Eleena Najma dikenal sebagai gadis yang hidup tanpa batas-liar, keras kepala, dan selalu menolak nasihat orang tuanya. Dunia malam dan kebebasan adalah caranya melupakan luka yang tak pernah ia ceritakan.
Namun segalanya berubah ketika kedua orang t...
Author kembali dengan membawakan cerita baru, dengan genre religi romantis.
Tolong dukung karya baru author ya! Aku sayang kalian semua🤍
▭▬▭▬▭▬▭▬▭▬▭▬▭▬▭▬
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
"Aku sangat liar untuk menjadi istri yang baik, namun orang tuaku percaya, seorang santri dapat menuntunku pulang."
⸻
"Kamu mau hancur sampai kapan?"
Kalimat itu meluncur perlahan, namun rasanya menghantam Eleena lebih keras dari bentakan mana pun. Eleena mendongak, menatap Ayahnya dengan tatapan yang bercampur amarah dan kelelahan. Dadanya naik turun, seolah setiap kata yang keluar dari mulut ayahnya adalah rantai yang semakin erat mengikat lehernya.
"Kata-kata yang indah, Ayah. Padahal kalian cuma takut nama baik keluarga kotor karena aku."
Sang Ayah menatapnya dengan mata lelah — bukan marah, bukan kecewa, melainkan khawatir. Jenis kekhawatiran yang hanya dimiliki orang tua yang sudah terlalu sering terbangun di malam hari karena memikirkan anaknya. Pundaknya tampak lebih turun dari biasanya, seolah beban seorang anak perempuan yang tersesat adalah beban paling berat yang pernah ia pikul.
Ayahnya teringat satu ayat yang sering ia baca diam-diam, berharap dengan mengingatnya, ia akan menemukan kekuatan untuk mengambil keputusan yang paling tepat:
"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." — (QS. At-Tahrim: 6)
Menjaga anak tidak selalu berarti memanjakan. Kadang berarti mengambil keputusan yang menyakitkan — demi harapan yang lebih panjang. Dan keputusan ini, bagi Ayah, adalah keputusan paling menyakitkan yang pernah harus ia ambil untuk anak perempuannya sendiri.