___Rayyan POV___
Perasaanku sudah lega melepas Zidan untuk kak Robi. Aku sadar betapa aku menyakiti perasaan Zidan selama ini. Kukira, pertemuan Zidan dan Kak Robi adalah kehendak semesta. Kini hanya aku yang perlu melepas perasaanku kepadanya. Walau harus jujur, Zidan adalah temanku yang berharga, juga pacar yang sangat kusayang. Melihatnya bahagia bersama kak Robi, cukup untuk membuatku bahagia juga.
Aku melangkah pergi dengan membawa segenap hati. Saat pintu kubuka, ada lelaki yang sudah kurindu sangat lama. Dia yang punya cerita sebelum Zidan datang dengan membawa rasa. Aku merindukannya diam-diam sembari menghapus perasaanku dalam-dalam. Saat air mata berlinang dengan segala kenang, aku memeluk dia sangat kencang. "Kak Reyhan...." Ucapku sambil sesenggukan.
Kepalaku tenggelam di dada kak Reyhan. Perasaan yang ingin kubakar habis, kini muncul lagi dan semakin manis. Aku seperti menemukan tempatku dulu. Tempat dimana perasaan nyaman ada di setiap detak jantung. Baunya masih sama seperti dulu. Apalagi jaket jeans yang dipakai kak Reyhan aku sangat mengingatnya. Jaket yang kupilihkan untuk dia saat itu.
Lama aku terdiam di dada kak Reyhan, sampai akhirnya ia mengangkat kepalaku. Aku melihat senyumnya yang masih sama seperti biasa. Dia mengecup keningku sebentar, kemudian memelukku erat. "Halo dek..." sapanya.
"Kamu Han.... Masuk sini" ucap kak Robi dari dalam.
"Rob.... Iya nih aku mau kembalikan bukumu. Eh malah ketemu adekku..." aku terpesona mendengar kak Reyhan menyebut aku adiknya. Kemudian dia merangkul bahuku dan membawaku kembali ke dalam. Aku melihat Kak Reyhan begitu akrab dengan Kak Robi. "Kok bisa adekku disini Rob?" tanyakak Robi selidik.
"Duduk aja dulu Han. Nanti aku jelaskan. Jangan salah paham dulu." Jelas kak Robi. "Dek, Dek Zidan... sini bentar kakak mau ngomong." Panggil kak Robi. Zidan keluar dari kamar dan duduk disamping kak Robi. Sedangkan aku dan kak Reyhan duduk di depan mereka.
Lama terdiam. Mungkin masing-masing dari kami bingung mau memulai pembicaraan dari mana. Aku memberanikan diri menyapa kak Reyhan yang sudah lama kurindukan. "Kak Reyhan apa kabar? Sudah lama gak ketemu ya!" ucapku
"Kak Rey baik dek... beberapa kali kakak ke kontrakan, tapi gak ketemu adek." Jelasnya. "Adek apa kabar?"
"Aku baik kok kak. Apalagi setelah ketemu kak Rey hari ini." Godaku.
"Rayyan..." ucap kak Robi tiba-tiba. "Aku tidak tau hubunganmu dengan Reyhan seperti apa. Tapi ada satu hal yang perlu kamu tau." Jelas kak Robi kepadaku sambil sesekali melirik kak Reyhan. Sedangkan kak Reyhan hanya bisa mengangguk seolah memberi persetujuan. "Reyhan itu pacar Kak Robi" jelasnya. Aku hanya kaget dan tidak bisa berkata apa-apa. Pun juga dengan Zidan yang hanya bisa menunduk tidak tau harus berbuat apa.
Aku melihat kak Robi yang memeluk Zidan menguatkannya. Juga merasakan tangan Kak Reyhan yang menggenggam tanganku erat. Dua orang dewasa ini sedang saling meyakinkan kami. Entah apa.
"Tapi kalian berdua tidak perlu khawatir. Aku dan Reyhan sudah putus. Saat itu aku bertemu dengan Zidan dan aku merasakan lagi perasaan bahagia memiliki seorang pasangan. Zidan membawa lagi rasa bahagia mas Robi. Karenanya, saat ini mas Robi sangat menyayangi Zidan. Mumpung ada Reyhan disini, mas Robi ingin mengatakan kepada Zidan, saat ini kamu satu-satunya yang mas Robi sayang." Ucap Kak Robi kepada Zidan.
"Mas yakin hanya Zidan yang ada di hati mas Robi?" tanya Zidan.
"Iya dek. Tanpa keraguan" jawab kak Robi. Aku melihat wajah Zidan senyum seketika.
"Tapi kalau boleh tau, kenapa kak Robi dan Kak Reyhan putus?" tanyaku.
