45 - anomali kosmik

148 18 5
                                        

"Aku adalah samudra; bumi; atau apapun itu yang akan mati demi kamu."

𓆰.

Suatu kali, Sirius pernah bercerita bahwa faktanya, kita para manusia berasal dari bintang-bintang.

Saat bintang yang sudah tua mati, mereka meledak menjadi sebuah ledakan raksasa yang membentuk awan-awan berisi gas dan debu yang disebut nebula. Di situlah bayi-bayi bintang dilahirkan. Seluruh gas dan debu itu dikompresi, ditarik oleh gaya tarik bumi, dan berubah menjadi bintang-bintang. Pecahan-pecahan yang tidak melahirkan bintang melayang-layang di luar angkasa sebagai planet-planet, atau bulan-bulan, atau komet-komet, dan kalau kondisinya tepat, berbagai tanaman dan lain-lainnya mulai tumbuh dan lahirlah manusia. Jadi, kita semua terbuat dari serpihan-serpihan bintang yang sudah tua.

Ini satu fakta lainnya yang Ghia tau dari Sirius yang juga disetujui oleh Tuan Druyan sang profesor. Karbon, hidrogen, oksigen, dan nitrogen adalah unsur-unsur yang dibutuhkan untuk hidup. Dan kalau kita meneliti komet-komet, akan kita lihat bahwa mereka boleh dibilang memiliki perbandingan unsur-unsur yang sama dengan yang kita miliki.

Begitulah cara Ghia menghibur diri; berusaha merangkai fakta yang ada di setiap malam terjaganya agar ia percaya dan bahagia bahwa dia dan Sirius itu sama. Unsur-unsur dalam tubuh mereka itu sama, atau setidaknya Ghia terbuat dari Sirius yang bertriliunan tahun lalu pernah meledak dan runtuh.

Jadi, tak masalah kalau Sirius tetap tinggal di bumi 'kan?

˖ ࣪ ‹ 𖥔 ࣪ ˖

Baru Ghia sadari bahwa dia banyak menangis akhir-akhir ini. Dia sungguh cengeng dan Sirius pasti bosan serta lelah melihat Ghia menangis terus. Termasuk saat mereka sedang duduk di depan perapian, dengan Ghia yang duduk di atas sofa dan Sirius duduk di lantai, bersandar di kakinya. Katanya itu ia lakukan untuk mengeringkan rambutnya sehabis mandi. Ghia membiarkan saja Sirius melakukan itu, lantas diam-diam matanya kembali berkaca-kaca karena ia tahu Sirius tidak bisa berada di sampingnya dalam beberapa bulan lagi, tapi tak apa-apa. Ghia mengusap ekor matanya dan menghalau rasa ingin menangis itu. Setidaknya, Ghia bisa menyimpan Sirius sampai ia lulus sekolah beberapa bulan lagi. Ghia masih bisa memiliki Sirius sepanjang musim salju ini.

"Aku masih enggak mengerti, Sirius." Ghia mengeluarkan suara.

"Kenapa?"

"Tadi pagi aku bertanya pada Ayah ... apa Ayah tahu tentang anak bernama Sirius?" Jeda. "Terus Ayah menggeleng dan jawab enggak tahu. Ayah enggak bisa melihatmu ya?"

"Oh, itu ... enggak bisa. Aku enggak kelihatan buat kebanyakan manusia," jawab Sirius.

"Tapi Emmy, Bibi Jilly, Jay, Tuan dan Nyonya Druyan bisa melihatmu tuh."

"Ya, karena mereka ada hubungannya denganmu."

"Tapi Ayah juga ada hubungannya denganmu."

"Kamu enggak membutuhkan aku dalam hubunganmu dengan Ayahmu, itulah alasannya Ayahmu enggak bisa melihatku."

Ghia masih belum mengerti, tapi sesaat kemudian dia sadar sesuatu. Sirius hampir tidak punya celah dan sekalipun dia punya kekurangan ... kekurangan itu bukan sesuatu yang dikenal oleh umat manusia. Jadi, sudah bisa dipastikan bahwa sebenarnya Sirius tidak ceroboh dengan membiarkan pintu rumahnya tidak terkunci beberapa kali.

