1

437 12 0
                                        


 Dirga menghela napasnya dengan pelan saat surat-surat itu kembali memenuhi lokernya, ingin rasanya mengunci lokernya dengan berbagai sandi yang sangat sulit agar lokernya aman dari berbagai macam hal seperti ini.

Dirga pun kembali menutup pintu lokernya dengan sedikit kasar, ia lelah membuang-buangnya. Pasti setelah ia buang, sampah itu akan kembali menumpuk di dalam lokernya. Dirga mengunci lokernya dengan kasar pula, lalu meranselkan satu kembali tasnya dengan wajahnya yang tampan itu terlihat badmood.

Ia mulai mengeluarkan kunci mobilnya, ia akan langsung pulang ke rumahnya. Dirga memberantaki rambutnya dengan perasaan kesalnya, lalu tidak memperdulikan sapaan orang-orang di sekitarnya.

"Yaahh.. kayanya dia nggak lihat surat kita lagi."

"Ya, mau gimana? Kita chat juga nggak bakal dibalasnya."

"Kita ini hanya apalah, remahan rengginang di kaleng-kaleng kongguan."

"Apaan sih! Udah ah.. cabut ke rumah. Besok kita kirim makanan atau yang bisa menjadi bahan pertimbangan dia. Ketua Osis kesayangan kita-kita."

"SIAP!86!"

Para siswi penggemar seniornya, Dirgantara Surya.

**

"Akhirnya selesai juga! Liburan, gue datang..." Kiara melompat kecil saat ia meneriakkan kegembirannya mengenai ujian nasionalnya telah selesai.

Kiara segera mengambil ponselnya di dalam saku bajunya, lalu dengan senyuman manisnya ia meletakkan ponselnya di sisi telinga kanannya.

"Ma, adek udah selesai ujian. Adek mau sekolah di sana, di Australia." Kiara mulai berbicara dengan penelpon di ujung sana.

"Adek yakin? Bang Azka temannya siapa dong kalau adek di sini?"

Kiara mencebikkan bibir bawahnya dengan imutnya,"bang Azka kan udah mandiri, lagian dia kan laki-laki, pasti bisa hidup sendirilah. Adek kangen Mama sama Papa..." Kiara merengek kecil kepada Mamanya yang di dalam telepon itu.

"Kok gitu, sih? Bang Azka nggak bisa lho kalau adek nggak dekat dengan dia. Memang mau bang Azka sedih?"

"Mamaaa... nggak mau di sini, adek mau di sana. Lagian Papa juga! Ngapain kerjanya sampai di sana sih!" protes Kiara sembari menghentakkan kecil kedua kakinya.

"Ya sudah, kalau adek ngotot ke sini, adek minta izin dulu ke abangnya. Mama juga nggak mau persekolahan adek terganggu karena ketidaknyamanan. Gimana tadi ujiannya, Dek? Bisa?" tanya wanita paruh bayah itu di dalam telepon itu.

"Ya, gitu.."

"Gitu gimana?"

"Ya, kaya ujian biasa.. paling ada salah dua atau tiga atau mungkin dua puluh."

"Mama doain supaya nggak ada yang salah. Oh iya, Mama sampai lupa.."

"Kenapa, Ma?"

"Mama mau tidur, tapi nggak jadi karena kamu nelpon Mama. Sudah dulu ya, Sayang.. Mama mau tidur, byeee.."

Dan panggilan itu mati. Kiara hanya dapat menghela napasnya saat mendengar Mamanya kembali seperti itu, ia pun meletakkan ponselnya di dalam saku seragam sekolahnya, ia akan pulang dengan perasaan damai.

"Australia... Kiara is coming!"

**

"Nggak! Pokoknya, Ara harus di sini sama Abang. Kalau mau ke Australia, tahun depan kita liburan ke sana. Pokoknya, Ara harus sekolah di sini sama Abang, nggak ada yang namanya sama Mama, sama Papa." Azka menolak keinginan Kiara yang hendak sekolah di Australia, tempat di mana orang tua mereka bertempat tinggal karena urusan bisnis yang mengharuskan mereka di sana.

Orang tua Azka dan Kiara menyekolahkan mereka di Indonesia dikarenakan ingin mendidik anaknya agar terbiasa untuk tidak bergantung kepada orang tuanya.

Kiara yang mendengarkan penolakkan Azka membuatnya menatap Azka dengan kesal. "Abang mah.. ih! Gue mau dekat sama Mama! Lagian lo juga repot kan ngurusin gue? Ngaku, lo!" balas Kiara dengan suara rengekkan kecil khasnya.

Azka mengernyitkan dahinya, "memang selama ini gue ada ngeluh tentang tingkah lo? Enggak, kan? Gue sayang sama lo, Dek.. lo saudara perempuan gue yang bikin gue mau lawan siapa aja yang bakal nyakitin lo. Tapi lo nya malah minta pindah.. sama abang aja di sini.. nggak kasian sama abang sendiri di Indonesia?" Azka mencoba untuk merubah keinginan Kiara untuk tetap tinggal di sini bersamanya.

Kiara bersedekap dada dengan bibir bawahnya yang ia cebikkan. "Lagian Mama setuju kok kalau Ara di sana," ucap Kiara dengan wajahnya yang terlihat merajuk.

Azka yang sejak tadi berdiri di depan pintu kamar adiknya, kini berjalan dan menaiki tempat tidur Kiara agar dapat meniadakan jarak dengan Kiara. Azka mengusap rambut cokelat gelap adik kesayangnya ini, ia mengingat bagaimana bahagianya saat mendengar bahwa Mamanya mengandung Kiara. Ia sangat menyayangi saudara perempuanya ini.

"Abang yang nggak bisa jauh dari Ara. Ara tahu persis kan gimana Abang kalau Ara jauh? Kalau nggak demam, ya pasti nangisi Ara. Memang Ara mau Abang kaya gitu lagi?" tanya Azka dengan lembutnya.

Kiara menggelengkan kepalanya sembari memeluk saudara laki-lakinya ini, ia begitu menyayangi Azka. Azka mengusap rambut adiknya dengan lembut, si tubuh mungil namun memiliki jiwa premanisme.

"Boneka Abang, guling hidup, squishy kesayangan Abang." Azka dengan gemasnya menciumi habis pipi Kiara hingga memerah, Kiara berteriak.

"BANG! SESAK INI! WOI! YAELAH.. ADEK LO INI, SAT..."

Azka memberhentikan ciumannya ketika mendengar sesuatu kata ketidak sopanan dari Kiara.

"Sat? Bangsat maksudnya? Ohh.. sekarang udah bisa ngomong nggak sopan sama Abangnya. Bagus..—"

Kiara tersenyum memaksa," maksudnya satu hati berjiwa teguh."

Azka kembali memeluk adiknya dengan gemas, layaknya boneka. Kiara kembali merasakan sesak napas.

**

BAD THINGS (TOUCH LOVE)Where stories live. Discover now