Garis demi garis ia torehkan perlahan pada pergelangan tangannya yang hanya berbalut kaos tipis transparan. Jejak luka, memar sudah tercetak jelas di dalam balutan kaos tipisnya.
Sendiri memang menjadi nama tengahnya. Seruan panggilan dari luar tidak mengenyahkan pikiran buruk yang sedang menguasai dirinya.
Lelah sudah menjadi hal yang dari dulu ingin ia pupuskan. Dia percaya suatu saat kata lelah akan terganti dengan bahagia.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tatapannya menyendu kala suara petir menyeruak keras dari luar jendela. Kilatan demi kilatan terpampang jelas dalam bingkaian kaca transparan kamarnya.
Ia duduk termenung memerhatikan dengan santai. Namun, mata tidak bisa berbohong. Raut ketakutan tercetak jelas dalam kilauan cahaya matanya.
"Gue gak bisa denger apapun," gumamnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bismillah
Aku balik lagi hehe
Tenang, dedek Sora masih aku lanjutin kok
Maafkan yuuki sering ngilang😔
Jadi, vomment jusseyo
Vote dan komen kalian jadi penyemangat untukku🤗🤗🤗
Sampai bertemu kembali...
Bye bye dari Vianz👐
YOU ARE READING
Ervianz
Teen FictionErvianz memiliki ketakutan besar terhadap sesuatu yang membuatnya gelisah. Entah ketakutan ini sudah menjadi hal yang mengerikan baginya. Selain menghalangi beraktivitas. Ia juga sering dilanda kecemasan berlebihan. Ini hanyalah kisah seorang pemuda...
