Chapter 1 - Pertemuan Tak Terduga

27 3 12
                                        

"Kamu Ameyra kan?" lelaki itu membulatkan netranya dan semakin intens menatapku.

"Ya ini aku, Signor Saverio Tacchinardi" sahutku kemudian.

Sungguh, tak pernah terpikirkan di otakku bahwa aku akan bertemu lagi dengan pria ini. Setelah kami melewati satu malam yang panas di Bali, tiga tahun yang lalu.

Flash back.

Kami bertemu di Sky Garden Club, yang tak jauh dari pantai Kuta, Bali. Saat itu aku kehilangan jejak teman-temanku. Mereka meninggalkanku sendirian di tengah hiruk pikuknya para clubbers yang asyik menikmati musik iringan DJ Dash Berlin saat itu.

"Hi girl, are you okay?"
samar kudengar suara itu hingga kemudian aku tak sadarkan diri.

Aku terbangun di sebuah kamar hostel, kepalaku masih terasa berat. Entah sudah berapa banyak macam minuman yang kuteguk tadi malam.

Tequila, mojito, lemon daiquiri, strawberry margarita, capiroska, espresso martini.

Ah entah apalagi yang masuk ke perutku hingga kini aku merasakan mual tak tertahankan.

Pintu kamar terbuka. Sosok pria asing masuk, membawa nampan berisikan segelas teh hangat, toast, dan obat penghilang pengar.

"Buongiorno, signorina" sapanya lembut, tak lupa dihiasi senyum manis di bibirnya yang menurutku berbentuk unik dan sexy seperti buah cherry.

"Oh hi, good morning" sahutku kikuk berusaha mencerna apa yang sudah terjadi.

Aku cek tubuhku di dalam selimut, ah syukurlah, pakaianku masih lengkap.

"Tidak terjadi apapun semalam"
Dia seolah tau apa yang menjadi kekhawatiranku.

"Makanlah dulu, lalu minum obatnya. Kamu terlalu mabuk tadi malam. Untung saja penginapanku tak jauh dari club. Jadi aku tak sulit membawamu kemari."

Aku mengangguk dan mengikuti perintahnya.

"Terima kasih. Pastinya aku sudah merepotkanmu."

"It's okay, my pleasure."

"Namamu siapa? aku Saverio Tacchinardi dari Torino, Italia."

"Aku Ameyra, panggil saja Amey. Aku dari Bali."

"Oh local girl. Nice to see you"

Sepanjang hari itu pengarku tak juga hilang, hingga aku tetap tinggal di kamar pria itu. Dia baik, sederhana, dan lucu. Saverio tipikal turis backpacker yang tidak menghamburkan uang untuk tinggal di hotel mewah. Dia masih kuliah sambil kerja part time di cafe dekat kampusnya.

Tak butuh waktu lama, aku merasa nyaman bersamanya. Kami sesama pecinta sepakbola, namun tim favorit kami berbeda. Musuh bebuyutan malah. Dia Juventino, sebutan untuk fans club Juventus, sebuah club yang berbasis di kota Torino. Sedangkan aku Milanista, pendukung club AC Milan.

Dan entahlah apa yang terjadi pada diriku. Mataku seakan tanpa jemu memandangi bibirnya tatkala berbicara. Bibir itu indah, mengingatkanku pada bibir milik Kim Seok Jin. Member tertua BTS yang menjadi biasku selama beberapa tahun belakangan. Kalian tau kan betapa tampannya Kim Seok Jin? nah, kalian bisa bayangkan wajah Saverio ibarat Kim Seok Jin namun dengan versi Eropa.

Ku dekatkan wajahku pada wajahnya. Perlahan-lahan semakin dekat, dan mungkin karena aku terlalu menggilai Kim Seok Jin, tanpa sadar ku kecup bibir cherry itu. Dan gilanya, dia membalas ciumanku.

Ciuman kami semakin intens dan dalam. Tangannya mulai merambah ke balik gaunku. Tak sampai satu menit, gaun itu sudah berpindah tempat ke lantai kamar.

Malam itu kami menyatu, bersama nafas yang memburu, peluh yang bercucuran, dan erangan yang bersahutan. Dan akhirnya tubuh kekar Saverio terkulai lemas di sampingku. Nafasnya masih tak beraturan, dan tak lama kemudian dia terlelap dalam tidurnya.

