une

49 1 0
                                        

Jakarta

Gadis belia itu berlari sekencang mungkin untuk menghindari beberapa panggilan dari seseorang yang memanggil namanya.

"Chika!!"

Kata itu terus berulang ulang membuat Chika tak bisa memberhentikan langkahnya yang sudah terlanjur jauh.

Sekarang ia ada disini, roftoop terbangkalai. Tempat favoritnya jika ia sedang ada masalah.

Chika mendudukkan diri di sebuah sofa rongsokan. Kemudian menangis tanpa memperdulikan seseorang mendengar.

"Kenapa semua orang jahat? mereka selalu merintah tanpa ngerti gimana perasaan yang diperintah"

"Woy, aish nih anak. Lu tau gua lari berkilo kilo meter buat nyusul lu doang disini!"

Chika menoleh kearah sumber suara, ia tak menggubris dan malah kembali fokus menangis.

"Eh eh, jangan nangis, aduh sorry gaada maksud buat marah marah sama lu. Cuma gua kesel aja, sorry ya, maaf" pria dengan setengah ras china itu berakali kali mengucap kata maaf karena kebodohan yang ia perbuat

"Jiro, temenin gue, gue takut disini sendiri"

Jiro menatap datar gadis teman kecilnya. "Emang lu doang yang paling bego di dunia ini, dah tau takut kenapa ga pulang idiot"

"Lu mau gue di omelin lagi sama ortu gue? gue cuma mau mereka nurutin gue sekali aja ko, gue ga pernah tuh minta ini itu nganu ngana" Chika kini sudah lumayan mereda tangisnya

Mereka duduk bersama sambil melihat hamparan langit malam yang terlihat akan hujan sebentar lagi.

"Ayo pulang, gua ga bawa payung, ujan bentar lagi"

"Lu aja yang pulang, gue disini aja, lagian enak, dingin"

"Enak enak mata lu,lu sakit ga usah alesan ga sekolah ya, cape gua yg ijinin terus"

"Suruh siapa mau"

"Terpaksa"

Mau tidak mau Jiro harus menggendong Chika karena gadis itu sangat keras kepala dan tak patuh.

Menghiraukan Chika yang berteriak, Jiro segera menerobos hujan bersamaan dengan gadis itu.

Di sudut rooftop ada seseorang yang memperhatikan mereka berdua.







"Milikku, itu milikku"

You And The Rooftop Stories to obsess over. Discover now