P R O L O G

23 5 2
                                        

Kenapa takdir dari yang maha pencipta menjadi tidak begitu adil kepadaku? Mengapa harus terjadi begitu saja? Apakah salah jika aku harus mencintainya?.

Mungkin memang terdengar agak bodoh, seorang lelaki tidak mau berani mengambil resiko demi hubungannya.

"Ndra, aku mau kita putus." Kalimat itu memang singkat, tapi sangat berbekas di lubuk hatiku. Sakit? Tentu saja.

Ribuan pertanyaan ingin aku ungkapkan kepadanya, namun mengapa mulutku terasa seperti terkunci? Kenapa aku hanya menerima alur yang sudah disiapkan dia.

Bahkan saat dia pergi, aku tidak sempat menyapanya sama sekali.

Ketika dia berada di dalam pelukan orang lain, aku hanya bisa tersenyum kecut.

Aku sadar, mungkin Sagara lebih baik daripada diriku.

Tidak ada pelampiasan yang cocok bagiku, kecuali tulisan yang akan ku torehkan.

Ku tuliskan kata demi perkata untuk melampiaskan rasa kesedihanku ini.

Aku tidak mau egois, tapi rasa ini tidak mudah untuk dihilangkan, kucoba pelan pelan untuk melupakannya, memang agak susah tapi aku berpikir jika dia bahagia, kenapa tidak?.

Tapi, mengapa aku tidak mendapatkan kebahagiaan seperti dirinya? Aku sangat iri.

Jujur saja aku merindukan wajahnya yang begitu terlihat sangat cantik dengan rambut hitam yang pekat, tangismu yang pecah saat di dekapanku, tawanya yang manis bagaikan gulali dan masakannya yang super lezat itu.

Bahkan seribu lagu pun tidak cukup untuk mendeskripsikan betapa sempurnanya dirimu.

Terlihat seperti tidak nyata, tapi aku yakin itu bukan mimpi maupun fiksi belaka.

"Aruna... Aku sangat mencintaimu"

______

Rajendra, 2021Stories to obsess over. Discover now