"Karena..." kali ini Kak Reyhan yang menjawab. "Karena kak Reyhan dan Kak Robi sama-sama Top. Kami tidak bisa saling mengalah satu sama lain. Karena itu kak Reyhan tetep sahabatan sampai sekarang" jelas Kak Reyhan
"Walaupun begitu kan kalian masih bisa saling..." tebakku. Kak Reyhan dan Kak Robi hanya senyum-senyum dengan tebakanku. "Ah... jangan-jangan hari ini kak Reyhan kesini juga buat begituan...." Tebakku lagi.
"Ah nggak. Kak Reyhan bener-bener mau kembalikan buku Robi dek... kasian dia mau garap skripsinya." Jawab kak Reyhan. "Jadi, ini pacarmu sekarang Rob?" tanyanya.
"Iya Han... gimana gantengkan?" puji kak Robi kepada Zidan. Zidan hanya bisa tersenyum dengan wajah memerah menahan malu. Kemudian tanpa malu kak Robi mencium kening Zidan membuat wajahnya semakin memerah.
"Harus kuakui sih... wajahnya aja putih, apalagi..."
"Eitsss... jangan dilanjutkan Han... Zidan itu milikku. Jangan kau dekati" protes Kak Robi. "Jadi... ada hubungan apa kamu dengan Rayyan?" selidik Kak Robi
"Ah Rayyan..." ucap Kak Reyhan sambil mengelus rambutku. "Rayyan yang pertama buatku. Dia yang aku sayangi dengan sepenuh hati. Sampai dua tahun lalu aku pindah kontrakan dan tidak bisa bersamanya lagi. Aku beruntung bisa ketemu Rayyan hari ini." Jelas kak Reyhan.
"Rayyan yang pertama buatmu? Artinya, kau... Rayyan... begitu"
"Tidak perlu aku perjelas kan Rob..."
"Tidak... Tidak... aku hanya penasaran saja. Karena Zidan juga sama. Ia pertama buatku."
"Bagaimana dengan Rayyan?" tanya Kak Reyhan
"Maaf..." ucap kak Robi. "Aku tidak tau kalau Rayyan orang yang kamu sayang..."
"Oh..." ucap Kak Robi hanya dengan satu kata. Lama terdiam tanpa suara. "Lagian itu tidak disengaja."
Aku memegang tangan kak Reyhan dengan kuat. Ia membalas genggaman tanganku seolah mengatakan 'kakak gak apa-apa dek...'
***
___Reyhan POV___
Hari ini aku bersiap-siap pergi. Entah kenapa setelah putus dari Robi, hari ini aku merindukannya lagi. Perhatiannya padaku tidak bisa membuatku lupa begitu saja. Apalagi kemarin dia WA butuh bantuanku untuk skripsinya.
Dengan sepeda matic yang kupunya, aku mengendarai sepedaku melewati jalan ijen kearah MOG. Setelah melewati alun-alun kota aku teringat lagi dengan Robi. Aku berencana meminta balikan, entah dengan hubungan yang seperti apa.
Aku sudah sampai di rumahnya. Sampai saat ingin kuketuk pintunya, perasaan ragu menyergap seluruh keberanian yang sudah aku kumpulkan. Sekali, dua kali, tiga kali kuketuk tidak ada jawaban. Mungkin Robi sedang pergi. Ah aku ingat ada pintu belakang karena kamar Robi yang berada dekat dengan pintu belakang. Aku berjalan kesana dan aku mendengar desahan yang sangat hebat. Desahan yang hanya dengan mendengarnya saja batangku berkedut meminta dibebaskan. Dari jendela aku melihat Robi sedang menggagahi seorang pria. Keringat yang mengalir dari dadanya begitu mempesona.
Robi memaju mundurkan batangdi lubang senggama ria itu dengan posisi nungging. Dimulutnya ada batang seorang pria remaja seumuran yang tak kalah putih bersih. Dia juga keenakan karena batangnya yang sedang dikulum.
Lama kuperhatikan baik-baik dengan batangku yang semakin liar. Sampai aku sadar, remaja yang sedang dikulum itu adekku, orang yang pernah aku sayang, Rayyan. Setelah lama berpisah, aku melihat dia sedang keenakan dengan mantan pacarku dan seorang remaja lain. Mungkin hatiku retak, tapi juga bahagia bisa bertemu dengannya.
Aku putuskan kembali ke teras depan. Rasanya ingin pulang saja, tapi aku ingin bertemu Rayyan. Barangkali masih ada kesempatan bagiku untuk bersatu lagi dengannya. Pikiran tentang Robi sudah hilang saat aku melihat Rayyan. Ya, Rayyan akan kuperjuangkan dan kutunggu di pintu depan.
.
.
Bersambung
YOU ARE READING
Kak Reyhan
RomanceAku telah lama tidak bertemu dengannya. Sosok kakak yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Dia telah mewarnai kehidupanku yang sebelumnya biasa saja. Dia Kak Reyhan, tetanggaku. Aku mengenalnya sejak pertama kali dia menempati rumah kont...
