"Sudah" Giselle meraba sesuatu yang mengantung pada lehernya, lalu membalikkan tubuhnya ke arah semula.

Haechan tersenyum lebar melihatnya, pilihan tidak salah. Kalung itu benar-benar indah bertengger pada leher Giselle.

"Bagaimana kondisimu? Sudah membaik? " Tanya Haechan membuat aktivitas Giselle terhenti.

"Sudah, tidak lama lagi aku pulang"

"Katakan jika kau sudah mau pulang, aku akan menjemputmu. Kita sudah janjikan akan menjemput adikmu bersama sama"

Giselle mengangguk "Iya aku ingat"

Setelah itu hening, mereka sama sama hanya menatap langit dan menikmati semilir angin yang menerpa lembut kulit mereka.

"Giselle, nanti kalau kau sudah pulang dari sini aku akan mengajakmu bermain dengan teman temanku" Ucap Haechan kembali membuka obrolan.

"Teman temanmu yang kemarin? "

"Iya"

Giselle membalasnya dengan mengangguk, tanpa ia sadari senyuman tipis terukir pada bibirnya membayangkan betapa serunya ia nanti kembali merasakan bermain dengan teman teman seumurnya. Membayangkan nya saja Giselle sudah senang, ia lupa kapan terakhir kali ia menghabiskan waktu bersama teman sebayanya.

"Kau kenapa senyum senyum begitu? Ahh... Kau menyukai salah satu dari mereka ya?! " Tebak Haechan membuat Giselle membulatkan matanya, bagaimana bisa Haechan berfikir seperti itu?

"Jangan mengada ngada Haechan"

Bukannya menutup mulut Haechan malah memperlihatkan wajah tengilnya "Bilang saja Giselle, aku bisa membantumu mengungkapkan perasaan"

Giselle semakin emosi di buatnya, Giselle melayangkan tangannya memukul belakang kepala Haechan hingga Haechan mengadu kesakitan.

"Sekali lagi kau mengatakan hal yang tidak masuk akal akan ku pastikan kepala dan lehermu terpisah! " Giselle menghembuskan nafasnya kasar memalingkan pandangannya ke sembarangan arah

"Dia tidak tau apa kalau aku menyukainya bukan teman temannya?! Huh, tidak peka!! " Dumel Giselle dalam hati.

Haechan hanya terkekeh lalu tersenyum masam ke arah depan "kalau Giselle benar benar menyukai teman temanku bagaimana ya? Duh kok rasanya sakit ya, ayolah Haechan tidak mungkin Giselle menyukai pria cacat seperti mu! "

"Haechan! " Haechan yang merasa namanya di pangil segera memalingkan pandangannya ke arah sumber suara namun tiba tiba jantung nya serasa copot detik itu juga, tubuhnya kaku dan pikirannya berkecamuk.

Bibir Giselle menyentuh bibirnya, Giselle tiba tiba menciumnya tanpa aba aba, tidak ada pergerakan hanya sekedar menempel lalu Giselle kembali menjauhkan wajahnya.

"Jangan mengatakan hal seperti itu lagi, aku tidak suka"


"Kau serius?! " Renjun terkejut mendengar melunturkan sahabat di depannya ini.

"Iya, saat nanti aku pulang audisi aku akan menyatakan cintaku" Senyuman terus terukir pada bibir Haechan mengingat tidak lama lagi ia akan mengungkapkan sesuatu yang sudah lama menganjal hatinya.

"Wah wah, sahabat kita sedang jatuh cinta rupanya. Ini cinta pertamamu? " Tanya Jeno sambil menyuruput minumannya.

"Hm, aku baru kali ini senyaman ini pada seorang gadis. Dulu saat ada gadis yang mendekatiku aku merasa biasa saja, tapi saat berada di dekat Giselle aku merasa berbeda. Jantungku berdetak kencang tapi aku malah tidak ingin jauh darinya"

Jaemin mengutik pada jarinya "Tepat, kau jatuh cinta padanya. Aku juga mendukung kalau kau bersamanya, dia terlihat seperti gadis yang baik dan polos. Tipe Seo Haechan sekali"

Haechan terkekeh "Iya, itupun kalau dia membalas cintaku. Kalian taukan sahabat kalian ini tidak seperti Seo Haechan yang dulu, aku cacat sekarang. Aku tidak banyak berharap, aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku, itu saja"

Renjun, Jeno dan Jaemin bungkam. Mereka saling menatap satu sama lain, namun kemudian Jaemin tersenyum tipis menepuk bahu Haechan.

"Jangan seperti itu, ini takdir yang telah Tuhan gariskan. Lagi pula kau tidak sendiri, ada aku, Renjun, Jeno dan Ayahmu"

Haechan tersenyum lebar mengangguk semangat, ia bersyukur memiliki mereka di sisinya.

"Oh iya, besok kan penentuan juara pertama dan kedua kau harus memberikan yang terbaik pokoknya" Ucap Renjun antusias.

"Siapa sainganmu? Remaja bule itu bukan? " Tanya Jaemin.

"Iya, namanya Mark Lee, aku harap aku dengannya bisa berkarir bersama. Dia sainganku jika di atas panggung tapi dia temanku di belakang pangung, dia sangat baik kepadaku"

"Oh ya? Kita harus menjadikannya teman"

Renjun, Jeno dan Jaemin sangat antusias menjadikan teman bule Haechan sebagai teman mereka juga, bahkan mereka membuat streategi agar bisa bolos les tambahan untuk menonton penampilan Haechan dan mengajak Mark untuk berteman.

Haechan hanya terkekeh melihat ke antusiasan mereka, Haechan memalingkan pandangannya menatap keluar jendela kamarnya.

Bulan sangat terang bertabur bintang di sekelilingnya, sangat indah. Pikirannya kembali kepada gadis yang teramat ia rindukan, beberapa hari ini Haechan tidak menemuinya karena mempersiapkan dirinya untuk babak final.

Tidak terasa sudah sebulan ia mengikuti audisi ini, banyak lika liku yang ia jalani. Ketika ia lelah ia kembali kepada gadisnya, mengisi energi lalu kembali berjuang untuk orang-orang sekitarnya.

"Tunggu aku, aku akan menjemputmu"






























































































Kiw kiw om Jamal kiw~ , IPhone dong om🌚

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kiw kiw om Jamal kiw~ , IPhone dong om🌚













Kiw kiw om Jamal kiw~ , IPhone dong om🌚

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Vote★







MEET TO PARTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang