Part 1 (Repost)

31.3K 878 33
                                    

Dea

4 tahun sudah berlalu, kini hidupku lebih berarti lagi dengan adanya ibu dan bidadari kecilku. Kini aku mempunyai tujuan hidup untuk membahagiakan mereka. Aku membuka lembaran baru.

Kenangan pahit yang harus ku tinggalkan bersama pria itu karena orangtuanya tidak merestui hubungan kami. Dengan berat hati aku meninggalkannya. Itu adalah masa lalu yang pahit dimana aku menjadi menghargai kehidupan. Pengalaman yang membuatku merubah diri dan penampilan. Kini aku menutup seluruh auratku. Aku memakai hijab, mendekatkan diri kepada Nya.

Aku hanya manusia yang tak berdaya, tak ada yang istimewa dari ku tapi aku selalu mensyukuri yang di beri Nya. Baik itu kehidupan yang sulit di masa lalu.

***
"De, jangan melamun" tegur Rani, teman kerjaku.

Aku terkesiap mendengar tegurannya, "Maaf, Ran" jawabku sambil membersihkan meja kembali, ku hela nafas lelahku.

Aku bekerja sebagai pelayan di sebuah cafe. Perkerjaan inilah yang ku dapat hanya dengan lulus SMA. Apalagi mencari pekerjaan yang memperbolehkan memakai hijab sangatlah sulit. Untung saja bossku baik hati. Dia memperbolehkanku memakai hijab syar'i.

Aku memakai hijab sudah 2 tahun ini. Aku memutuskan menutup auratku dari bukan mahramku. Walaupun sulit karna banyak yang tidak menyetujuinya tapi aku tetap pada pendirianku untuk mengenakan hijab.

Aku berdiri didekat kasir sambil menunggu pelanggan. Mataku melihat orang yang berlalu lalang diluar cafe. Sudah jam 10 pagi mall ini sudah ramai, mungkin karna weekend.

Satu demi satu orang masuk kedalam cafe tempatku bekerja. Mereka melepas lelah, ku lihat rata-rata mereka membawa belanjaan. Dengan ramah aku melayani mereka. Menulis pesanan dan juga membawakan pesanan yang mereka mau.

Tak terasa sudah pukul 9 malam. Waktunya aku pulang. Sebenarnya cafe ini tutup jam 11 malam. Aku tidak mengambil shift malam dikarenakan tempat tinggalku jauh. Boss mengizinkan shift malam bagi pegawai laki-laki dan juga wanita jika rumahnya yang dekat.

"Rani, aku pulang dulu ya" pamitku tidak lupa mencium pipi kanan-kirinya. "Assalamua'alaikum"

"Wa'alaikumsalam, hati-hati di jalan ya"

"Iya" aku melambaikan tangan lalu berbalik. Berjalan ke arah tangga jalan untuk turun. Cafe tempatku bekerja ada di lantai 3.

Aku melihat ada sebuah toko mainan anak-anak, aku mampir terlebih dahulu. Aku memilih sebuah fuzzle yang bergambar frozen. Salah satu film kartun yang terkenal saat ini. Aku membayarnya lalu pulang.

Kuketuk pintu rumah kontrakanku. Seseorang membukakannya, aku tersenyum. "Assalamua'laikum.. Bila"

"Bundaaaaaa" teriaknya sambil menubrukku. Ia memeluk pinggangku. Ku usap rambut panjangnya.

"Kok salam bunda tidak di jawab?"

"Wa'alaikumsalam, bunda" jawabnya sambil tertawa ringan. Ia mencium tanganku dan melihat tangan kiriku memegang sebuah kantung plastik. "Bunda bawa apa?" tanyanya ingin tahu.

Aku melirik ke arah tangan ku, "Oh, ini buat anak bunda yang kemarin dapat nilai 9" Bila langsung sumringah. Aku mengendongnya masuk ke dalam rumah.

"Baru pulang De?"

"Iya, ummi" ku cium tangan ibuku.

"Nenek, bunda membelikan aku mainan" seru Bila senang.

"Eits, emang anak bunda yang dapat nilai 9 siapa?" tanyaku sambil mengerutkan kening pura-pura lupa. Aku menunggu jawabannya.

"Anak bundakan cuma satu yaitu Syabila Al Khadafi dan itu nama aku, jadi hadiah itu buat aku" ujarnya dengan pasti sambil melipat tangannya didada.

Cerita Hati (GOOGLE PLAY BOOK)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang