"eungh...kenapa badanku sakit semua?", Lenguhnya pelan sambil memijat bahunya yang sedikit sakit.
"Ma..bisa kesini nggak? Badan adek sakit!", Baru saja Dita ingin merebahkan tubuhnya, namun tangannya buru-buru disentak dengan keras.
"Heh! Mau apa kamu? Ini udah siang, jangan jadi orang yang ga tau diri ya!", Dita mengerjap dan terkejut dengan sosok wanita di depannya.
"S-siapa?", Tanya Dita ragu masih bingung dengan suasana disini.
"Kau pikun? Apa ini rencana licikmu lagi agar tuan membopongmu ke kamar seperti kemarin?", Dita mengernyit dan mengalihkannya pandangannya kepada kamar yang ia tempati.
"Haah! Woaahh ha..ha..ha..", Dita terkejut dan berlari menelisik lebih dekat ruangan yang begitu megah itu
Lihat balkonnya sangat luas, ada sofa, televisi, lemari baju yang besar, ranjang yang besar, kamar mandi yang luas, jangan lupakan nuansa emas dan putih membuat Dita seperti berada di istana.
"Hey perempuan rubah!", Dita segera menoleh dan menunjuk dirinya sendiri.
"Iya kau! Cepat keluar dari kamar tuan dan bersihkan dapur, aku ingin pergi belanja. Jangan membuat ulah!", Dita mengernyit menatap sebal perempuan yang tampak lebih tua di depannya itu.
"Kenapa menyuruhku? Memang aku pembantu?", Yang diajak bicara sontak melotot.
"Dasar pembantu rubah! Di depan tuan saja kau lemah lembut. Tapi di depan kami kau sangat kurang ajar!",
Dita tertawa menunjuk dirinya dan mengatakan pembantu seolah mengejek dan tidak percaya jika ia adalah pembantu.
"Keluar sekarang atau kekasih tuan yang akan melaporkan kelakuanmu pada tuan!", Tak ingin berlama-lama, Dita memilih keluar dari kamar megah itu dan memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.
"Sejak kapan aku jadi pembantu? Mama membuangku atau bagaimana? Tapi kenapa aku tidak ingat apapun?", Tanyanya terus berjalan hingga sedikit terpental kebelakang.
"Awwss...", Ringisnya memijit dahinya yang sakit akibat menabrak sosok tinggi di depannya.
Dita melihat seseorang di depannya memakai sepatu hitam mengkilat, sudah dipastikan dia laki -laki. Pandangannya semakin keatas menampakkan pakaian formal berwarna Dongker senada dengan dasinya. Sampai pada pahatan wajahnya Dita terbelalak hingga melangkah mundur beberapa langkah.
"Oh my God!", Dita terkejut sambil menutup mulutnya yang menganga lebar.
"Kenapa? Ada yang salah dengan saya?", Dita menggeleng kencang sembari meringis.
Dia semakin bingung, ada apa ini sebenarnya.
"Oh kekasihku nanti akan datang kesini, kuharap dia menemukan makanan yang pantas tidak seperti kemarin. Aku permisi!", Dita menganga dan hanya mengangguk kikuk menjawab ucapan orang yang baru saja melewatinya.
"Mata tajam, bulu mata lebat, hidung terpahat sempurna. D-dan bibir... bibirnya sedikit tebal. Dia sempurna seperti tokoh novel kesukaanku!", Pekiknya sedikit kencang yang membuat telinganya ditarik paksa oleh seseorang di belakangnya.
"Maid Dita! Kau lupa aku menyuruhmu apa?!", Itu orang yang sama yang membangunkan Dita dengan kasar.
"Aaa...s-sakit lepasss!", Dita berteriak sambil berusaha mendorong orang itu menjauh. Bukannya menjauh telinganya semakin ia tarik.
"Ayo ikut aku, jangan bermalas-malasan!", Dita hanya pasrah ditarik oleh perempuan itu.
Sungguh saat ini Dita ingin menangis. Bagaimana mungkin dirinya berakhir disini dengan tugas membersihkan dan mencuci semua peralatan dapur hingga bersih. Jangan lupakan Nani yang merupakan anak kepala maid tadi yang saat ini tengah mengawasi Dita.
"Bisa biasa saja tidak menatapnya? Kau membuatku serasa dikuliti!", Nani mengernyit, menatap Dita dari atas hingga bawah.
"Tidak mengeluh tanganmu akan kasar lagi? Atau tanganmu terkena panci panas lagi?", Dita ingin menangis. Apa yang sebenarnya terjadi?
"M-memang aku seperti i-tu?", Tanyanya dengan nada hati-hati.
Brak!
Dita terkejut, hingga busa yang ia pegang terbang hingga kewajahnya.
