Kesalahpahaman

10 3 0
                                        

Haloo!!!

Nama aku Navira, aku adalah murid pindahan. Aku pindah kesini karena pekerjaan orang tua. Awal aku pindah ke sekolah ini, aku belum mempunyai banyak teman, tapi akhirnya semakin lama banyak yang berteman denganku. Aku mempunyai tiga teman dekat, yaitu Nadiva, Sheilla, dan Zayn.

Bel berbunyi menandakan sudah waktunya jam istirahat, semua murid murid berjalan ke arah kantin. Saat di kantin aku bertemu dengan temanku zayn, dia berhenti di hadapanku.
" Kamu ada waktu gak setelah makan di kantin? " tanya zayn kepadaku.
" Ada zayn, kenapa emangnya? " jawabku.
" Aku ingin bercerita kepadamu, ada hal yang ingin aku ceritakan padamu. " jawab zayn.
" Baiklah, tunggu aku di tempat biasa ya. " ucapku sebelum pergi meninggalkan zayn.
Setelah selesai makan aku bergegas pergi ke tempat yang dimana zayn telah menungguku. sesampainya aku disana, zayn sudah menyuruhku untuk duduk disampingnya.
" Sini nav, duduk disini. " ucap zayn sambil menepuk kursi yang ada disampingnya.
" Baiklah. oh iya, tadi kamu ingin cerita apa? " tanyaku yang baru saja duduk disebelah zayn.
Zayn pun memulai menceritakan semua hal yang ingin dia sampaikan padaku. Setelah selesai aku pun beranjak pergi untuk ke kelas, karena bel sudah berbunyi yang artinya waktu istirahat telah berakhir.

Hari-hari pertemananku seperti biasa berjalan baik-baik saja, seperti aku dan Zayn yang selalu bertukar cerita satu sama lain, aku dan Nadiva yang selalu berangkat atau pulang bersama, serta aku dan Sheilla yang duduk satu bangku bersama.

Suatu ketika saat jam istirahat sebelum aku keluar kelas, tiba-tiba Nadiva menghampiri mejaku sambil berdiri di hadapanku.
" Vir, aku sedikit iri denganmu yang bisa sedekat itu temenan sama Zayn. Aku suka sama Zayn dan aku pengen bisa dekat sama dia, sama kaya kamu bisa dekat dengan dia. " ucap Nadiva yang sedari tadi menundukkan kepalanya.
" Kamu bisa kok dekat sama Zayn, bukannya kalian juga sekelas mulu dari dulu sebelum aku pindah kesini ya? " tanyaku kepada Nadiva.
" Iya si...tapi aku gak pernah sedekat kaya kamu gitu, paling aku hanya bertanya soal tugas dan saling nyapa aja kalau setiap ketemu. " jawab Nadiva, lalu dia segera pergi meninggalkanku begitu saja dengan memasang ekspresi wajah sedihnya saat keluar kelas.

Selepas kepergian Nadiva tadi, aku langsung pergi menemui Sheilla yang sudah menungguku di kantin. Selesainya aku makan bersama Sheilla di kantin, aku baru menyadari bahwa hari ini aku belum melihat kehadiran Zayn sama sekali. Biasanya sih kalau aku di kantin pasti dia menyusul dan selalu berkata " temui aku di tempat biasa ya, ada hal yang ingin ku ceritakan padamu. " tapi hari ini aku sama sekali belum melihat keberadaan dia, tidak perlu banyak berpikir aku langsung pergi ke kelas.

Sesampainya aku di kelas, aku melihat Zayn yang sedang duduk sambil menelungkupkan kepalanya. Aku segera menghampirinya, karena tidak biasanya dia seperti ini.
" Zayn? kok tumben aku tidak melihatmu di kantin sejak tadi? " tanyaku sembari memiringkan kepala. Melihat wajah Zayn yang pucat, aku mengulurkan tanganku untuk mengecek suhu tubuhnya. Panas, badannya lumayan panas.
" Loh? Zayn, kamu sakit? kenapa tidak bilang guru supaya di antar pulang atau di bawa ke uks saja. " tanyaku lagi, dengan memasangkan wajah yang cukup panik.
" Eh? enggak kok, aku enggak sakit." sanggah Zayn.
" Kalau sakit itu bilang, sebentar aku panggilkan guru dulu. " ucapku pada Zayn.
" Gak usah, Vir. Aku masih kuat kok. " ujar Zayn.
Tidak mempedulikan ucapan Zayn tadi, aku segara pergi mencari guru untuk membawa Ilyas pulang atau di bawa ke uks.

Setelah Zayn di bawa ke uks, aku ke kelas dan langsung menduduki tempat duduk ku. Tiba-tiba Nadiva datang menghampiriku, dengan sedikit menunjukkan wajah yang ingin bertanya.
" Vir, tadi Zayn kenapa? kenapa dia di bawa ke uks? dia sakit apa? " tanya Nadiva.
" Dia demam. Aku kira dia enggak keluar kelas dari tadi karena marah padaku, ternyata dia sakit. " jawabku pada Putri yang hanya di balas dengan anggukan.
" Oh iya, aku mau tanya sama kamu boleh? " tanya Putri lagi.
" Boleh kok, mau tanya apa emangnya? " balasku dengan mengangkat satu alis.
" Kamu suka sama Zayn, ya? " tanya Nadiva dengan penasaran.
" Iya. Aku suka sama Ilyas sebagai teman, soalnya temenan sama dia seru sekaligus asik. " jawabku dengan senyum lebar.
" Oh...kalau gitu makasih, ya. Aku cuma mau nanya itu aja. " balas Nadiva, lalu dia kembali ke tempat duduknya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Feb 08, 2023 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Kesalah Pahaman antar SahabatStories to obsess over. Discover now