Penyesalan memang datang di akhir, banyak orang yang bersedih saat sosok ceria itu pergi. Air mata terus mengalir dan isak tangis sang ibunda masih terdengar hingga larut malam, kehilangan sosok yang selama ini ia rawat, ia jaga dan ia didik dengan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
~Renza~ Sosok yang akan menjadi yang paling dirindukan.
Pagi yang cerah. Renza berjalan sendirian kesekolahnya, senyuman terukir dia wajah Renza saat melihat langit cerah pagi itu, langit biru berhiaskan gumalan-gumpalan awan yang lucu. Tak lupa juga ia menyapa tetangganya yang sudah mulai beraktifitas di luar rumah pagi ini, namun lelaki itu tidak menyapa dengan suara melainkan hanya dengan anggukan hormat.
"selamat pagi bibi!!"
Tapi beda lagi ceritanya kalau Renza sudah bertemu wanita itu. Biasanya Renza akan menyapa wanita baik hati itu dengan senyuman manis dan melambaikan tangannya, Renza sangat senang jika sudah bertemu dengan wanita cantik, terutama saat pagi hari begini sudah pasti ia akan menawarkan makanan yang di buatnya untuk anak-anak di panti asuhan itu kepada Renza.
"sini Ren sarapan dulu" ucap wanita paruh baya yang kini mengeluarkan sedikit badannya dari jendela seraya mengangkat sebuah mangkuk yang berisi makan kepada Renza, sepertinya menu sarapan mereka pagi ini adalah sup. Namun tawaran wanita itu di tolak oleh Renza dengan lembut.
"ga usah bi. Tadi Renza udah sarapan" ucap Renza, dijawab dengan anggukan oleh wanita itu sebelum akhirnya Renza kembali melangkah menuju sekolahnya.
"hai Renza" baru saja Renza membuka pintu kelasnya, ia sudah di sapa dan di sambut dengan baik oleh temannya Selia. Lagi-lagi Renza hanya membalasnya dengan anggukan hormat dan lambaian tangannya, kemudian gadis itu berlalu begitu saja bersama temannya Karina. Mereka berselisih di pintu kelas.
Pandangan Renza seketika beralih ke arah sudut ruangan, dimana disana ada 3 murid yang duduk di lantai dan sibuk dengan ponsel mereka masing-masing. Renza terkekeh dan segera meletakkan tasnya, tangannya dengan cepat mengambil ponselnya yang ia simpan di saku celananya.
"ikut dong..." ucapnya, Renza ikutan duduk di lantai dan memerhatikan layar ponsel setiap murid yang duduk di sana. Renza ingin ikut bermain game bersama teman-temannya sebelum bel masuk berbunyi.
"ntar dulu bro gua lagi di serang nih" ujar salah satu lelaki yang kini tampak sangat fokus dengan permainannya. Renza yang mendengar itu lantas cemberut, ia menghidupkan ponselnya dan mulai sibuk dengan ponselnya sendiri.
"mau main bang?" tanya seseorang yang tiba-tiba saja muncul dari balik tubuh Renza. Renza terpenjat saat mendapati Satria di belakangnya, lelaki itu nyaris terjatuh saking terkejutnya membuat ketiga temannya yang lain tertawa sedangkan sang pelaku hanya tersenyum, senyuman jahat.
"hobi banget ngagetin orang lo" ucap juna saat melihat Renza yang kini mengelus dada karna tingkah Satria.
"ketularan Bastian pastinya" Janu ikut bersuara membuat suasana semakin ramai karna suara tawa kelima lelaki di sudut kelas itu. Renza si korban malah ikut tertawa saat Janu menyabut nama Bastian.
"ih!! bisa diam ga sih?!" bukan hanya Renza namun kini keempat temannya yang lain juga ikut terkejut mendenngar suara lantang itu.
"nyantai kali neng" jawab Janu kepada gadis yang tadi meneriaki mereka, keempat lelaki lainnya dengan cepat mengikuti arah pandang Janu dan memandang gadis itu dengan tatapan panuh tanda tanya. Tidak seperti biasanya ketua kelas mereka seperti ini.
"gua lagi ngerjain tugas" jelasnya, sejujurnya Yesha tak sanggup bila harus bertatapan dengan kelima lelaki tampan itu. Dengan cepat Yesha memalingkan wajahnya karna malu.
Hansa mengerutkan keningnya saat Yesha tiba-tiba memalingkan wajahnya. "siapa suruh libur pas kelasnya bu Lisa?" ejek Hansa yang tidak suka dengan sikap Yesha yang tiba-tiba meneriaki mereka. Lagi-lagi mereka tertawa, menertawai Yesha yang kini hanya terdiam setelah Hansa bersuara. Sedangkan Hansa hanya tersenyum.