Apa Sirius sengaja tidak mengunci pintu rumahnya agar Ghia bisa masuk?

"Ya."

Apa? Jadi benar? Sirius sengaja?

"Ya, aku sengaja."

Ghia mengernyit. "Aku enggak bilang apa-apa!"

"Oh, kukira kamu barusan bilang kalau aku sengaja enggak mengunci pintu rumahku agar kamu bisa masuk."

Ghia membelalak kaget. "Kamu bisa mendengar pikiranku? Hentikan! Kamu enggak boleh begitu!"

Sirius terkekeh. "Itu terjadi begitu saja. Para manusia kan biasanya suka berharap dan berdoa dalam hati, tentu saja aku bisa dengar."

Ghia tak habis pikir. Jadi selama ini semua pikirannya menguar begitu saja ke telinga Sirius. Itu sangat menyeramkan, Sirius tahu betapa kusutnya isi otak Ghia.

"Omong-omong tentang pintu itu," ujar Sirius. "Aku memang sengaja enggak menguncinya."

"Itu berarti kamu menipuku."

"Aku tahu, tapi aku harus mencari cara buat memberi tahumu kalau aku itu bintang jatuh. Aku ingin kamu tau, sebelum aku benar-benar pergi."

Ghia merengut. "Coba bayangkan apa yang akan aku lakukan saat kamu pergi." Ia menghela napas panjang. "Aku pasti akan kesepian."

"Enggak kok," kata Sirius. Dia berbalik badan dan mendongak menatap Ghia. "Kamu bisa melihat langit dan menyaksikan para bintang tertawa."

"Kamu mungkin enggak bisa melihatku dengan mata, tapi kamu akan selalu bisa melihatku dengan hati ...."

"Kenapa?"

"Karena aku sudah mengklaim kamu sebagai milikku."

Ghia membeku, setengah tidak percaya dengan apa yang Sirius katakan. Dia masih berusia dua belas tahun dan tak pernah membayangkan bahwa satu momen di hidupnya akan bergenre romantis. Tapi, hei, itu bukan romantis. Ghia saja bahkan tidak mengerti kenapa Sirius bisa mengatakan itu.

"Aku enggak akan pergi jauh, Ghia." Sirius menepuk-nepuk lutut Ghia.

"Kamu pergi sangat jauh. Jarak bumi dan bintang sirius itu sangat sangat jauh, Sirius," elak Ghia.

"Lagipula aku butuh kamu," lanjutnya. "Dan rasanya menyenangkan kalau seandainya aku juga bintang sepertimu. Kamu masih bisa melihatku dari atas sana, tapi aku enggak bisa melihatmu dari bawah sini."

"Itu enggak adil, Sirius ...."

Ghia sadar bahwa dia egois, tapi egoisme itu sudah seperti sifat yang mendarah daging dengan manusia. Ia tidak bisa membiarkan Sirius pergi begitu saja karena Sirius sangat berarti baginya. Sirius membuat semua hal-hal buruk menjadi baik untuk Ghia. Bohong kalau Sirius bilang bahwa dia adalah sekedar bintang. Nyatanya Sirius itu malaikat. Dia malaikat pelindung Ghia. Dia adalah malaikat Michael di hidup Ghia.

Sirius tersenyum tipis. Sepasang matanya yang terkena pantulan cahaya dari nyala api terus menatap Ghia.

"Mau kuajak keliling luar angkasa?" Ghia paham bahwa Sirius itu sinting, tapi bukankah seluruh dunia ini dipenuhi oleh hal-hal sinting?

"Mau tau rasanya jadi bintang?"

Jadi Ghia mengangguk setuju karena ia juga ingin menjadi sesinting Sirius. Ia ingin menjadi sama seperti Sirius.

˖ ࣪ ‹ 𖥔 ࣪ ˖

IstirahatWhere stories live. Discover now