01.

23 2 0
                                        

Hari ini adalah hari pertamaku memasuki sekolah. Status sebagai murid baru dari salah satu sekolah tingkat akhir yang berada di ibu kota.

Aku baru saja turun dari mobil, dan berpamitan pada ayah.

Niat hati ingin berbalik, lalu melangkah masuk menuju gerbang, aku malah tersentak ketika beberapa motor datang dari arah belakang. Cukup banyak, dan salah satunya hampir menyerempetku.

"Astaga!" Langkah menghindarku yang mundur, malah membuatku menabrak seseorang. "Maaf!" Aku membungkukkan badan setelah menjauh dari seseorang yang menahan tubuhku.

"Bukan masalah." Orang tersebut mengulas senyum. Wajahnya manis sekali, kulitnya putih seperti salju. Aku melirik ke arah name tag yang ada di bajunya.

Sunghoon Park.

"Terima kasih."

Dia kembali tersenyum, dan menganggukkan kepalanya. Jujur, wajahnya nampak tak membosankan untuk ditatapi, namun atensiku langsung beralih pada suara berisik yang datang dari arah parkiran.

Anak-anak bermotor itu menganggu sekali.

Aku pun berjalan agak cepat untuk menegur mereka, terutama satu pemuda berjaket hitam yang tadi hampir menabrakku.

"Kalian bisa hati-hati? Di sana banyak orang." Aku menunjuk ke arah gerbang. "Kalian bisa ngebuat orang lain celaka!" tegurku, dengan nada suara tegas yang kuharap bisa membuat mereka sadar letak kesalahannya.

"Masalah?" Tanpa merasa berdosa, pemuda yang baru membuka kaca helmnya---yang hanya masih menampilkan matanya itu menjawab, "Lo berlebihan banget!"

Aku mengepalkan tangan. Dia menyebalkan sekali, malah melengos pergi begitu saja. Hingga satu tarikan tanganku di ujung belakang jaketnya membuat dia kembali berbalik. "Dasar kurang ajar. Lo nggak dapet didikan buat berlaku sopan, ya?" ujarku ketika tensi amarahku sudah berada di ubun-ubun.

"Jaga mulut lo!" Dia menepis tanganku, lantas membuka helmnya. Wajahnya agak menyeramkan. Sebenarnya dia tampan, hanya saja sorot mata itu tak kusukai. Sangat tidak bersahabat.

Dia menatapku intens, rahang lancipnya mengeras. Aku tidak mau kalah, dan membalas tatapan itu.

Tapi, setelah beberapa lama, aku menjadi ingat sesuatu. Wajah dan tatapan itu familier bagiku. Merasa pernah melihatnya, tapi di mana? Aku pun memilih menunduk. Karena jujur, lama kelamaan aku malah menjadi takut sendiri.

"Kenapa? Lo nyesel udah berurusan sama gue?"

Aku mendongak tatkala pemuda itu berucap demikian. Bahkan seringai yang dia tampilkan semakin mengingatkanku pada seseorang.

"Jay, ayo masuk!" ucap seseorang dari salah satu teman si anak menyebalkan ini.

Aku masih mematung, mencoba mengingat sesuatu. Sementara, entah sejak kapan si Jay itu sudah berlalu pergi.

Jay?

Aku pernah mendengar nama itu?

"Lo nggak papa, kan?" Tiba-tiba lamunanku buyar ketika seseorang menepuk bahuku.

Itu Sunghoon.

"Udahlah, jangan peduliin mereka. Jay sama temen-temennya emang tergabung di klub motor yang sering ngeganggu," sambungnya yang semakin memberi clue tentang di mana aku pernah melihat pemuda itu.

"Ah!" Aku menjentikkan jari. Aku ingat sekarang. "Jay pasti salah satu anak yang terlibat dalam kekacauan yang terjadi di taman kota pas tahun baru. Pemuda-pemuda yang ngelemparin petasan ke kerumunan orang malam itu."

"Ya, mereka emang sering meresahkan."

"Jay, ayo pergi! Polisi bakal datang ke sini."

Suara itu terngiang kembali. Bahkan seringai dan tatapan dari pemuda tidak tahu diri itu terlintas di kepalaku.

Malam itu aku mengaduh kesakitan, dan dia malah terlihat puas ketika melihat orang-orang ketakutan.

Dunia terasa sempit. Kenapa aku harus satu sekolah dengan seseorang yang mengacaukan acara tahun baruku? Bayangkan saja, bekas luka dari cipratan petasan itu masih membekas.

Seketika, aku melirik pergelangan tanganku.[]

2020Stories to obsess over. Discover now