ch 1

27 4 3
                                        

Seorang pria paruh baya berjalan cepat dengan muka memerah hampir ke hitam karna menahan amarah yang cukup besar, pria itu yang tak lain adalah ayahku.

Ia berjalan ke arahku dengan serangkaian kata kata seperti, "dasar anak tidak berguna", kemudian "aku sungguh menyesal mempunyai anak sepertimu", dan  juga "lebih baik kau mati!" dan lain lainnya.

Sepertinya ia marah besar kali ini, ia bahkan tega meninju perutku dan kemudian memukul kepalaku menggunakan sapu hingga berdarah.

Aku tidak tau apa yang membuatnya marah dan ia juga tidak berhenti memukulku bahkan sekarang pipiku di tampar sangat keras dan itu membuat sudut bibirku berdarah.

Aku melirik ibu tiriku dan kakak perempuanku yang duduk di sofa sedang memakan camilan sambil menonton ayah memukuliku. Terkadang aku melihat mereka tersenyum padaku. Aku tidak tau apa yang mereka pikirkan.

Dan ayah pun tidak berhenti memukuliku dengan sapu. Andai saja ayah tau jika itu sangat menyakitkan apakah ia akan berhenti memukuliku?

Setidaknya katakan sesuatu, agar aku tau apa kesalahanku hingga bisa membuat ayah marah. Mungkin lain kali aku tidak akan mengulanginya agar ayah tidak marah kepadaku. Mungkin...

Ugh kepalaku... Ini sangat menyakitkan.

Samar samar aku mendengar ayah mengatakan sesuatu,
"Tidak bisakah kau seperti kakak perempuanmu itu? Dia pintar dan tidak memalukan sepertimu!? Kau memang anak pembawa sial dan tidak berguna!"

"Aku menyesal memiliki anak sepertimu!"

Andai ayah tau jika aku tidak peduli tentang kata-kata ayah, menyesal atau tidak aku tetap menjadi anak ayah.

Ah, aku jadi teringat tentang ibu, mungkin jika ibu masih hidup ayah tidak akan memperlakukan ku seperti ini, dan keluarga kita bisa bahagia.

"Anak sial, lebih baik kau ma.ti."

Apa yang ayah katakan aku tidak mendengarnya, telingaku berdengung dan penglihatan ku semakin buram, kepalaku sakit.

Aku mendengar suara langkah kaki mendekat kemudian aku merasakan sebuah tangan menyentuh keningku lalu mendorongnya perlahan menggunakan jarinya kemudian tubuhku jatuh ke lantai dan semuanya gelap

'Aku... Entahlah,aku tidak tau harus mengatakan apa'

(1)

"Ugh kepalaku", sial ini sakit sekali, beruntung sekali aku masih hidup ku kira sudah mati karna mengingat tadi kepalaku di pukul sangat keras hingga berdarah.

Tapi, di mana aku ini? Kenapa aku di hutan? Oh mungkin mereka membuang ku ke sini karna mengira aku sudah mati.

"Ya mungkin saja, tapi.." aku meraba kepalaku tapi aku tidak merasakan ada darah dan bekas luka di sana.

"Apa mereka yang mengobati ku? Tapi itu tidak mungkin dan juga bagaimana mungkin bisa luka sembuh secepat itu."

"Yasudahlah, toh itu tidak penting. Masih bisa hidup pun aku bersyukur wk." aku tertawa bodoh, bisa gila aku lama lama.

"Yosh, eh.. Apa ini?" jari jari ku menyentuh sesuatu yang dingin seperti besi, saat aku menoleh ke samping kanan ternyata itu adalah sebuah pedang.

"Pedang?"

Aku mengambil pedang itu lalu ku raba besi dingin nan tajam hingga ke ujung.

"Ck, ini pedang sungguhan."

Saat aku sedang mengamati sebuah pedang yang entah muncul dari mana, tiba tiba ada seekor beruang dengan tanduk seperti rusa dan ekor panjang yang mirip dengan ular.

My nameWhere stories live. Discover now