0. Bagian Pembuka

9 5 2
                                        

Bandung, akhir Januari 2000

Bumi berlari dengan cepat menuju stasiun kala hujan mulai membasahi jalanan. Tadinya, matahari bersinar dengan cerah dari pagi hingga siang, namun saat menjelang sore, cuaca mendadak berubah. Langit menggelap di iringi kilat yang menakutkan. Bumi mengibas-ngibas jasnya yang sempat terkena air hujan. Ia menaruh tas yang ia jinjing dan melepas topi pandora yang menutupi kepalanya.

'Hujannya deras.' Ucapnya dalam hati.

Ia harus bergegas sebenarnya, karena ada urusan penting yang harus ia selesaikan di kantor kota sebelum malam. Namun kalau hujan begini, mau tak mau urusannya akan tertunda.

"Tuan, mari duduk."

Sebuah suara lembut menyapa, Bumi menoleh, ia dapati seorang gadis muda dengan rambut ikal berwarna cokelat tersenyum padanya.

"Daripada berdiri saja disitu, mari duduk disini." Ucapnya lagi sembari menepuk bangku yang kosong di sebelahnya.

Bumi baru melihatnya, sepertinya gadis itu baru saja tiba tanpa ia sadari karena dilihat dari bajunya yang lebih basah, Bumi yakin kalau gadis itu sempat kehujanan.

Bumi mendudukkan dirinya, tak berada jauh dari gadis yang kini tengah menatap derasnya hujan. Belum terlihat tanda-tanda hujan akan segera berhenti, pasti akan memakan waktu yang lama, pikir Bumi.

"Tuan ingin pergi kemana?" Tanyanya.

Bumi terdiam sejenak, kemudian ia merogoh saku celananya, mengambil sebuah kertas kecil dari dalam sana serta mengambil bolpoin dari balik jasnya. Ia menuliskan sesuatu di atas kertas itu, kemudian ia berikan kepada gadis yang berada di sebelahnya.

'Saya ingin pergi ke kantor kota, tapi terhalang hujan. Kalau Nona ingin pergi kemana?'

Gadis itu tersenyum tipis membacanya. Sedikit merasa heran mengapa pria yang bernaung di bawah atap yang sama dengannya ini tidak mengobrol saja dan lebih memilih menjawab dengan kertas?

"Saya ingin pergi ke toko bunga, membeli beberapa tangkai untuk ibu dirumah."

Bumi mengangguk-anggukan kepalanya pelan.

"Nama saya Senja, kalau Tuan?"

Lagi-lagi Bumi merogoh saku celananya dan mengambil kertas, namun kertas yang kali ini ia ambil sedikit usang. Ia tulis lagi di atasnya.

'Saya Bumi.' Tulisnya di atas sebuah kertas yang usang.

"Tuan Bumi.. nama yang bagus. Kalau boleh tau, kenapa Tuan menjawab saya melalui tulisan?"

Gadis itu menoleh ke arah Bumi yang tampak diam dengan raut wajah yang tidak bisa dijelaskan, namun sedetik kemudian ia lihat Bumi menghela nafas pelan. Ia mendekat, lalu membalikkan kertas yang masih dipegang oleh Senja dimana terdapat sebuah tulisan yang berbunyi;

'Saya bisu.'

**

Title : Bumi Angkasa
Start : 4 feb 2022
End : -

Bumi AngkasaWhere stories live. Discover now