=====

"Hey, Amey.. kamu melamun? apa yang kau lakukan di Italia?" suara Saverio membuyarkan ingatanku akan kejadian malam itu.

"Oh maaf, aku hanya lelah" dustaku. Yang benar saja, tak mungkin aku katakan padanya bahwa aku sedang mengingat kenangan kami dulu.

"Come stai, cara?" tanyanya.
(apa kabarmu, sayang?)

"Sto bene, grazie. Tu, come stai?"
(kabarku baik, terimakasih. Kamu, apa kabar?)

"Aku juga baik. Aku baru saja pulang ke kampung halamanku di Torino. Sekarang aku tinggal di Milan, aku membuka cafe kecil di pertokoan dekat Galleria Vittorio Emanuele II. Datanglah jika kau ada waktu."

Belum sempat ku sambut tawarannya, suara Alessio mengalihkan fokusku.

"Ameyra, sayangku... Maaf aku terlambat. Jalanan begitu macet karena konvoi para Milanisti merayakan kemenangan derby sore ini." jelasnya.

Derby adalah pertandingan sepakbola antar club sekota. Dan di Italia, sepakbola adalah budaya yang sudah mendarahdaging. Mereka akan melakukan apapun untuk mendukung club favorit mereka.

"Tidak apa-apa, sayang. Aku rindu kamu" ucapku.

Alessio memelukku erat, aroma parfum diptyque philosykos menyeruak dari tubuhnya. Ah, setelah hampir setahun selera wewangiannya tetap tak berubah.

"Ayo kita makan, kamu pasti lapar. Lalu kita ke apartemenku."

"Ayo... aku sangat lapar!" seruku bersemangat.

Kami berjalan bergandengan menuju pintu keluar bandara. Oh, sial.. aku melupakan Saverio! Ku tengok ke belakang, sosoknya sudah tak ada lagi.

"Hmm, siapa pria yang berbicara denganmu tadi?" tak kusangka Alessio menanyakan perihal Saverio.

"Oh itu.. Hanya seseorang yang ku tanyakan arah jalan keluar. Karena aku hampir putus asa menunggumu"

"Mi dispiace, cara mia"
(maafkan aku, sayangku)

"Tidak apa-apa, ayo kita makan. Aku sangat lapar" kualihkan arah pembicaraan kami. Sehingga tak terlalu membahas pria yang pernah menjamah tubuhku, tiga tahun lalu itu.

Jalanan kota Milan sangat ramai, terlebih saat ini adalah akhir pekan. Banyak orang berjalan-jalan ke pusat kota yang terkenal sebagai kiblat fashion dunia. Butik-butik merk terkenal berjejeran, menyuguhkan barang-barang high fashion items yang harganya tidak manusiawi.

Tak sampai tiga puluh menit, kami tiba di sebuah restoran kecil yang berkonsep outdoor. Aku segera memesan pasta fusilli bolognese dan jus strawberry untuk menu makan malamku.

Dari sini dapat terlihat orang-orang berlalu lalang, gaya busana mereka sangat trendy. Aku seperti melihat fashion show versi dunia nyata. Tak jauh dari sini, ada sebuah band kecil beranggotakan tiga orang yang sedang tampil membawakan lagu Meraviglioso milik Negramaro, salah satu band terkenal Italia.

Kesan pertamaku pada kota ini sangat menakjubkan. Lebih indah dari yang aku bayangkan. Rasanya aku tak menyesali telah menguras semua tabunganku untuk bisa kesini.

"Sayang, ayo kita pulang"

Alessio mengajakku pergi ke apartemennya setelah kami menuntaskan makan malam kami.

Dia bukakan pintu mobilnya untukku, ini sepertinya sudah menjadi ciri khas para pria Italia dalam memperlakukan wanitanya.

Mungkin ini salah satu alasan, mengapa begitu banyak wanita di dunia yang mendambakan untuk mempunyai pasangan dari salah satu negara benua biru ini.

Sesaat sebelum aku memasuki mobil, pandanganku tak sengaja mendapati sosok Saverio yang juga mendatangi restoran yang sama di tempat kami makan tadi. Dia menggandeng seorang wanita yang sangat cantik. Pandangan kami bertemu, dia mengedipkan mata kirinya padaku.

Oh sial, mengapa kami harus bertemu lagi...

Milano, sono pazza di te! Stories to obsess over. Discover now