Saat hujan reda aku kembali melanjutkan perjalanan. Daerah yang kulewati makin sepi, hanya terlihat satu dua rumah di pinggir jalan yang ditumbuhi rimbun pepohonan. Lebih jauh lagi, akhirnya lampu jalan makin jarang.
Dan akhirnya kabut yang muncul selepas hujan benar-benar makin tebal dan menghalangi jarak pandang. Laju sepeda motor ku pelankan, lampu motor kunyalakan. Beberapa belas meter jalan kelihatan didepan. Sisanya buram jadi semacam siluet abstrak dibalik tirai tebal uap air.
Tak cukup semilir angin dingin menerpa, jaket yang ku kenalan tak bisa memberiku cukup kehangatan. Aku mulai mengigil, bulu kudukku meremang, lebih buruknya rintik air kembali datang menyerang dan menyusup lewat sela-sela pakaian yang kukenakan.
Merinding, mengigil kedinginan, aku tetap memaksa melaju karena tak ada tempat untuk menepi. Hingga akhirnya ada cahaya samar yang terlihat, seperti kunang-kunang kecil yang jatuh dalam air berlumpur. Aku memacu sepeda sedikit lebih kencang, lalu menepi.
Tampaklah jelas kini asal cahaya tadi, lentera minyak yang digantung di sebuah warung kopi. Bangunannya sederhana dari kayu, dinding anyaman bambu dan atap rami.
Didepan, diantara renteng minuman instan dan hanya dibatasi meja tua hitam yang nampak rapuh. Seorang wanita menatapku, sepertinya pemilik warung ini.
Dia tak bergerak
Dia tak berbicara
Wanita itu hanya tersenyum tanpa berkedip padaku seperti sebuah boneka dan- ya Tuhan aku bisa mengatakan bahwa perempuan itu adalah salah satu makhluk paling menakjubkan yang pernah mataku lihat.
YOU ARE READING
Mari mas, enak lho
Random"Mari mas," kata wanita itu sambil mengedipkan mata "Enak lho." Lidahnya menjliat sisa gorengan di sekitar bibir. Aku meneguk ludah
