"Yesterday is history,
tomorrow is a mystery,
but today is a gift.
That is why it is called the present."
-unknown
-----------------------------
Sudah dua hari ini SMA mereka mengadakan Latihan Dasar Kepemimpinan Sekolah (LDKS) tentunya mereka sebagai panitia disibukkan dengan serentetan kegiatan-kegiatan yang ada. Yang juga mengharuskan mereka untuk bermalam di sekolah hingga kegiatan berakhir esok lusa.
Hari mulai menjelang malam, jadwal kegiatan hari ini sudah berakhir, para peserta diharuskan untuk segera beristirahat. Sama halnya dengan empat orang gadis yang nampak sedang melepas penat sambil bercengkrama membahas banyak hal di dalam ruang panitia.
Mulai dari obrolan tidak penting hingga persoalan serius tentang dunia politik. Mereka suka berdiskusi tentang hal apapun.
"Emely, Hana, gue sama Arina ke toilet dulu ya. Dia kode daritadi." Salah seorang gadis bersuara. Gadis disampingnya sudah terlihat tidak nyaman menahan panggilan alam. Sedari tadi dia sudah menarik-narik baju saudara kembarnya, Ariana.
Merasa terpanggil, mereka berdua mengalihkan atensinya pada Arina dan Ariana. Saudara kembar yang cukup menarik perhatian sejak masuk sekolah dulu.
"Iya." Emely menjawab dengan menggerakkan-gerakkan tangan mengusir.
Disebelahnya Hana mengangguk lalu mengkode agar cepat kembali. Perasaannya sudah tidak enak sejak Adzan Magrib dikumandangkan beberapa waktu lalu. Entah kenapa, sepertinya hari ini tidak akan berlalu dengan cepat.
Tak perlu waktu lama dua bersaudara itu beranjak. Ariana berjalan santai sementara saudaranya sudah beberapa langkah didepan, sepertinya dia memang sudah tidak tahan.
Langit-langit senja terlihat menguning temaram. Menunjukkan malam mulai datang. Suasana yang cukup horror menurut Arina, namun hal itu tak menghalangi kegiatannya.
Mereka sampai di ujung terpencil sekolah. Kamar mandi yang cukup jarang digunakan karena terletak jauh dari pusat kegiatan sekolah. Paling-paling hanya digunakan oleh siswa-siswi dengan kelas yang berada dekat dengan toilet ini.
Sebenarnya Ariana menyarankan mereka ke toilet yang lebih ramai walaupun terletak lebih jauh. Jujur saja, entah kenapa perasannya tidak nyaman sejak dia berjalan melewati koridor sekolah. Namun Arina menolak dengan alasan jauh dan ramai. Dia sudah tidak tahan.
Cepat-cepat saja Arina masuk ke salah satu bilik toilet. Di satu sisi Ariana memilih menunggu diluar ditemani pencahayaan ponsel karena bulan sudah mulai memunculkan sinarnya.
Beberapa detik, Arina mulai merasa lega. Dia sudah menahan diri cukup lama.
"Arina."
Merasa terpanggil, dirinya celingukan. Perasaannya tidak enak. Ditambah suasana kamar mandi dengan lampu remang-remang. Bisa-bisanya saudara kembarnya malah mengajaknya bercanda.
"Arina." Suara itu datang lagi. Kali ini cukup keras, serak dan terasa lebih dekat.
Dibarengi perasaan tidak nyaman akhirnya ia menyahut. "Ariana?"
"Ana?"
Tidak ada jawaban. Mungkin yang kali ini juga perasaanya saja.
Secepat kilat Arina membenarkan rok selutut miliknya saat telinganya menangkap suara pergerakan pada kamar mandi sebelah. Ia menghela nafas lega. Setidaknya ada orang lain didalam sini. Jujur saja bulu kuduknya sudah berdiri daritadi.
Saat hendak membuka pintu bilik kamar mandi Arina dikejutkan dengan suara ketukan dari bilik sebelah toiletnya. Arina pikir orang disebelah juga berusaha menghilangkan rasa takut dengan memastikan bahwa ada orang lain.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nightmare?
Short StoryHana tidak pernah menyangka bahwa hari itu adalah hari tersial dalam hidupnya bahkan mungkin dalam hidup teman-temannya juga. 'Untuk teman-teman ku yang masih bernafas hingga sekarang, maafkan aku yang tidak bisa melindungi kalian dengan baik. Maafk...
