk. Aku cuma nongkrong, itupun sama temen-temen sekolah. Kita semua gak ngelakuin apapun yang buruk. Lagipula apa bedanya aku sama Kak Jisya? Dia perempuan, tapi dari dulu selalu bebas kemanapun kak Jisya mau pergi. Tapi kenapa aku gak bisa seperti itu juga?"
Jennira mulai menangis. Melihat gadis kesayangannya mengeluarkan air mata sontak saja hal itu tak luput dari perhatian Vean. Pria itu menjadi tidak fokus menyetir.
"Jisya dan kamu berbeda, sayang. "
"Apa yang beda kak? Kita sama-sama perempuan dan sama-sama adik kak Vean. Apa yang beda?"
"Pokoknya kamu dan Jisya berbeda! Kakak gak mau bahas masalah ini terus-menerus sampe kita tiba di sekolah kamu. Mulai sekarang ikut saja apa yang kakak katakan. Jangan suka membantah! " Vean sedikit meninggi kan suaranya.
Mendengar suara kakaknya yang mulai meninggi Jennira pun terdiam. Gadis itu memilih membuang wajahnya ke kaca mobil.
"Maaf. Kakak gak bermaksud buat bentak kamu. Tapi kakak mohon, kamu jangan mancing-mancing kakak buat marahin kamu. "
Jennira tetap diam, ia enggan sekali mendengar suara sang kakak sekaligus melihat wajah kakak laki-lakinya itu. Moodnya benar-benar buruk dan ia tidak ingin bicara.
Vean menghentikan laju mobilnya saat tiba di area pekarangan sekolah Jennira, pria itu tersenyum kearah adiknya lantas mengecup pipi singkat.
"Maafin kakak ya sayang. " Ucapnya.
Jennira tanpa pamit keluar begitu saja dari mobil Vean, gadis itu bahkan menulikan pendengaran nya saat Vean terus memanggil namanya.
"Gadis nakal. Awas saja. " Lirih Vean seraya dengan gelengan kepala melihat sosok adiknya yang mulai menjauh dari pandangannya.
Bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
Forbidden Love || Sisterbrother
Fanfiction(Diharap untuk tidak mengikuti setiap adegan yang ada di cerita ini) Menghindar bukannya lupa, malah makin cinta. - Ravean Malik. # 1 Taennie 19 Maret 2025 # 1 Taennie 20 Maret 2025 # 1 Taennie 21 Maret 2025 Start : 25 Januari 2025 End : .... Pict:...
