1. Pria di Ujung Meja

49 8 11
                                        


Jemari di pangkuan kupilin seolah-olah riuh degup jantungku akan mereda dengan melakukannya.

"Mbak Indana." Prof. Tina, pembimbing skripsiku, menyebut nama depanku dengan logat Jawa kental dan intonasi kelewat datar. "Walaupun masih bab awal, tapi tetap harus diperhatikan margin-nya." Sebuah penggaris besi diketukkan berturut-turut di margin atas halaman pertama, lalu margin kiri, margin kanan, dan terakhir margin bawah, sambil berkata, "Tiga. Tiga. Empat. Empat."

"Nggih, Prof." Pilinan jemariku semakin kuat.

"Ini." Wanita yang duduk di hadapan itu menunjuk margin kiri, lalu meletakkan penggaris di sana. "Terlalu mepet. Nggak sampe tiga senti ini." Lalu, penggaris itu dia letakkan di margin bawah. "Penomoran halaman, jaraknya setengah senti dari batas terbawah."

"Nggih, Prof." Lagi, aku mengangguk.

Hari ini, printerku ngadat sehingga harus melakukannya di luar. Sialnya, aku lupa memeriksa ukuran margin yang kadang memang berubah mengikuti merk printer yang digunakan.

Suara kertas yang perlahan dibalik oleh tangan Prof. Tina rasanya seperti mengiris-iris pendengaran.

"Salah satu variabel yang Anda pakai ini harus diperkuat lagi landasan teorinya. Ini masih terlalu superfisial. Terlalu dangkal." Prof. Tina menggarisbawahi kata 'depresi' di halaman tiga. "Coba Anda cari jurnal terbarunya, dan buku-buku pendukungnya."

"Nggih, Prof."

"Anda cari di perpustakaan pascasarjana. Lengkap di sana."

"Nggih, Prof."

Beberapa saat kemudian--yang bagiku terasa seperti selamanya--aku keluar dari ruangan keramat itu. Beberapa pasang mata tampak segera berpaling ke arahku dengan ekspresi kepo tingkat interlokal, cukup untuk mewakili pertanyaan: "Gimana tadi?"

"Udah." Aku berbisik kepada empat mahasiswa bimbingan Prof.Tina itu. Ekspresi mereka berubah lega, tapi tak lama. Sebab, nama salah satu dari mereka akan segera berkumandang dari dalam ruang keramat, lalu pemilik nama akan masuk dengan badan panas-dingin dan jantung terasa meronta-ronta.

Setiap keluar dari ruangan Prof. Tina, seperti ada beban berat yang tiba-tiba terangkat. Lalu entah bagaimana rasa haus akan menyerang segera. Seperti menggerakkan kaki untuk secepatnya melangkah menuju kantin.

Meski demikian, aku tak menyia-nyiakan waktu. Sore ini, aku segera menuju perpustakaan pascasarjana yang terletak di selatan gedung pusat kampus kami. Prof. Tina benar, jurnal-jurnal terbaru dengan mudah kutemukan. Begitu pula buku-buku penunjang yang lain. Sayang sekali, hanya satu buku yang bisa kubawa pulang. Jika demikian, aku akan datang setiap hari agar bisa meminjam tiap buku berganti-ganti.

Aku memutuskan untuk menuju ruang baca yang berada di lantai tiga gedung ini. Begitu pintu kaca itu terbuka, suasana sejuk segera terasa. Ruangan ini senyap. Meja-meja besar tertata rapi dengan jarak yang cukup. Begitu banyak manusia tersebar di masing-masing meja, tapi tak terdengar suara. Beberapa kepala berambut pirang tertangkap mata: bule-bule fakultas non-eksakta, tentu saja.

"Baru pertama ke sini?" Penjaga ruang baca memindai kartu perpustakaan yang baru saja kudapat dari lantai satu.

"Betul, Bu."

