Plak......suara tamparan di pipi begitu terdengar begitu keras air matapun mulai bercucuran, telinga berdengung. Mengingakan kembali akan hari dimana seorang anak yang tak diinginkan, seorang keluarga yang tak diinginkan. Namun wanita berparuh baya datang melihat sang ayah, memukuli anaknya karena perihal barang bekas miliknya diambil. Mimpinya dira
Dira udah subuh. Katanya mau bangun pagi-pagi?
Pintu kamar dika terbuka. sang mama muncul dan langsung menghela napas, wanita paruh baya itu
mengambil Saragam dikursi, lalu keluar dari kamar. Papa membuka pintu kamar dira dengan kasar, sampai-sampai membentur dinding. Papa berdecak takjub melihat anak perempuannya yang masih tidur pulas. Sesosok laki-laki, tinggi, berambut gondrong, tortawa puas melihat sang adik yang masih tidur.
Arya berjalan dari dapur menuju ruang tengah, ia melangkah ke meja Setrika. Dia memutar pengatur suhu menjadi kesuhu paling tinggi, lalu dengan santainya, setrika itu diletakkan diatas celana dira.
Dira keluar dari kamar mandi dengan terburu-buru Dia berhenti berjalan bau gosong tercium.
"Jangan bengong aja,celana lo gosong, tuh". Kata arya sambil bejalan mundur dan tersenyum.
karena arya dira akhirnya terlambat dan dihukum habis-habisan oleh para senior.
Dira sudah tak sabar untuk pulang. Kakanya itu belum mendapatkan hukuman setimpal.
Apa yang terjadi tadi bukanlah keisengan pertama yang arya lakukan kepadanya.
"lo dari tadi senyum-senyum ar. Nggak karasukan,kan lo?" tanya Adrian
Ketika melihat arya sedang berdiri bersandar di dinding koridor.
"makin hari makin gila aja si monyet" Arga ikut berkomentar.
Sementara arya meresponnya dengan Cengiran
"Tobat, Ar."
Arga melepaskan tangannya kemudian memukul punggung Arya keras hingga sahabatnya itu tersentak dan kesakitan.
Menjengkelkan!
Hanya satu kata itu yang menguasai Kepala dira. Seharian ini, dira semakin khawatir hari-hari yang akan dia lewat nanti akan sangat menyebalkan karena adanya sosok kakak yang menyebalkan itu
"Dasar si jahil bermuka dua". gumamnya.
Terkadang, sebelum bel masuk berbunyi, Arya dan beberapa temannya sering berkumpul di pos satpam. Entah untuk mengobrol dengan pak satpam, ataupun untuk bertanding catur.
Arga menepuk bahu arya. dan ketika arya menatapnya, Arga Menggerakkan dagunya ke arah depan gerbang sekolah.
" Adik lo tuh".
Arya sudah semangat ketika mendengar adiknya itu yang terlintas dibenaknya pertama kali adalah ingin Mengerjai dira lagi.
" ARGGH! NYEBELIN."
Dira meremas rambutnya, lalu berjalan pergi meninggalkan arya. Arya berpikir sejenak. Ia tersenyum, dira tersentak segera mundur hinga ia tidak bisa menyeimbangkan posisi tubuhnya, Adiknya terjatuh. Arya tak bisa menahan tawa melihat raut wajah dira, lalu adiknya bangkit tetapi kakaknya itu masi menghalangi, Jalannya. Arya berjalan kembali ke pos satpam dan kembali duduk di sana. Dia mengambil gitar dan memetiknya sekali Arya keluar lagi dari pos satpam la naik ke motor dan
memakai, helm hitamnya. Arya tertawa. Dengan perlahan la melepaskan helmnya.
"Sekali lagi lo ngelakuin hal yang aneh. aneh, lihat aja! Ancam dira. "
"Ada apa lagi. Sih ra masih pagi udah ribut -ribut." kata mama dari luar kamar. "
"Biasa ma. Kak arya buat ulah lagi, tuh," balas dira berusaha sabar.
"Gue bocorin satu rahasia lo kalau lo lebih takut sama satu belatung dibanding sama seribu kecoa" kata arya.
"Sial"
Sontak arya terkekeh. Senyum jahilnya muncul.
***
Dira melirik Jam, Sudah hampir pukul 11 malam dan masih ada beberapa nomor lagi tugas yang harus dikumpulkannya besok.
"Hufh.."
Dira bergerak gelisah ditempat tidurnya. ia bangun dengan rambut yang sangat berantakan, lalu turun dari tempat tidur, menuju ruang tengah. Arya menoleh dan melihat ujung lengan baju dira. arya terkekeh.
"Ngapain anak cewek ngintip-ngintip? " tanya arya.
"Hua"!!
Dira mundur dan hampir terjungkal.
"Kenapa muka to makin hari makin Jelek, sih".
Arya mendorong Jidat dira dengan telunjuknya
"Kakak terganteng didunia ini dikatain jelek Emang ya, dasar lo anak pungut durhaka". Dira melotot.
YOU ARE READING
DIRA
Humor"lo dari tadi senyum-senyum ar.Nggak karasukan,kan lo?" tanya Adrian ketika melihat arya sedang berdiri bersandar di dinding koridor. "Makin hari makin gila aja si monyet, Arga ikut berkomentar Sementara arya meresponnya dengan Cengiran "Tobat, A...
