Batita manis itu berjalan kesusahan menyusuri halaman depan rumahnya yang ditumbuhi rerumputan hijau. Gadis kecil itu berusaha menjangkau mobil penjual eskrim yang berhenti di seberang rumahnya. Keadaan sore itu ramai oleh orang-orang yang sedang berolahrga, karena rumah itu persis berada di samping taman yang biasa digunakan orang-orang untuk sekedar beristirahat akan penatnya kegiatan seharian, atau ada juga yang berolahraga.
Dari dalam rumah, seorang wanita muda tampak panik mencari keberadaan putrinya yang sekejap mata telah hilang dari pandangannya. Netra cokelat itu segera menangkap tubuh mungil anaknya yang berjalan kesusahan melewati rerumputan halaman depan. Segera Ia berlari menghampiri anaknya sebelum tubuh mungil itu tiba dijalanan yang ramai.
"Ih Nia bikin Bunda panik aja. Ini juga lagian Ayah kamu tuh ya disuruh jagain kamu bentar aja malah gitu. Awas aja kalo ketauan lagi main mobil-mobilan lagi sama abangmu!" Ucap wanita itu sambil mengomel.
Berjalan kembali memasuki rumah sembari menggendong si Kecil, bibir mungilnya tak henti-henti mengomeli kelakuan suaminya yang teledor dalam mengurus putri kedua mereka. Sementara gadis mungil dalam gendongannya hanya tertawa-tawa.
"Ayah gimana, sih. Ini tadi Nia keluar malah dibiarin aja. Untung aku keburu sadar," omelnya pada suami yang belum jelas dimana keberadaannya tersebut.
Netranya menyapu seluruh sudut rumah, memastikan dimana keberadaan lelaki yang menyulut emosinya sore ini. Di ruang keluarga, tidak ada.
Disofa, juga tidak ada.
Apalagi di dapur.
Kemana perginya pria itu, pikirnya. Wanita itu kemudian menurunkan si Kecil dari pangkuannya, melihat kekacauan yang sepertinya baru diciptakan suaminya beberapa menit lalu bersama anak sulungnya. Mobil-mobilan berserakan dimana-mana. Lego, barbie, dan mainan lain dibiarkan berserakan begitu saja. Sungguh menguras emosinya.
"Ayahmu tuh, ya, Ni. Kebiasaan apa-apa suka diberantakin, udah gitu nggak mau bantuin ngeberesin lagi. Kayak sekarang, nih ditinggalin aja kayak gini. Ntar siapa yang repot? Ya Bunda mu ini. Makanya, Ni, kamu cepetan gede dong biar bi- AAA," omelnya terpotong karena sebuah tangan yang tiba-tiba menutupi kedua matanya.
"Selamat ulangtahun pernikahan yang keenam, Bunda." Ucap suara pemilik tangan yang menutupi mata wanita itu. Pria itu kemudian menurunkan tangannya yang berada pada mata sang istri, kemudian dengan gerakan cepat mengambil bunga yang semula berada pada tangan anak sulungnya.
Wanita itu segera berbalik badan menghadap suaminya, seketika itu juga pria itu menyerahkan seikat mawar merah yang disusun indah itu kepada istrinya. Wanita itu serta-merta menerima buket mawar merah itu dan segera memeluk suaminya erat.
Setiap tahun selalu begini.
Adegan romantis yang sebenarnya bukan hal asing lagi di keluarga kecil tersebut. Tapi, untuk mawar merah hanya ada setahun sekali, spesial memperingati ulang tahun pernikahan mereka.
"Selamat ulangtahun pernikahan yang keenam juga, Sayang." Ucap wanita itu seraya memeluk suaminya.
Pria itu kemudian mengarahkan istrinya untuk duduk di sofa, diiringi si Anak sulung yang membimbing adiknya yang masih kecil menuju sofa.
"Kita selalu layain ulangtahun pelnikahan ayah sama bunda tiap tahun, tapi abang nggak pelnah dicelitain gimana ayah sama bunda dulu ketemu." Ucap si Sulung yang cadel dengan wajah cemberut.
Wanita dan pria itu sontak tertawa. Tangan pria itu beralih pada kepala si sulung, kemudian mengusapnya penuh kasih.
"Abang sama adek mau dengerin ayah cerita?" tanyanya pada kedua anaknya tersebut.
"Mau, mau." Ucap si Sulung antusias.
Sementara si Kecil, Nia sudah sibuk dengan kelopal bunga mawar di genggaman sang Bunda.
"Oke, ceritanya panjang. Abang dengerin baik-baik, ya. "
Si Abang yang antusias kemudian menggeser posisi duduknya menjadi lebih nyaman, dengan wajah sumringah siap mendengarkan cerita sang ayah.
Kisah Keluarga kecil itu pun bermula, sejak pertemuan pertamanya di bangku SMA.
KAMU SEDANG MEMBACA
After Sunset
Teen FictionCinta sejatinya akan menemukan jalannya untuk kembali, bagaimanapun upaya untuk memisahkannya cinta tau tempat ia berpulang. Sejauh apapun kelana, sejatinya tulang rusuk itu akan kembali pada pemiliknya