"tapi Yesha libur karna ada urusan penting"
Tiba-tiba seseorang masuk kedalam kelas dengan gaya nya yang sombong, kedua tangannya ia lipat di depan dada dan tatapanya sangat meremehkan ke lima lelaki yang kini duduk dilantai. lelaki itu mendecak dan meludahi salah satu kursi yang ada di dekatnya. Kursi Janu.
Janu masih terdiam melihat tingkah aneh lelaki itu, sabar Janu kata Juna ga boleh bikin masalah batinnya. Juna yang mulai khawatir langsung meremas lengan baju kembarannya, takut Janu bertindak berlebihan dan membuat mereka semua terjerat masalah. Tapi sepertinya amarah Janu tak tertahan lagi saat lelaki asing itu menendang kursi yang di jadikan oleh Renza sebagai sandarannya.
Janu langsung bangkit dari duduknya, tidak peduli lagi dengan Juna yang masih terduduk di sebelahnya dan terus menerus menarik lengan baju Janu. Hansa mulai khawatir saat melihat Renza yang meringis kesakitan sembari memegangi punggungnya yang sakit akibat di hantam kursi, hingga mereka berdua tak sadar bahwa Satria dan Juna kini sedang kesulitan menahan tubuh besar Janu yang hendak menyerang musuh nya. Harez.
Satu pukulan mendarat di rahang Janu, kali ini Janu benar-benar membara. Dengan mudah Janu menyingkirkan Satria dan Juna yang dari tadi menahan tubuhnya, hanya denngan satu pukulan Janu berhasil membuat Harez terjatuh. Hansa yang menyaksikan itu mala bertepuk tangan hal itu lantas membuat Janu semakin bangga dengan perbuaaatannya barusan.
Tidak berhenti sampai di sana. Harez kembali bangkit dan meremas kerah baju Janu, lelaki itu mendorong tubuh Janu dan menghantam tubuhnya ke loker. Janu lantas meringis kesakitan, Juna yang menyaksikan itu semakin panik dan khawatir dengan keadaan kembarannya. Janu.
Mata Hansa membulat saat tangan Harez yang sudah terkepal sejak tadi mulai terangkat, siap untuk meninju wajah tampan Janu. Hansa segera berlari hendak menahan tangan Harez agar tak menyentuh wajah temannya. Namun Hansa terlambat, Renza sudah berlari lebih dulu dan berdiri di depan Harez, lelaki itu membentangkan tangannya seakan membuat tembok pelindung bagi Janu dengan tubuhnya sendiri.
BRAK!!!
Semuanya terdiam, Renza yang mengorbankan dirinya untuk Janu kini terduduk di lantai. Lagi-lagi ia meringis kesakitan karna ulah Harez. Hansa, Satria, dan Juna terkejut saat menyaksikan tubuh Renza yang rubuh setelah Harez melayangkan satu pukulan padanya.
Pukulan itu benar-benar keras. Tubuh Renza terlempar dan bibirnya menghantam kursi. Sakit, namun Renza berusaha untuk tetap menahan rasa sakitnya, Lagi pula ini tak sebanding dengan kecelakaannya beberapa tahun lalu.
Janu segera membantu Renza untuk berdiri, tubuh Renza bergetar karna takut.
"RENZA!"
Selia yang baru saja kembali ke kalas terkejut bukan main saat melihat pemandangan mengerikan itu.
"Ren! bibir lo!" Karina yang berdiri di belakang Selia sejak mereka tiba tadi ikut bersuara dan membuat suasana menjadi panik saat darah mulai mengalir dari mulut Renza. Selia segera membawa lelaki itu ke ruang UKS sedangkan Karina dan yang lain masih sibuk dengan pertengkaran Harez dan Janu.
"Ren? kamu gapapa?" suara lembut itu berhasil merebut fokus Renza yang sedang melihat luka di bibirnya. Renza berbalik badan, manatap iris gelap milik gadis itu lalu tersenyum, lelaki itu hanya menjawabnya dengan anggukan.
"ayo ke kelas" ajak Renza di balas dengan anggukan oleh Selia. Finalnya mereka kembali kekelas namun sepertinya mereka sudah di tunggu oleh beberapa orang guru di sana, termasuk bu Lisa. Guru yang paling di takuti.
halo^^
gimana bagus ga? anw saya pemula jadi maaf ya kalau ga sesuai ekspetasi. dan maaf kalau ada typo :(