1. Tertangkap Basah

55 18 19
                                        

Aku menghentikan aktifitasku tatkala mendengar suara ibu yang tengah terkejut. Aku bangkit, dengan tubuh yang gemetar. Ibu mendekat ke arahku. Wajahku semakin pucat. Tangan dinginku ia tarik paksa, aku berusaha melepas cengkraman itu. Usahaku tak membuahkan hasil. Ibu mencengkramku dengan kuat.  Aku menjatuhkan diri, agar ibu berhenti menarik tangannku, tapi ibu terus menyeretku tanpa ampun. Aku pun pasrah, karena aku tak mau lagi membuat ibu menarikku dengan kasar.

Setelah kakak laki-lakiku menghubungi seseorang melalui ponsel, lenganku kembali ditarik oleh ibuku. Kali ini, tarikannya tak sekasar tadi. Aku tak memberontak. Aku tak tahu ibu akan membawaku kemana. Kakak laki-lakiku dan juga ayahku mengikutiku dari belakang. Masih dengan menggunakan kaos oversize dan celana selutut aku berjalan dalam gandengan ibu. Tanganku yang berkeringat masih ibu pegang hingga mulut pintu rumah.

Beberapa orang berada di halaman rumahku. Aku menatap mereka, heran. Tatapan-tatapan orang mengarah kearahku. Aku benci ditatap seperti itu. Kemarahanku mulai tersulut. Bisikan-bisikan mulai terdengar. Mereka menatapku dengan jijik. Aku mengingat-ingat kembali bagaimana penampilanku. Hmm, sepertinya tidak ada yang perlu ditertawakan. Mereka seolah menjaga jarak denganku. Aku bingung, mengapa mereka ada di sini.

Karena cengkraman ibu tak terlalu kuat, aku berontak. Dan, berhasil. Aku berlari ke arah mereka yang menatapku dengan jijik itu. Mereka berteriak, kaget. Beberapa orang itu, berlari menghindariku. Aku semakin membenci mereka. Aku berlari sekuat tenaga. Dan, dapat. Aku memukuli tubuh orang yang menatapku dengan jijik tadi. Aku memukuli kepalanya juga. Tak puas, aku mengigit lengannya. Orang itu melawan, tapi karena rasa amarahku yang memuncak, aku lebih kuat darinya.

Orang-orang yang berada di sekitarku berteriak meminta tolong. Mereka memanggilku dengan kasar, tak lupa mereka menyelipkan sumpah serapah saat memanggilku. Aku semakin membenci mereka. Aku mengambil batu yang berukuran sekepal tanganku. Aku melemparkannya ke arah mereka. Batu berbentuk tak beraturan itu melayang, dan mengenai kepala seorang perempuan paruh baya yang berdiri tak jauh dari pohon mangga.

About MeWhere stories live. Discover now