Seorang pemuda tampak berjalan dengan cara mengendap-endap layaknya seorang pencuri. Beruntungnya suasana didalam rumah tampak begitu sepi dan gelap. Lantas dengan langkah panjangnya, iapun bergegas hendak menaiki anak tangga menuju kamarnya namun sebelum itu....
'Clek'
Terdengar bunyi saklar lampu yang baru saja dinyalakan. Seketika seluruh ruangan yang tadinya gelap mendadak terang. Pemuda itu tampak menelan salivanya dengan bersusah payah begitu mendapati sesosok pria paruh baya berdiri tak jauh darinya dengan pandangan yang tak terbaca.
"D-daddy...?". Ujarnya dengan sedikit melirih.
"Darimana saja kamu, Jay? Kenapa jam segini baru pulang?". Pria paruh baya yang di panggil dengan sebutan 'Daddy' itupun lantas berjalan menghampiri putranya.
"Aku.. Aku habis main diluar. Bukannya Daddy juga tau".
"Main apa kamu sampai pulang jam 2 pagi begini?".
Si pemuda Park itupun lantas mendengus pelan sebelum menjawab kembali ucapan Ayahnya. "Tck. Apa Daddy lupa? Ini bahkan masih terlalu dini untukku. Biasanya aku akan pulang besok paginya. Sudah dulu ya Dad, jangan tanyai aku terus. Besok lagi saja ya karena aku sudah sangat mengantuk sekali. Selamat malam!".
Lantas setelahnya, si pemuda Park itupun menaiki anak tangga dengan tergesa karena tak ingin lebih lama lagi mendengar ocehan Ayahnya.
"Yak! Park Jongseong!".
Keesokkan harinya....
Jay dan kedua orang tuanya pagi ini telah terduduk bersama sembari menikmati sarapan mereka. Suasana di meja makan itu tampak begitu hening yang terdengar hanyalah suara alat makan mereka yang saling beradu.
"Jay..". Panggil si kepala keluarga yang memecah kesunyian.
Pemuda tampan dengan balutan jas khas kantoran itupun akhirnya mendongak. "Iya, Daddy?".
"Bagaimana dengan pekerjaanmu? Apa semuanya baik-baik saja? Kamu tidak merasa terbebani dengan tanggung jawabmu itu bukan?". Ujar pria paruh baya itu sembari menyeruput segelas susu.
"Hm. Semuanya baik-baik saja kok. Tapi.. Kenapa tiba-tiba Daddy bertanya seperti itu padaku?". Sahut si pemuda Park itu sembari menghentikan kegiatan makannya.
"Mulai besok kamu tidak usah datang ke kantor".
Sontak saja Jay pun membulatkan kedua matanya begitu mendengar ucapan Ayahnya barusan. "Daddy, aku bilang semuanya baik-baik saja kan? Aku juga tidak membuat kesalahan tapi.. Kenapa Daddy memintaku untuk tidak usah pergi ke kantor lagi? Apa Daddy ingin menghentikanku?".
Kedua orang tuanya itupun lantas saling melempar pandang satu sama lain sebelum sang kepala keluarga kembali bersuara, "Daddy hanya ingin memberimu sebuah hukuman".
Alis milik si pemuda Park itupun tertaut. "Apa?".
Pria paruh baya itu menatap lekat sosok putranya dengan sangat serius. "Kamu pikir Daddy ini tidak tau apapun. Coba kamu lihat ini". Ujarnya sembari melempar sebuah amplop putih kehadapannya. Jay sedikit mengeryit sebelum mengambilnya. Iapun lantas membuka isi dari amplop tersebut.
"Daddy mengintaiku?". Ujarnya begitu melihat banyak sekali foto dirinya dari berbagai sudut dan di berbagai tempat pula.
"Kenapa Daddy melakukan semua ini? Daddy aku sudah besar, jadi tidak perlu diikuti seperti ini terus!".
YOU ARE READING
cutie gwishin | jaywon
Horrordo not allowed to copy paste my story for any reason! [ Summary ] Semenjak menginjakkan kakinya di kediaman sang Nenek, entah mengapa Jay jadi memiliki kepekaan terhadap makhluk tak kasat mata. Salah satunya adalah hantu kecil yang menghuni kamar mi...
