1 - Encounters

148 9 0
                                        

Shed a tear 'cause I'm missin' you

I'm still alright to smile

Oh, I think about you every day now

Was a time when I wasn't sure

But you set my mind at ease

There is no doubt you're in my heart now

Petikan gitar dari sebuah lagu yang mengalun lembut berasal dari salah satu alat pengantar musik di telinga, terhubung dengan ponselnya.

Gadis itu berdiri di sana, dengan koper berwarna rose gold beserta tas kain yang digantung pada handle trolly koper tersebut. Berdiri menenangkan diri untuk tidak meledak tanpa seseorang pun di sampingnya. Berkali-kali ia melihat layar ponselnya dengan perasaan gugup, seolah menanti sesuatu yang membuat jantungnya berdegup-degup.

Ini adalah hari pertama sejak delapan tahun yang lalu dirinya menginjakkan kaki lagi ke kota kelahirannya ini.

Mulai terasa asing namun hangat.

Sebuah pesan masuk, menanyakan keberadaannya. Lalu gadis itu terpaku pada ponselnya untuk menjelaskan titik penjemputan oleh orang di seberang sana. Cukup lama ia terpaku pada aplikasi chat hingga akhirnya suara sebuah hantaman yang tidak cukup keras namun mengejutkan berhasil membuat lehernya bergerak.

Seorang pria dengan setelan celana bahan hitam dan kemeja putih yang dibalut jas hitam bersama beberapa atribut di bahunya. Pria jangkung yang tampak terkejut saat sebuah koper tiba-tiba saja bergerak ke arahnya dan menghalangi jalan hingga kakinya menabrak koper itu jatuh.

Gadis itu mengerjap beberapa kali sebelum menyadari bahwa koper miliknya tidak lagi berada di sampingnya.

"Eh... koper saya..." Gadis itu segera mendekat, mengambil koper itu dari tangan sang pria sembari merapal kata maaf.

"Maaf ya, mas. Saya terlalu fokus balas WA sampai-sampai ngga sadar kalo koper saya gelinding." Ucapnya dengan menangkupkan kedua tangan, menunjukkan rasa bersalah yang amat sangat.

C.A Adamar...

Gadis itu membaca dalam hati tanda pengenal di dada sang pria.

Pria itu menatapnya dengan saksama, hanya dalam beberapa detik. Lalu tersenyum dengan manis.

"Nevermind. Hati-hati ya, Kak." Ucapnya singkat namun sangat menenangkan. Gadis itu ikut tersenyum, membiarkan pria itu berjalan bersama gerombolan staff maskapai dan seorang berseragam sama sepertinya.

Selepas kepergiannya, gadis itu menghela napas lega karena terlepas dari masalah. Beranjak dari sana dengan dering panggilan yang menandakan bahwa penjemputnya sudah tiba.

....

Tugasnya di tempat itu telah berakhir, dan gadis itu memilih untuk pulang ke tanah kelahirannya. Di sini, ia telah disambut. Hidup baru, pengalaman baru dan tempat bekerja yang baru. Dan yah, gadis itu selalu menganggap sebuah tempat baru sebagai lembaran baru.

Dan sesuatu beraroma kertas baru telah sampai ke tangannya.

Sincerely, Ms. Dineschara

Sebuah surat undangan yang ditujukan untuknya.

Surat yang menyatakan bahwa dia, Dineschara, adalah seorang tamu undangan dari acara reuni sekolah yang digelar secara besar-besaran, menyangkut angkatan pertama hingga angkatan terakhir yang lulus.

Pasti akan sangat meriah, mungkin.

"Ara, lo pasti ikut, kan?" Seseorang di seberang telepon bersuara, memanggil nama kecilnya untuk memastikan keputusan dari sang puan.

Reminiscent of the LightStories to obsess over. Discover now