Azla, melepas pakaiannya. Diperlihatkannya tubuhnya yang mulus kepada lelaki tua yang ditemuinya 21 tahun lalu. Rasa takut dan hasrat yang melepuh tak lagi memisahkan mereka. Darno menutup pintu dan memulai aksinya.
Hujan ikut membasahi birahi mereka, dengan desahan petir yang tersulut-sulut. Rinai hujan menjadi musik romantis diantara mereka, tiada saksi, tiada mata.
"Deras kali hujannya, Inang, cemana kita pulang?" Tanya Tarto.
"Alah, kalau tak berhenti hujannya, ku terobos sajalah, anakku Azla, pulang hari ini".
" Azla yang tinggal di Malaysia itu, Inang?"
"Iyalah, yang mana lagi anakku?".
Arimbi menerobos hujan sambil berharap Azla bersedia menunggu kepulangannya. Ditutupinya kepalanya dengan tudung (seperti pelindung kepala) dan terburu-buru untuk sampai di rumah.
Hujan makin menggebu seperti gerakan Azla yang semakin mempercepat tariannya. Darno tersulut birahi Azla hingga hampir klimaks.
"Tunggu sebentar Azla.." Belum sempat lagi berkata, Darno membuhai rahim Azla.
Suara petir terbanting bersamaan dengan Armibi yang melihat Azla bersetubuh dengan suaminya.
Bersambung...
YOU ARE READING
Mata Kedua
RandomAzla adalah seorang perempuan yang ditinggal pergi suaminya. Anaknya tak pernah diakuinya, sehingga Ibunya harus mengurusnya.
