🍒01

2.5K 90 3
                                        

【Cerita Kita

°
°
°

Seoul, kota yang tak pernah tidur. Jalan-jalannya penuh dengan lampu neon yang berkilauan, menciptakan ilusi kehidupan yang gemerlap. Orang-orang berlalu-lalang dengan langkah tergesa, seperti hidup mereka bergantung pada detak jarum jam yang terus berlari. Di sini, setiap orang tampak sibuk—berlomba mengejar mimpi, uang, dan kekayaan.

Di kota ini, tak ada ruang untuk melambat. Orang-orang hidup untuk bekerja, bukan bekerja untuk hidup. Mereka berbondong-bondong menuju kereta bawah tanah sebelum matahari terbit, menyerbu kafe dengan kopi yang lebih pahit daripada kenyataan, dan pulang larut malam ke apartemen kecil yang kosong dari kehangatan. Seoul adalah kota yang tak memberi jeda, tempat di mana rasa kemanusiaan sering kali tergilas oleh roda ambisi.

Di tengah kota yang sibuk ini, seorang pria berparas cantik melangkah memasuki butik yang memang sudah terkenal di segala penjuru Korea Selatan.  Sebagai pemilik butik terkenal dan kafe yang selalu penuh pelanggan, dia adalah sebuah simbol kesuksesan.

Kehadirannya seolah menarik beberapa tamu di butiknya dan dengan senyuman ramah ia menyapa.

"Nyonya Jung," sapa salah satu pegawai.

"Yuna, siapa mereka?"

"Mereka datang langsung dari Jeju, nyonya. Mereka ingin fitting baju pengantin."

"Baiklah, layani mereka dengan baik. Aku ada di ruangan, kalau butuh sesuatu panggil saja."

"Nde."

Sang pemilik berjalan menuju ke ruangannya, melepas jaket panjang miliknya dan segera memeriksa ponsel begitu mendapatkan sebuah pesan.

Bibirnya tersenyum kecil membaca pesan dari putra bungsunya, nakal sekali bermain ponsel sedangkan anak-anaknya sedang berada di sekolah. Setelah membalas pesan si bungsu, dia beralih pada roomchat si sulung yang juga sempat mengiriminya sebuah pesan pagi tadi dan baru dapat dia lihat sekarang.

Hanya saja, kali ini fokusnya tertuju pada salah satu roomchat yang selalu terasa asing untuknya. Jarang sekali dia mendapatkan pesan dari roomchat itu, sekalipun berinteraksi, rasanya benar-benar sangat hampa dan asing.

Tok! Tok!

Atensinya teralihkan, dia meletakkan ponselnya kembali di atas meja kerjanya begitu melihat kedatangan salah satu orang kepercayaannya.

"Selamat pagi Taeyong."

"Pagi Noona. Maaf jika aku harus memintamu untuk datang."

Wanita bernama Taeyon itu duduk di sofa yang tersedia, mengangguk untuk merespon seseorang yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.

"Jika aku sibuk, aku tidak akan menyanggupi permintaanmu. Jadi bagaimana?"

Bukannya menjawab, Taeyong justru berkaca pada cermin panjang yang memang tersedia di ruangannya. Menatap pantulan dirinya yang entah mengapa akhir-akhir ini terasa aneh dirasa.

"Aku mendapatkan klien dari China, bisakah Noona menghandle nya untukku?" Taeyong menoleh sebentar pada sang Noona dan kembali menatap pada cermin.

CERITA KITA Stories to obsess over. Discover now