Prolog

0 1 0
                                        

Moona berjalan dengan langkah tertatih-tatih tanpa arah dan tujuan. Ia terus saja berjalan menyusuri jalan yang sepi. Hujan turun semakin deras. Meskipun,hujan turun begitu deras Moona tak menghiraukannya. Ia terus saja berjalan menyusuri jalan menuju makam sang ibu. Saat tiba,ia langsung duduk disebelah makam sang ibu. Ia memeluk erat batu nisan milik ibunya tersebut. Air mata Moona mengalir deras begitu saja bagaikan hujan dihari itu. Ia tak sanggup menahan tangisnya lagi. Kali ini,ia benar-benar hancur dan tak tahu harus berkeluh-kesah ke siapa lagi. Saat ini,ia hanya ingin bersama dengan ibunya.

"Ma... Moona kangen sama mama. Boleh nggak ma kalau Moona nyusul mama sekarang? Moona capek ma. Papa udah bukan papa Moona yang dulu lagi. Papa udah berubah ma",ucap Moona dengan nada gemetar serta air mata yang terus saja mengalir dari pelupuk matanya.

"Apakah Moona ditakdirkan untuk tidak menikmati kebahagiaan sejenak aja ma? Moona capek sendiri terus..capek maa"

"Ya! Moona harus nyusul mama sekarang juga. Moona harus ikut mama sekarang",ucap Moona seraya menyeka air matanya yang sedari tadi menetes.

Moona pun berlari meninggalkan pemakaman. Ia berlari tanpa tujuan. Setelah sekian lama ia berjalan tanpa arah dan tujuan akhirnya ia menemukan sebuah jembatan yang sepi. Ia berniat untuk mengakhiri hidupnya saat itu juga. Namun,naasnya saat,ia hendak menyeberang jalan tiba-tiba saja ada truk besar pengangkut barang berjalan dengan kecepatan tinggi menuju ke arahnya. Moona tak tahu jika ada truk besar berjalan menuju ke arahnya. Karena, derasnya hujan membuat jarak pandang sangat minim. Saat ia berada ditengah jalan tiba-tiba saja...

Brakk.....

Truk tersebut menabrak tubuh Moona. Hingga, tubuhnya terpental sejauh beberapa meter dari tempatnya berdiri. Tubuhnya membentur aspal sangat keras. Darah segar mulai mengalir dari kepala dan juga hidupnya. Pandangannya mulai memburam, kesadarannya perlahan mulai menghilang. Nafasnya pun mulai beraturan. Perlahan ia memejamkan matanya.

"Ma... Moona datang", lirihnya

"Udah saatnya Moona ikut mama", ucapnya sebelum dirinya menutup matanya.

Mata Moona perlahan mulai tertutup. Sebelum matanya terpejam Moona menyempatkan untuk menyunggingkan senyum manisnya. Detak jantungnya mulai melemah.

•••

Gideon, Felix, Rachel,serta teman-temannya saat ini sedang berkumpul disebuah cafe. Mereka asyik bersenda gurau satu sama lain. Saat mereka sedang asyik berbincang tiba-tiba saja datanglah Defan berlari ke arah mereka dengan terburu-buru.

"Woy!!!",teriak Defan seraya berlari ke arah Gideon dan teman-temannya.

"Woy! A-anuu",ucap Defan dengan nada tersengal-sengal.

"Apaan sih Lo Fan? Gaje banget. Emang ada apaan sih?",ujar Felix.

"Nih,nih Lo minum dulu deh baru Lo cerita",ucap Gideon sembari menyodorkan segelas orange jus kepada Defan. Defan pun menenggak jus tersebut hingga tetes terakhir.

"Ada apa sih kawan?",ucap Felix sembari menenggak minuman miliknya.

"Moona! Moona kecelakaan!!",sahut Defan dengan nada keras,sehingga membuat seluruh pengunjung cafe menatap ke arah mereka. Felix yang mendengar ucapan Defan pun tersedak minumannya.

"Jangan bercanda deh Lo Fan. Orang tadi si cupu itu ada dirumah kok",sahut Rachel dengan santai.

"Serius gue! Sumpah da! Demii!!!",sahut Defan seraya mengacungkan kedua jarinya.

"Lo tahu darimana emang? Kan Lo biasanya kang hoax",sahut Olivia.

"Gue tadi liat di sg nya si Desto!"

"Alah paling juga saudaranya",sahut Rachel.

"Anjing buka dulu napa sg nya si Desto. Ngeyel Mulu Lo pada ya!"

Mereka pun membuka sg Desto. Dan benar saja Moona mengalami kecelakaan.

Gideon diam membeku. Entah mengapa rasanya sakit saat mendengar bahwa Moona sedang terbaring koma dirumah sakit. Menyesal? Tentu! Tetapi,mau bagaimana lagi? Ia sadar bahwa dirinya terlalu egois dan terlalu kasar pada Moona akhir-akhir ini.

Berbeda dengan reaksi Gideon yang hanya diam membeku bagai patung. Justru, Felix segera berlari meninggalkan cafe lalu pergi menuju rumah sakit
Disepanjang perjalanan menuju rumah sakit Felix hanya bisa menyumpah serapahi dirinya didalam hatinya.

Setelah Gideon melamun beberapa saat ia kemudian bergegas menuju rumah sakit menyusul Felix. Ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu pada Moona.

"Deon!!",teriak Rachel

"Deon kamu mau kemana?!!!"

Namun,Gideon tetap saja berlari meninggalkan cafe tanpa menghiraukan panggilan Rachel.

Maaf bulan,maafin Deon. Aku nyesel nggak dengerin kamu dulu. Maafin aku,karena aku lebih percaya Rachel daripada kamu, Gumam Gideon dalam hatinya.




••••

See you again!.

Rintik Sendu | On GoingMga kuwentong kahuhumalingan mo. Tumuklas ngayon