Aku dimana?
Kenapa rasanya pusing sekali?
Siapa aku?
"Alecra, akhirnya kamu sadar"
Bi muna?
Kenapa dia menangis?
Kenapa wajahnya kusut sekaligus lega?
Dia siapa?
Kenapa menyentuhku?
Kenapa memeriksa tanganku?
Kenapa memeriksa denyut jantungku?
"Halo, Alecra!," Dia menyapaku.
"Apa yang kamu rasakan?," tanya dia.
Entahlah, aku hanya pusing.
Kepalaku berat.
Aku ingin tidur.
Kenapa semakin gelap?
Apa lampunya mati?
Atau aku yang mati?
___
Suasana rumah sakit Cipta Kasih masih lengang pagi ini. Hanya ada beberapa suster dan beberapa dokter yang berlalu lalang. Pasien kebanyakan masih berada di bangsalnya. Alecra, gadis dari bangsal nomor 201 sudah bangun sejak tadi. Dia masih berbaring tanpa mengatakan satu patah kata pun. Seorang wanita paruh baya menemaninya dan dia masih tidur di sofa yang tersedia di dekat jendela. Alecra sendiri masih menerka-nerka dimana dan kenapa ia ada di ruangan itu dengan kepala yang diperban dan infus yang menempel di tangan kirinya.
Saat Alecra masih menerka-nerka dimana ia berada, seseorang membuka pintu kamar. Seorang wanita berjas putih dengan stetoskop yang tergantung di lehernya muncul dari balik pintu. Wanita itu berjalan menuju Alecra dan menyapa nya. Dia wanita yang kemarin.
"Hai, Alecra. Saya dokter Rika, saya dokter yang menangani kamu," suaranya terdengar sangat lembut. Di iringi dengan senyum yang membuat wajah wanita itu tambah menawan.
"Seminggu yang lalu, kamu mengalami kecelakaan tunggal dan terluka parah. Kemarin adalah kali pertama kamu membuka mata selama tujuh hari ini."
Wanita itu mengambil jeda sejenak untuk menyapa wanita paruh baya yang baru terbangun dan tergesa-gesa menuju bangsal. Wanita itu mengisyaratkan wanita paruh baya itu untuk tidak bersuara dengan menempelkan jari telunjuknya di depan bibirnya. Lalu kembali menatap Alecra.
"Apa yang kamu rasakan?"
Alecra tidak tahu bagaimana harus mendeskripsikannya. Dia bingung, gelisah, pusing dan merasa hampa. Tidak ada satu hal pun yang dapat dia ingat tentang apa yang terjadi.
Dokter Rika menarik nafas panjang seperti menemukan masalah dari lubang selokan yang tersumbat dan merasa jengkel karena ada hal yang menyebabkan masalah. Dia cukup lama terdiam sebelum pada akhirnya meminta Alecra untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Alecra segera bersiap dibantu oleh Bi Muna, nama perempuan paruh baya itu.
Dokter Rika membawanya ke ruang rontgen.Ia meminta Alecra untuk duduk dengan tenang. Setelah beberapa saat pemeriksaan yang cukup panjang,Dokter Rika mempersilahkan Alecra untuk kembali dan memintanya untuk menunggu hasil dari pemeriksaannya keluar.
Alih-alih kembali ke ruang rawat,Bi Muna membawa Alecra ke taman rumah sakit yang saat itu sedang penuh dengan pasien-pasien yang lain.Ada yang menggunakan kursi roda seperti Alecra,ada yang menggunakan tongkat untuk membantu berjalan,dan kebanyakan adalah anak-anak dengan jarum infus yang menempel di tangannya.
Bi Muna berjongkok di samping kursi roda,"Dokter Rika bilang,kepala Non terbentur sangat keras saat Non kecelakaan.Kemungkinan kata dokter Non mengalami cedera kepala yang serius,"dia menghela nafas sebentar,"Bibi tahu Non kuat dan pasti akan cepat sembuh.Hanya saja,Mama Non belum bisa pulang untuk menemani Non."
Alecra bergeming mendengar Bi Muna. "Tapi Mama Non bilang, dia bakal segera mengurus keperluan di Jerman agar bisa cepat pulang. "
"Bi," panggil Alecra.
"Katanya aku kecelakaan seminggu yang lalu?," Tanya Alecra.
"Iya,Non. Kecelakaannya seminggu yang lalu. " Jawab Bi Muna.
Alecra berusaha mengingat momen kecelakaannya itu. Tapi entah kenapa tidak ada satu pun hal dari peristiwa itu yang dia ingat.
"Kenapa bisa, Bi?." Kali ini Alecra menatap Bi Muna yang duduk didepannya.
"Kata polisi,mobil Non tiba-tiba oleng ke kanan dan nabrak pembatas jalan. Terus mobil Non sempet muter-muter beberapa kali. Polisi awalnya curiga kalo Non 'make' tapi pas tes narkoba pake rambut Non gaada kandungan narkoba atau alkohol. Jadi ini murni karena kesalahan Non." Jelas Bi Muna.
Jelas ini hanya kesalahan dari Alecra. Dia tak pernah sekalipun meminum alkohol atau menggunakan narkoba sepanjang hidupnya. Meski hidupnya tidak terlalu bahagia, Alecra suka menahan rasa sakit yang ia rasakan dan menekannya hingga lupa. Itu jadi semacam... Obsesi.
YOU ARE READING
Memories of Alecra
FantasySuatu hari, Alecra tiba-tiba terbangun dalam tidurnya dan mendapati dirinya di ranjang rumah sakit. Kepalanya diperban dan di tangan kirinya terdapat jarum infus. Seorang dokter memberitahunya jika dirinya mengalami amnesia. Ia lupa dengan kehidupan...