"Jangan pura-pura lupa! Kau sangat licik, jahat, pemalas, dan rewel!", Maki Nani sambil menunjuk Dita dadi ujung kepala hingga ujung kaki.
"Sebenarnya ini apa? Aku ada dimana?", Tanyanya sedikit berteriak.
Lama-lama Dita frustasi jika seperti ini. Dirinya seperti orang amnesia yang tidak ingat apapun.
"Kau memang layak disebut rubah queen.", Ledeknya dengan wajah yang tidak nyaman untuk dilihat.
"Nani... sepertinya aku hilang ingatan.", Ucapnya datar dengan ekspresi seperti menahan tangis.
.
.
"Apa benar kau amnesia?", Dita mengidikkan bahunya tanda tak yakin.
"Bahkan aku saja tak tau kenapa aku bisa sampai disini.", Terang Dita jujur. Sungguh Dita ingin keluar dari rumah dan situasi ini.
"Apa yang kau taruhkan agar aku percaya dengan ucapanmu?", Tuding Nani masih dengan tatapan menelisik.
Dita menghela nafas, "aku bahkan tidak tau nama ibumu, majikanku, dan kekasihnya.", Seru Dita membuat Nani heran.
"Kau bohong ya?", Dita merengut merengek lelah. Apa yang harus dia jelaskan agar gadis yang beberapa tahun lebih muda darinya ini percaya.
"Baiklah...coba kau ceritakan atau sebut saja nama semua orang yang ada dirumah ini satu persatu!",
Nani mengangguk dan mulai menceritakan cerita keseluruhan yang berkaitan dengan penghuni rumah ini. Saat perempuan itu menyebut nama Ying Anderson Gretchen, membuat pikirannya berkelana dengan sosok karakter fiksi kesukaannya yang sayangnya penulis membuat plotnya kacau.
"Y-ying Anderson Gretchen? M-maksudmu t-tuan muda Chen?", Nani mendelik dan memukul lengan Dita kencang.
"Kau bohong ya? Itu kau tau tuan muda Chen!", Dita terkejut.
"J-jadi benar? D-dan kekasihnya...", Dita terdiam sejenak sembari menguatkan mulutnya untuk menyebut nama itu.
"...Putri kecil Ane kesayangan nyonya?",
Plak!
"Tuh kan! Kau bohong ya? Buktinya kau tau semua.", Teriaknya kembali memukul lengan Dita.
Dita hanya mampu terdiam meratapi nasibnya yang buruk. Kenapa harus terjebak disini? Dalam cerita ini? Kenapa harus didalam novel yang sangat ia kutuk? Kenapa ia harus menjadi Dita sosok antagonis? Apa ia harus berakhir tragis seperti Dita? Sungguh Dita ingin menangis saja sekarang.
"Y-ya! A-aku memang bohong. Sudah tau aku sangat memuja tuan mudaku. Kenapa kau masih percaya ha?!", Teriak Dita tiba-tiba yang membuat Nani terkejut dan mendelik sebal.
"Ya rubah! Kau memang...hiiiih, sangat menyebalkan!", Setelahnya Nani beranjak dari kursi dapur meninggalkan Dita yang masih tetap dengan wajah angkuhnya.
Mata Dita melihat ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada siapapun di sekitarnya.
"Huuuhh...", Nafasnya kasar.
Dita sungguh frustrasi sekarang. Bagaimana caranya kabur jika ia saja tidak tau bagaimana caranya kembali. Apa ia benar-benar harus menamatkan cerita ini?
Bukankah akan tragis dan sangat sakit jika Dita tetap menjalani semuanya sesuai plot? Apakah itu tidak begitu kejam untuk seseorang yang hanya jatuh cinta, walau memang caranya dan tindakannya salah? Bagaimanapun menurut Dita, karakter 'Dita' dalam novel hanya gadis polos yang begitu naif untuk mendapatkan perhatian tuannya.
Memikirkan itu Dita tersenyum licik, dengan sunggingan lebar di bibir tipisnya. "Jika penulis ingin membuat Dita begitu menderita, Dita yang asli akan membuat semua plot Dita begitu istimewa, hahaha..haha..."-
"HUWAAA mama... Dita mau pulang!", Teriaknya sembari terduduk seperti jelly. Ini lebih mengerikan daripada mendapatkan nilai nol disekolah.
Hai hai...
Pertama kali buat cerita transmigrasi ngebuat aku agak takut sebenernya.
Tapi aku suka alur ini, jadi...
Selamat membaca...
YOU ARE READING
The Ending Of Story (Transmigran)
Teen FictionTerjebak di sebuah novel adalah impian seorang Dita yang merupakan penikmat buku. Seorang kutu buku yang sekelilingnya selalu ditemani oleh benda tebal berbau khas itu. Dalam angannya ia selalu ingin menjadi pemeran utama dalam novel yang ia baca. I...
