Boi

1 0 0
                                        


"Boi." Aku memanggil sambil mengendap-endap di bawah jendela, takut ketahuan orang.

"Rey." Panggil Boi dari atas sambil tersenyum.

"Tunggu sebentar ya" Katanya seperti berbisik.

Sekarang pukul 23.00 tanggal 31 desember, sebelum kembang api itu menyala kita harus sudah ada di Alun-alun kota. Aku begitu begitu juga Boi tidak mendapatkan izin keluar malam ini. Jadi, kami berencana kabur. Aku bisa dengan mudah mencapai jendela kamar Boi karena memang rumah kami berdekatan, tidak ada pagar penyekat sehingga aku bebas keluar masuk. Boi loncat dari jendela, dan itu menimbulkan suara berdebum. Tapi it's okay lah... tak ada yang bangun, kami siap berlari.

Aku patuh ditariknya, sesekali aku tertawa karena bahagia. Rasanya aku ingin terbang saat ini juga. Sebelum kembang api itu menyela menandai pergantian tahun, kami telah sampai di Alun-alun kota. Banyak orang di sini, mereka siap menyongsong tahun baru 2012. Boi masih saja menggenggam tanganku, masih mengatur napas. Aku pun juga begitu terlalu lelah berlari, aku memilih menjatuhkan tubuhku di atas rumput. Saat itu genggaman itu lepas. Pertanda itu semakin jelas.

Aku terlalu bersemangat hingga tak menyadari. Saat itu, sebelum kembang apai pertama menyala dia berbisik di telingaku. Aku akan pergi besok, tak apa kan? Aku sudah pamit sama om dan tante. Refleks aku menoleh, matanya menatap ke mataku begitu teduh pikirku. Dan dia akan pergi besok, aku sulit menerimanya. Pikirku dimana lagi aku dapat menemukan orang seperti dia. Dia terlalu baik, dan aku terlalu sayang jika dia menjadi milik orang lain.

"Iya, pergilah tak apa. Tapi kamu harus kembali." Kataku

"Aku nggak bisa janji Rey." Katanya sambil menggeleng.

"Ya sudah pergi saja."

Pembicaraan ini berakhir dan keesokan harinya aku tidak bangun. Aku menolak untuk mengantar kepergiaannya. Aku hanya menatap dari jendela, tak berani berharap lebih. Anggaplah aku mengikhaskannya pergi, biar dia tenang dan dapatkan apa yang diinginkannya. Toh kalaupun dia di sisiku, dia tak akan pernah jadi milikku. Karena dia tidak pernah menerima perasaanku.

Dua tahun kemudian aku tahu dia sudah memiliki orang yang diinginkannya. Saat ini kami berada di daratan yang sama, tapi sayang kita berlawanan arah. Aku kutterlalu rindu dia sebenarnya. Tapi aku tak berani mericuh ke kehidupannya lagi. Aku takut dia mulai jijik padaku, aku takut dijauhi.

Adel membongkar setumpuk barang yang ada di pojokan kamarku. Sebuah foto terselip di antara kertas-kertas laporan yang terevisi. Adel mengedip-ngedipkan mata memperhatikan foto itu.

"Aku tak pernah melihatnya."

"Itu Boi Del"

"Boi?" tanya Adel.

"Iya. Dia orang yang aku suka" Jawabnya tak bersemangat.

"Sepertinya dia bukan orang sekitar sini, kamu kenal dimana?" tanya Adel

"Dia teman masa kecilku, dengan kata lain aku sudah menyukainya sejak masa kanak-kanak" jawabku hampir membuat Adel shock.

"Kamu menyukainya sejak kecil? Sejak kalian pertama bertemu? So he is your first love?" tanya Adel lagi tak percaya.

"Yes, He is. Sudahlah Del gak usah terlalu banyak membahas orang itu, aku mulai muak." Setelah itu aku menangis. Adel memberikan semangat kepadaku dengan menepuk-nepuk pundakku.

Aku bangkit kembali, menatap Adel sambil tersenyum. Harusnya aku menyerah sudah sejak dulu, kataku dalam hati. Harusnya tak usah dilanjutkan, kita tahu jawabannya dengan jelas. Kita nggak akan pernah bersatu kawan, dia tak pernah memberiku kesempatan. Padahal aku selalu mencoba untuk menyatakan perasaanku. Padahal 4 tahun ini aku sudah menutup hatiku untuk siapapun.

Selalu, aku hanya bisa menuliskan rinduku seperti ini tanpa ada yang membaca. 4 tahun ini, waktu yang lama sama sekali tidak membuatku jengah menunggu. Rasa sakitku sudah aku tumpahkan kemarin pada sahabtku sendiri. Setelah menumpahkan rasa sakit itu aku akan mulai mencintainya lagi, kemudian menumpahkannya lagi. Aku bodoh ya, begitu pikirku. Aku berharap padanya bertahun-tahun, aku berharap pada sesuatu yang semu. Hal yang tak bisa kujamah, aku cuma bisa menghayalkannya.

BoiWhere stories live. Discover now