Dia mengembalikan kartuku. "Di sini boleh membaca, boleh mengerjakan tugas, colokan listrik ada di setiap meja, tapi dilarang bersuara. Dilarang membawa masuk makanan dan minuman. Tas silakan ditaruh di loker." Dia menunjuk pintu keluar, yang di baliknya memang tersedia puluhan loker penyimpanan. "Kalo ada yang ingin ditanyakan, tanya langsung ke saya. Dilarang mengganggu pengunjung lainnya."

Aku masuk ruang baca lagi setelah meletakkan tas di loker, membawa serta beberapa barang yang kuperlukan. Kuedarkan pandang mencari kursi kosong.

Dari tempatku berdiri, beberapa pucuk cemara terlihat dari balik jendela paling selatan. Menarik! Aku segera berjalan ke sana.

Pria yang duduk di ujung-lain meja mendongak saat aku menyeret kursi di hadapannya. Cukup mengejutkan bagiku, sebab ternyata dia bermata biru, meski rambutnya cenderung gelap.

Aku mengangguk padanya, lalu dia tersenyum sekilas sebelum kembali menunduk pada buku tebal di meja.

Satu buku yang baru kupinjam segera kubaca. Beberapa menit setelahnya, hujan turun lumayan deras. Tampiasnya menghias kaca jendela dengan titik-titik mengagumkan yang memberi efek surgawi pada pucuk-pucuk cemara yang tampak dari tempatku duduk. Aku bertekad, kalau besok aku ke sini lagi, aku akan memilih kursi ini.

Meski sesekali aku dan pria di ujung meja sama-sama menatap jendela untuk waktu yang cukup lama, tapi hingga petang menjelang, kami tak memedulikan satu sama lain.

Sore berikutnya, aku duduk di kursi yang sama setelah meminjam sebuah buku dari lantai satu. Setelah setengah jam aku membolak-balik lembar demi lembar sambil berharap menemukan kalimat yang cocok  untuk kumasukkan dalam landasan teori, seseorang datang menggeser kursi di ujung meja. Kurasa dia sedikit terkejut saat aku mendongak. Itu si Mata Biru yang kemarin duduk di sana. Bedanya, saat ini dia mengenakan hoodie dengan tudung terpasang di kepala.

Aku mengangguk sambil tersenyum. Dia juga. Aku memakai ear buds, dia memasang headphone. Lalu, kami tenggelam dalam dunia masing-masing.

Kemudian, hujan turun lagi. Di tengah hujan yang menderas, kusempatkan untuk melepas salah satu ear bud. Perpaduan antara rintik hujan dan irama easy listening di telinga, membawa kehangatan sekaligus kesejukan di dada. Aku terus menatap jendela. Saat kemudian kupalingkan wajah sejenak, kulihat pria di hadapan juga sedang menatap ke arah yang sama. Wajahnya tersenyum. Apa mungkin tadi aku juga terlihat seperti itu?

Sore ketiga, aku menuju kursi itu lagi. Dari kejauhan, terlihat seorang pria dengan kepala mengangguk-angguk sudah duduk di ujung meja. Sebuah headphone terpasang di kepalanya. Kutebak dia sedang menikmati musik.

Begitu aku tiba di depannya, baru kusadari bahwa dia adalah pria yang sama dengan yang kutemui dua sore--berturut-turut--sebelumnya. Kurasa, tanpa sadar aku tertegun saat dia mendongak. Pria itu lalu melepas headphone yang dipakainya. Mulutnya yang separuh terbuka mengisyaratkan keterkejutan.

Tapi, aku tak memperpanjang keanehan ini. Mungkin kami berdua hanya sama-sama menyukai pemandangan di balik jendela. Jendela yang selalu sama di setiap senja.

Si Mata Biru melempar senyum saat aku mulai duduk. Dia menuliskan sesuatu pada secarik kertas, lalu menggesernya ke arahku. Aku paham ini caranya menyiasati larangan berkomunikasi di ruang baca.

Kuambil kertas dari tangannya, lalu kubaca sekilas tulisan yang sedikit acak-acakan itu.

[Hai! Aku Arthur.]
**
TBC

REWRITTEN DRAFTWhere stories live. Discover now