"Aku akan mengabadikan momen terbaikmu bersama orang yang berharga bagimu."
Tulisan itu jelas menggantung di leher pria yang membawa kamera mengelilingi dataran tertinggi itu mencari wisatawan yang ingin berfoto ria. Meskipun matahari menampakkan diri, keringat membasahi dahi hingga rahang yang tegas itu. Meskipun begitu ia tak putus asa. Memotret satu orang ke orang lain.
Nama nya Angga Artajasa seorang pria yang baru beranjak dewasa yang punya kecacatan pada pita suara karena insiden waktu ia masih kecil yang membuat ia tak bisa berbicara. Meskipun begitu ia tak menyerah ia terus berusaha sekuat tenaga karna ia adalah tulang punggung keluarga.
Seorang wanita berambut hitam sebahu berjalan ke arahku.
"Foto gue buruan" ucap wanita itu dengan nada terdengar kesal.
Sedetik aku terdiam ia begitu terpesona melihat wanita itu,lalu sepersekian detik kemudian aku kembali ke alam sadar mengangguk tanda setuju.
Wanita itu berpose, ia tampaknya tidak asing dengan kamera tidak ada gugup,tidak kaku ataupun menanyakan gaya yang bagus seperti apa.Ada satu hal yang aku sadari, aku berhenti memotret nya lalu meletakkan kedua jari tangan dibibir membentuk sebuah senyuman.
Wanita itu lalu menggeleng, " gue gak suka senyum"
Aku menghela nafas melanjutkan memotret, setelah sekian banyak foto yang tertangkap, kami mampir ke gubuk tempat mencetak foto disana ada Radit yang bertugas mengedit dan mencetak foto. Kami lalu duduk berdua sembari menunggu foto.
Ku tatap wanita itu tampak sempurna dengan kulit putih bersih rambut hitam sebahu mata hitam legam serta bibir merah sensual yang membuat pangling.
"Wanita yang cantik" ucapku dalam hati.
"Gue gak suka di tatap" tegas wanita itu.
Ku turunkan pandanganku, lalu mengambil buku catatan yang ku gunakan untuk berkomunikasi menuliskan kata "maafkan atas kelancangan ku" lalu kuberikan itu padanya.
Dia tersenyum lebar "Andai semua cowok kaya lo."
Tak lama ku perhatikan senyuman lebar tadi berubah menjadi senyuman yang sendu, senyuman yang menyimpan hal menyakitkan sangat menyayat hati.
"Angga sini! nih cewe mau difotoin sama lo!" teriak Yogi tak jauh dari gubuk.
Aku berdiri menunjukkan halaman depan buku tentang pembayaran jasa foto yang harus ia lakukan pada pria yang digubuk percetakan. Aku membungkuk ke wanita tanda aku pamit pergi itu melakukan tugasku selanjutnya.
Kepalaku diisi wanita itu, helaian rambutnya yang terhembus angin, wajah yang datar dan mata hitam legam itu sungguh membuatku hilang fokus seharian ini.
"Kerja bagus semuanya" ucap bos ku pada kami di iringi riuh dari teman-temanku.
Aku melepas lensa dan baterai kamera menyimpannya lalu bersiap pulang. Jam menunjukkan pukul sebelas malam, aku bergegas hendak pulang.
"Angga bareng gue mau gak?" ucap Radit bersiap dengan Vespa kesayangannya.
Aku tersenyum lebar mengangguk tanda setuju, dan aku bersyukur tidak perlu berjalan jauh kebawah untuk sampai ke rumah.
Sampai dirumah ku hela nafas ku,benar-benar gelap tidak ada kehidupan. Tak jadi ku lepas sepatuku lalu pergi mengunjungi rumah Radit yang melewati beberapa blok dari rumahku.
Selang dua puluh menit berjalan sampailah aku di depan pintu biru nila itu, ku ketuk tak beberapa lama Radit keluar hanya menggunakan boxer tanpa basa-basi menyuruhku masuk kerumahnya.
Ku darat kan bokongku di kursi kayu itu, Radit mengobrak abrik kulkasnya mengeluarkan minuman keras.
"Seenggaknya gue kasih sesuatu ke tamu yang gak diundang tengah malem gini" ujar nya menyindir.
Ku angkat ibu jari tanganku tanda setuju.
" Ibuk lo gak dirumah?adek lo juga?" tebak Radit sambil memberikan gelas berisi minuman.
Aku mengangguk menatap sendu ke gelas kaca itu.
"Gak tau untung lo tau gak gak tau diri mereka, lo banting tulang dari pagi sampe malem demi Ibuk dan adek lo eh malah mereka giniin lo" cerocos Radit tanpa henti.
Aku hanya bisa tersenyum kecut.
"Tinggalin aja udah, ga guna juga adek lo juga masih SMA aja tingkahnya banyak masa udah malem belum balik."
Aku menggeleng.
Radit menatapku "ya udah kalau butuh bantuan inget ada gue."
Aku mengangguk sekali lagi lalu memaksakan senyumku.
"Gak usah senyum muak liatnya."
Ku kerucutkan bibirku Radit tertawa lalu meminum minumannya.Ku teguk minuman itu, satu tegukan dua tegukan sampai aku tidak bisa menghitung berapa tegukan sudah ku teguk.
Rasanya suhu tubuhku meningkat kepalaku rasanya berat tetapi tetap ku teguk air di gelasku. Setidaknya masalahku terangkat sangat ringan bagaikan kapas terkena hembusan angin terbang ter angkat bebas diangkasa.
🥀
Aku mendengar suara tapak kaki, tidak satu tapi banyak tapi kaki rasanya berlari ke arahku. Aku merasa tanganku di tangkap paksa.
"Mimpi yang aneh" batinku.
Tapi rasa sakit tanganku rasanya nyata, sangat nyata...
"Arrghh"
kurasakan tamparan keras mendarat di pipiku.
Perlahan kubuka mataku, kepalaku sangat sakit dan berat mungkin efek terlalu banyak meneguk minuman.
Semuanya tampak memburam samar-samar aku melihat seragam polisi.
"Tapi untuk apa polisi disini? lebih baik aku berhenti minum." ujar ku dalam hati.
Bughhh!!!
Rasanya benda asing mendarat di perutku, perih sangat perih lalu gelap semuanya gelap.
YOU ARE READING
INSANE MISTAKE
Short StoryAngga Artajasa pria tuna wicara berumur dua puluh tahun seorang tulang punggung keluarga yang bertanggung jawab menghidupi ibunya dan adik perempuan bernama Anggi Arsajasa. Semua berjalan seperti biasanya hingga akhirnya saat Angga bangun tidur dik...
