"Congratulation! You did it!" ucap temanku sambil menjabat tangan perempuan yang hatinya sedang penuh dengan kebahagiaan. 4 tahun menempuh perjalanan panjang dan akhirnya aku mencapai garis finish. Aku mengedarkan pandangan melihat sekeliling, halaman kampus yang saat ini dipenuhi dengan orang-orang hebat seperjuanganku. Segala peluh, tangis, teriakan, keluhan, beban yang selama ini dipikul seperti luruh tergantikan rasa bahagia dan bangga yang penuh. Anne Kayana Bramanty, S.H., bibirku melengkung keatas membentuk bulan sabit membayangkan betapa bangganya ayah dan ibuku dikampung halamanku. Ya.. ayah dan ibuku tidak dapat menghadiri acara wisudaku, namun tidak apa-apa walupun merayakan wisuda sendiri sebagai anak rantau, rasa bahagiaku tidak berkurang barang sedikitpun.
Mataku menangkap sosok perempuan berambut disanggul dengan kebaya yang melekat di badannya sedang tertawa bersama seorang lelaki yang merupakan pacarnya. Dia sahabatku, teman seperjuanganku, tempat mengeluhku, perempuan hebat dengan segala talenta yang dimilikinya. Aku menghampirinya dengan rasa bangga dan haru menyelimuti hati. Menjadi seorang Sarjana Hukum sebenarnya bukan merupakan keinginannya melainkan keinginan orang tuanya. Walaupun begitu ia tetap menjalani semuanya dengan ikhlas dan penuh semangat, sayangnya diakhir perjalanan ketika ia sedang menyusun tugas akhir ia harus dihadapkan dengan berita duka bahwa ibunya telah berpulang. Pukulan berat bagi seorang anak ketika harus kehilangan orang tuanya, namun sahabatku ini benar-benar kuat dan tegar ia tidak mau terlarut dalam duka dan lebih memilih melampiaskan semua dukanya dengan menyusun tugas akhirnya. Mari ku kenal kan dengan Ryana Adeline Giandra, S.H., si perempuan kuat.
"We made it, Ry! We made it!" bisikku dalam pelukannya. Kami meneteskan air mata haru, sekilas mengingat banyaknya waktu, tenaga, juga energi yang terkuras selama 4 tahun ini. Aku bangga padanya, sangat bangga. Kilas balik memori langsung terekam di dalam kepala ku tentang perjalanan aku dan Ryana untuk berada di titik ini. Segala suka dan duka yang aku dan Ryana lewati bersama sekarang membuahkan hasil. Ryana mengambil perang penting di dalam perjalananku menempuh Pendidikan ini dan aku sangat bersyukur dipertemukan oleh manusia seperti Ryana yang dapat mengerti diriku tanpa harus perlu ku jelaskan bagaimana aku sebenarnya. Dari Ryana aku belajar banyak hal dan bersama Ryana aku merasa bahwa aku tidak sendirian.
Acara wisuda hari ini dihabiskan dengan berswafoto mengabadikan momen yang beberapa waktu lagi akan menjadi sebuah kenangan. Walaupun hari wisuda ini aku lewati sendirian, namun sama sekali tidak mengurangi keseruan dari segala rangkaian acara yang ada. Setelah semua rangkaian acara selesai dan hari mulai sore, aku kembali ke kamar kosku untuk beristirahat. Sesampainya aku di kamar kos, aku bergegas bersih-bersih diri lalu merebahkan diri. Ku lihat sekeliling, menatapi kamar kosan ku yang sempit namun nyaman ini. Kamar kos ku ini menjadi saksi bisu bagaimana aku menjalani hari-hariku. Disini aku memulai semuanya selama 4 tahun belakangan ini. Dinding kamarku pasti sudah bosan melihat tangis yang keluar dari mataku setiap aku habis melewati hari yang berat. Namun, kurasa dinding kamarku pun ikutan bangga karena akhirnya hari-hari berat yang ku lalui hingga begadang dan lupa makan, sekarang sudah membuahkan hasil. Ku buka sosial media ku dan ada beberapa ucapan selamat dari teman-teman terdekat. Lalu kubuka galeri foto dan melihat fotoku bersama ayah dan ibuku, kami bertiga tersenyum hangat melihat kamera, rasanya sudah tergambarkan betapa bahagianya ayah dan ibuku ketika tahu anak perempuan satu-satunya telah wisuda dan mendapat gelar sarjana.
—∞—
YOU ARE READING
Melepas Rindu
Short StoryKerinduan yang menumpuk di dalam dada dan berusaha menemui sumber rindunya namun tidak bisa sepenuhnya terobati.
